BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
SAYA MUNDUR


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



"Dari mana kamu?" tanya Suradi pada Fitri yang baru masuk rumahnya dengan kelelahan.



"Kamu nggak mikir ya dari tadi kamu bikin semua sibuk dan cemas." Omel Erlina.



"Maaf aku nggak tahu kalau handphone-ku hilang," kata Fitri.



"Hilang bagaimana, mungkin keselip di tas mu," Erlina tak yakin ponsel Fitri hilang.



"Jadi tadi itu jam 10.00 kami libur kan karena ada istri seorang dosen yang meninggal lalu semua dosen akhirnya kan pergi. Mereka takziah ke sana."



"Teman-teman bilang kamu tiap hari bawa mobil tapi nggak pernah ngajak kita jalan. Ayo jalan," ajak teman-teman.



"Ah enggak ah, enggak mau kata aku. Aku bilang gitu ke teman-teman. Lalu mereka ngatain aku cemen. Akhirnya aku pergi,  aku bawa mobil. Aku pikir aku bisa kembali pulang seperti biasanya saat Bambang datang menjemput. Tapi ternyata kita asyik main, saat aku cari handphone-ku nggak ada di tas. Ya udahlah."



"Jadi kamu main main ke mana?"



"Ke rumah temen.”



"Di rumah temen kan ada handphone atau kamu bisa pinjam handphone temanmu untuk hubungi kami kami."



"Gimana mau menghubungi siapa pun, wong aku enggak inget nomor siapa-siapa. Kan selama ini telepon kan tinggal pencet nomor telepon di phone book."



"Kalau nggak ada ponsel setidaknya kamu jangan sampai sore kayak gini bikin orang khawatir.”



"Mana aku tahu,  udahlah udah terlanjur," kata Fitri. Lalu dia pun masuk ke kamarnya.



"Mulai besok kamu berangkat bareng ayah dan pulang naik angkutan umum atau taksi." Suradi memberitahu Fitri tentang siapa yang akan antar Fitri ke kampus mulai esok pagi.



"Lho kenapa?"


__ADS_1


"Bambang berhenti." jawab Erlina.



"Kenapa berhenti?"



"Ya dia enggak nyaman aja karena kamu sudah tak mau disopiri dia kan."



Fitri langsung menaruh tasnya dan  dia lari ke belakang.



"Mau ngapain kamu?" teriak Erlina melihat kelakuan putrinya.



"Ngomong sama Bambang lah. Enak aja dia berhenti."



"Orang kerja kan enggak bisa dipaksa," kata Erlina.



"Enggak, dia enggak boleh berhenti seenaknya seperti itu."



"Yang berbuat seenaknya kan kamu bukan dia," kata Suradi.



\*\*\*



Tanpa mengetuk pintu Fitri masuk ke kamar Bambang.



Bambang yang sedang duduk di kursi meja belajarnya langsung mengambil kaos yang ada ditempat tidurnya lalu dia kenakan. Menerima tamu tanpa pakaian tentu tidak sopan.



"Ada apa ya Mbak?" Tanya Bambang santai.



"Kamu kenapa jadi sopir bus? Kenapa berhenti jadi sopirku?"



"Saya mau coba daftar jadi asisten sopir dulu."



"Enggak bisa kamu nggak bisa berhenti."



"Saya harus berhenti karena saya ingin kerja."

__ADS_1



"Pokoknya aku bilang enggak ya enggak."



"Ya terserah Mbak, saya-nya nggak mau. Daripada Mbak enggak nyaman sama saya kan."



"Siapa bilang saya nggak nyaman?"



"Kan dari pagi Mbak sudah minta bawa mobil kan lalu siangnya kabur, berarti kan Mbak memang enggak nyaman."



"Kamu enggak bisa ngomong seperti itu, kejadiannya bukan seperti itu."



"Terserah Mbak kejadiannya seperti apa tapi yang pasti saya mundur," kata Bambang.



Fitri marah dan keluar sambil membanting pintu.



Dari jauh Suradi melihat itu. Tentu saja Suradi tak ingin anaknya ada di dalam kamar seorang bujangan lama.


\*\*\*



Besoknya jam 06.30 Fitri sudah siap dia juga sudah menyiapkan sarapan seperti biasa untuk dia bawa.



"Buat siapa sarapan itu?" tanya simbok.



"Buat akulah."



"Bambang sudah berangkat dari pagi kok."



"Berangkat ke mana? Ke sekolah kok pagi banget buat apa?" Fitri bingung.



"Entahlah sudah 10 menit lalu dia berangkat."



'Dia benar-benar marah sama aku gara-gara kemarin,' kata Fitri.



Hari ini Fitri terpaksa sarapan di rumah dan diantar ke kampus oleh ayahnya.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok



__ADS_2