
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Besok paginya Fitri mengantarkan baju ganti dan sarapan untuk Bambang. Suaminya terlihat pucat dan lesu.
"Kenapa Mas?" tanya Fitri cemas.
"Ayah tadi malam drop aku mau telepon kalian takut, tapi enggak telepon juga serba salah. Aku cuma pikir diemin dulu sampai nunggu kondisi stabil. Aku takut Ayah nyiapin pernikahan karena mau \*TINDAK \*( meninggal, kata ganti dalam bahasa jawa halus )," kata Bambang dengan wajah pucat pasi.
"Ya seharusnya kasih tahu lah Mas." Protes Fitri.
"Enggak gitu, aku kalang kabut Dek, bukan apa-apa aku jadi blank," Bambang sekarang mulai memanggil DEK pada Fitri karena dia dipanggil Mas.
"Aku blank Dek, maafin Mas ya. Mau memanggil kalian takutnya tengah malam malah pada panik, enggak manggil juga aku bingung gitu. Tapi untung sih sekarang sudah mulai stabil cuma belum sadar."
"Ini bukan tidur? Tapi belum sadar?"
"Iya Dek, belum sadar."
"Lalu bagaimana soal kerjaan Mas? Mas sudah berapa hari enggak kerja kan?"
__ADS_1
"Enggak apa apa soal kerjaanku. Kamu tenang aja. Yang penting nanti pekerjaanmu gimana?"
"Semoga aja sebelum aku harus masuk kerja ayah sudah kondur ( pulang )."
"Kalau sudah kerja bagaimana Jogja ~ Solo tiap hari?"
"Ya pulang pergi. Aku taruh mobil di stasiun Solo Balapan. Aku butuh pekerjaan buat pengalaman kerja."
"Kecuali Mas sudah kerja di Jogja, aku ya bisa matur ayah dan ibu akan ikut pindah Jogja," ujar Fitri.
"Daripada kamu cape yaudah kita pindah Jogja aja. Nanti Mas atur agar bisa dapat jatah bus Jogja, entah trayek mana." Bambang memberi kemudahan bagi istrinya untuk bekerja di Jogja.
"Ini sarapannya Mas." Fitri memberikan piring nasi yang sudah dia siapkan dengan nasi dan lauk dari rumah.
"Habis maem, Mas bobo dulu ya." Bambang pamit. Sekarang matanya sudah sangat berat tapi dia juga lapar, sehingga dia makan dulu.
"Enggak apa-apa nanti aku jaga ayah sambil nunggu ibu datang bawa makan siang dan kopi."
"Kopi sachet masih ada kayaknya. Waktu itu kan kamu beli banyak.”
__ADS_1
"Ya udah nggak apa apa. Aku akan bilang sama ibu kondisi ayah semalam dulu," Fitri menghubungi ibunya.
Erlina tentu kaget mendengar kabar bahwa suaminya tadi malam anfal.
"Mbok, bekal makannya lebih cepat ya. Karena aku mau berangkat ke rumah sakit segera."
'*Apa ini ya yang membuat Mas Suradi mempersiapkan pernikahan dadakannya Fitri*?' batin Erlina.
"*Dongake* ( doa kan ) Bapak to Mbok. Semalam bapak kritis. Kemarin Bapak minta Fitri segera nikah. Apa karena sudah punya feeling mau tindak yo Mbok."
Erlina memberitahu Mbok Darmi kondisi Pak Suradi dia minta semua mendoakan Pak Suradi. Erlina juga memberitahu kalau Pak Suryadi sudah menikahkan Fitri karena dia merasa makin buruk.
"Jadi Mbak Fitri sudah nikah?"
"Sudah kemarin, saat ini kondisi bapak kritis. Mohon doanya," kata Erlina pada Mbok Darmi.
"Injih Bu, nanti saya sampaikan ke rekan-rekan yang lain juga ke orang kost agar bisa membantu mendoakan Pak Suradi."
Di rumah sakit, Bambang terlelap di sofa panjang ruangan itu. Berbantal paha istrinya. Fitri mengusap kepala Bambang agar suaminya lelap. Padahal tanpa perlakuan itu pun Bambang lelap karena terlalu lelah juga tercekam dengan kejadian semalam.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok
__ADS_1