SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
MENGAGUMI PIHAK LAWAN


__ADS_3

Dari kejauhan terlihat sosok Pria sepuh sedang menyaksikan jalannya pertarungan tersebut.


" Haaahh... Hancurlah Kerajaan Pasir Putih ini. Bahkan dengan kekuatanku yang sekarang yang sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap menengah tidak akan mampu melawan mereka." Ucap Pria sepuh tersebut yang tidak lain adalah leluhur dari Kerajaan Pasir Putih.


Dari raut wajah Pria sepuh tersebut penuh dengan kemarahan, namun jika berhadapan dengan mereka tentu saja akan mengalami kekalahan.


Terlebih lagi ada satu sosok Pemuda yang tidak lain adalah Ryu yang sedang menyaksikan pertarungan 21 wanita tersebut.


Sosok Pria sepuh berpikir jika berhadapan dengan salah satu dari wanita tersebut, kemungkinan besar akan seimbang. Namun jika berhadapan dengan Pemuda yang sedang menonton, tentu saja harus berpikir dua kali.


Pria sepuh memang tidak bisa mengukur tingkat Kultivasi mereka, namun karena pengalamannya yang sudah berusia ratusan tahun, tentu saja dia sedikit banyak memahami tentang dunia Kultivator.


Di sisi lain, Ryu sudah mengetahui keberadaan Pria sepuh itu. Namun dia hanya menunggu pergerakan dari sosok yang bersembunyi itu, karena dia berpikir bahwa sosok itu tidak akan mampu menahan amarahnya saat menyaksikan keturunannya dibunuh di depan matanya.


" Haaahh... Sampai kapan kamu menyaksikan keturunanmu dibunuh." Ryu bergumam sambil menyaksikan jalannya pertarungan Istrinya.


Sejenak Ryu berpikir ingin melakukan sesuatu kepada sosok yang sedang bersembunyi tersebut.


" Wuush." Ryu menghilang dari tempat tersebut sambil mengaktifkan Armor Pelangi lalu menggunakan Langkah Hantu Harimau Petir ke arah Pria sepuh tersebut.


" Kemana Pemuda itu?" Pria sepuh bergumam melihat Ryu sudah tidak ada di tempat.


" Senior.... Sepertinya pertarungan mereka sangat seru." Ryu tiba-tiba muncul dari arah belakang Pria sepuh.


" Benar Junior... Kekuatan para wanita itu sangat mengerikan." Pria sepuh menjawab tanpa menoleh ke arah sumber suara.


" Senior... Bagaimana kalau kita taruhan. Aku akan memasang taruhan kepada para wanita itu." Ryu bicara dengan santai sambil menggelengkan kepala karena Pria sepuh tersebut terlalu asyik melihat jalannya pertarungan.


" Apa kamu ingin menguras hartaku?" Pria sepuh membalikkan badan menoleh ke arah Ryu melepaskan Aura Pembunuh yang sangat pekat.


" Deeeg." Jantung Pria sepuh seakan terhenti saat melihat sosok yang di depannya sekarang adalah orang yang sama dengan sosok yang dia lihat sebelumnya.


" Ada apa Senior? Kenapa kamu seperti orang ketakutan? Apa kamu sedang melihat Hantu?" Ryu menoleh ke sisi kiri dan kanan seakan mencari sesuatu.


" Ah... Tidak Tuan Pendekar... Aku hanya kelepasan." Pria sepuh berkeringat dingin menarik kembali Aura Pembunuhnya.


' Seberapa besar kekuatan Pemuda ini? Kenapa Aura Pembunuh yang aku lepaskan seakan tidak berfungsi.' Pria sepuh membatin melihat ke arah Ryu yang masih terlihat santai.


" Senior... Bagaimana dengan taruhan kita? Apa bisa dilanjutkan? Atau kita bertaruh dengan Aura?" Ryu melepaskan Aura Dewa Agung.


" Gluug." Pria sepuh menelan ludah merasakan tubuhnya seperti ditimpa beban yang sangat berat meskipun tidak terlalu memberi efek.

__ADS_1


" Apa Senior tau kenapa Kura-kura bisa berumur panjang?" Ryu bertanya kepada Pria sepuh tersebut.


Tanpa menjawab apapun Pria sepuh hanya menggelengkan kepala karena otaknya seakan tidak berfungsi karena rasa takut.


" Senior tau kenapa? Karena Kura-kura itu tidak pernah bertindak gegabah dalam keadaan apapun. Ketika berada di dalam bahaya, Kura-kura lebih memilih untuk bersembunyi di balik tempurungnya." Ryu menatap ke arah Pria sepuh.


Mendengar ucapan tersebut yang tertuju pada dirinya, tentu saja membuat Pria sepuh terprovokasi menatap tajam ke arah Ryu.


" Junior sepertinya sangat paham kenapa aku bisa berumur panjang. Itu karena aku tidak pernah mencampuri urusan orang lain. Tapi sekarang Kura-kura tua ini harus memberi muka kepada orang yang membantai keturunannya." Pria sepuh kembali melepaskan Aura Pembunuh langsung menyerang dengan sebuah pukulan ke arah Ryu.


Ryu yang sudah bersikap waspada, kini langsung menyambut pukulan tersebut dengan menangkap lengan Pria sepuh.


" Aku salut denganmu Senior... Sayangnya kita berdiri pada posisi yang berlawanan." Ryu berkata dengan jujur sangat menghormati Pria sepuh tersebut meskipun mereka harus bertarung.


" Sepertinya Junior memberi muka kepada Kura-kura tua ini. Aku tau ini semua karena kecerobohan keturunanku, tapi sayangnya aku tidak akan membiarkan orang itu menghancurkan Kerajaan Pasir Putih yang selama ini aku lindungi." Pria sepuh sambil melancarkan serangannya.


" Tenang saja Senior... Anggap saja kita bertarung secara terhormat. Jadi jangan kecewakan aku." Ryu juga membalas serangan dari pria sepuh.


" Junior juga harus berhati-hati. Karena aku memiliki teknik yang tidak bisa orang memiliki." Pria sepuh membentuk dua sosok patung dari kumpulan tanah hingga mengeras.


" Teknik yang sangat unik." Ryu menaikkan alis saat melihat kedua patung berbentuk manusia raksasa memukul mundur dirinya.


" Hati-hati Junior! Kedua patung ini memiliki insting bertarung tersendiri." Pria sepuh mengingatkan kepada Ryu tentang teknik yang dia pakai.


" Bboooom." Ledakan yang sangat kuat membuat tanah bergetar membentuk kepulan debu.


" Wuush." Kedua patung keluar dari kepulan debu bergerak liar menyerang ke arah Ryu.


" Bagaimana Junior? Apa kamu menyukainya?" Pria sepuh tertawa terkekeh saat melihat Ryu kewalahan menghadapi kedua patung ciptaannya.


" Aku sangat menyukainya Senior." Ryu semakin bersemangat untuk menjajal kemampuannya.


Mendengar ucapan tersebut Pria sepuh langsung melompat ke arah Ryu ikut menyerang Ryu dengan kekuatan penuh.


Pertemuan serangan antara tiga lawan satu semakin ganas, membuat beberapa pepohonan bertumbangan hingga tercipta tanah tandus.


Ledakan demi ledakan kini menyebar ke berbagai arah semakin menambah keganasan serangan dari kedua belah pihak.


Pria sepuh yang mendapatkan bantuan dari kedua patung yang dia ciptakan, kini merasa berada di atas angin berharap agar lebih cepat mengalahkan Ryu.


Di sisi Ryu sendiri kini terus menahan serangan pihak lawan dari tiga arah karena kedua patung tersebut seakan tidak mau kalah dari tuannya.

__ADS_1


Di sela pertarungan mereka, sesekali Ryu menjatuhkan Hujan Petir membuat kedua patung jatuh tersungkur.


Namun dalam hitungan detik kedua patung itu kembali bangkit menyerang ke arah Ryu lebih ganas lagi.


Hal itu terus berulang-ulang hingga Ryu mulai kewalahan karena sudah banyak mengeluarkan tenaga.


Di sisi lain Pria sepuh begitu mengagumi sosok yang dia lawan tersebut, karena Ryu masih mampu bertahan dari teknik yang dia lancarkan dengan bantuan kedua patung ciptaannya.


" Tidak menyangka, Junior masih mampu bertahan dari serangan gabungan ku. Tapi asal Junior tau, bahwa kedua patung ini tidak pernah kelelahan." Pria sepuh semakin bersemangat untuk menjajal kemampuan lawannya.


Tenang saja Senior... Jika aku mau, kedua patung ini sudah hancur dari tadi." Ryu terus membalas serangan dari pihak lawan.


" Kalau kamu mampu, lakukan saja!" Pria sepuh ingin melihat teknik apa yang dilakukan oleh Ryu.


" Baik." Ryu melompat ke belakang sambil mengeluarkan Pedang Naga Petir.


" Pedang macam apa itu?" Pria sepuh membulatkan mata tertuju pada Pedang yang ada di tangan Ryu yang sangat besar.


" Sekarang bersiaplah Senior." Ryu langsung menggunakan langkah Hantu Harimau Petir mengarah kepada kedua patung tersebut.


" Craaash... Craaash." Kedua patung tersebut terpotong menjadi dua bagian hingga tidak mampu lagi untuk bangkit.


" Apa?" Pria sepuh membulatkan mata merasakan kengerian dari Pedang yang ada di tangan Ryu.


Sekilas terlihat sebuah bayangan hitam mengarah kepada Pria sepuh.


Pria sepuh yang melihat bayangan tersebut langsung menciptakan sebuah pelindung mengelilingi tubuhnya.


" Bboooom." Pria sepuh terpental puluhan meter hingga menabrak pepohonan.


" Uhuuk." Pria sepuh memuntahkan segumpal darah.


" Tap... Tap... Tap.." Ryu berjalan mendekati Pria sepuh.


" Bagaimana Senior?" Ryu menatap ke arah pria sepuh.


" Tidak menyesal jika aku mati di tangan orang yang memiliki kekuatan yang besar." Pria sepuh tersenyum puas sambil mengeluarkan sebuah pedang.


" Craaash." Pria sepuh menusuk jantungnya sendiri hingga terlihat sebuah senyuman tanpa penyesalan dari wajah Pria sepuh tersebut.


" Aku mengagumi prinsipmu Senior." Ryu menutup mata pria sepuh lalu membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


Di pertarungan lain terlihat Sheng Zhishu dan yang lain juga sudah menyelesaikan pertarungan mereka, hingga langsung berjalan mendekati Kim Yushe dimana tangannya sudah patah oleh Ryu yang juga diikat dengan Jaring Petir.


Tanpa menunggu lama Nan Sian langsung menebas leher Kim Yushe hingga terpisah dari tubuhnya.


__ADS_2