
Sejujurnya Yanto menjadi dilema sendiri. Mau segera berangkat karena ingin tahu bagaimana kondisi istrinya, di satu sisi dia malas berangkat karena malas menerima perlakuan dari Fitri.
“Kamu belum ke sini?” tanya Suradi.
“Biar para ibu pulang sudah jam 10.00,” ucap Suradi menghubungi Yanto.
“Iya sebentar lagi,” kata Yanto.
Yanto pun meminta gelas yang ada tutupnya untuk dia bikin kopi di sana. Tadi dia sudah membeli banyak kopi sachet untuk dia minum di rumah sakit.
Yanto sengaja datang malam saat Fitri sudah tidur. Dia benar-benar tak ingin melukai Fitri. Bukan tak ingin bertemu dengan istrinya itu.
Yanto sudah memantapkan hati akan meluluskan apa pun permintaan Fitri. Dia tak ingin mempersulit. Dia tak akan minta Fitri mempertahankan rumah tangga mereka.
Yanto meletakkan travel bag berisi semua kebutuhan dia dan Fitri. Dia keluarkan cangkir kopi juga sandal jepit untuknya dan Fitri. Dia juga mengeluarkan berbagai merk kopi sachet yang tadi asal saja dia beli saat menuju rumah kota.
Yanto langsung membuat kopi untuk dirinya malam ini, lalu dia pandangi wajah Fitri lekat-lekat. Wajah yang sejak dia kelas 1 STM sudah menjadi bunga tidurnya.
“Andai kamu tahu betapa menderitanya aku dibanding kamu dengan adanya keributan ini. Tapi semua juga tak akan percaya, karena semua menduga akulah pelaku perselingkuhan ini.”
“Mas sakit Yank. Tapi tak akan Mas perlihatkan. Seperti kopi yang Mas minum hari ini. Pabriknya bilang hidup ini banyak rasa bukan banyak drama. Tapi yang Mas rasakan hidup ini banyak drama daripada banyak rasanya.”
“Drama tentang Yani, drama tentang Aisy dan sekarang drama tentang Tini.”
“Mas yakin kamu sudah jenuh mendampingi Mas, sehingga permintaan maaf Mas tak pernah kamu pedulikan lagi. Mas mengerti kesakitan yang kamu rasakan. Mas tak mau lagi memberi kamu rasa sakit itu. Mas akan mundur Yank. Mas akan membiarkan kamu bahagia walau tidak bersama Mas. Walau pasti Mas akan merasakan sakit yang teramat dalam.”
Lamat-lamat Fitri mendengar semua perkataan suaminya. sebenarnya barusan dia ingin turun ke kamar mandi untuk buang air kecil tapi mendengar perkataan Yanto itu dia jadi mengurungkan niatnya.
Yanto menyesap kopinya yang telah dingi, sedingin cinta istrinya.
Akhirnya Fitri mengalah, dia buang air kecil di diapers saja. Memang tadi Suradi sudah membelikan dia diapers agar tidak repot ketika ingin buang air kecil karena tangan kanannya diinfus sehingga sulit untuk bergerak turun dan tangan kirinya di gibs. Butuh bantuan orang lain untuk dia ke kamar mandi.
‘Ibu tolong ke sini sehabis salat subuh. Aku tidak mau Fitri jadi kesulitan karena tak mau aku urusi. Lebih baik Ibu yang urus aja,’ Yanto mengirim pesan pada Gendis. Sudah tengah malam. Yanto tak berharap Gendis langsung membacanya, apalagi membalasnya.
‘Ya,’ jawab Gendis singkat saat dia terbangun akan salat subuh. Gendis segara bersiap.
__ADS_1
“Kok kamu sudah di rumah?” tanya Erlina pada menantunya. Masih jam 06 pagi dan Yanto sudah ada di rumah.
“Iya Bu. Ibu Gendis sudah ada di rumah sakit sejak salat subuh tadi. Saya tak ingin Fitri jadi tak enak hati mau buang air atau mau apa pun. Lebih baik bu Gendis aja yang urus, jangan dengan saya,” jawab Yanto.
Suradi memperhatikan menantunya sudah sangat putus asa.
“Harusnya kamu bilang Ibu, yang wajib jaga kan Ibu,” Erlina tak enak hati pada besannya.
“Yang wajib jaga itu saya Bu. Maka saya minta tolong bu Gendis menggantikannya. Ibu ( Erlina ) tidak ada kewajiban lagi pada Fitri,” jelas Yanto. Yanto langsung mengurusi kedua putranya.
Dibantu oleh perawat Gendis membasuh tubuh Fitri juga menggantikan baju menantunya itu.
“Nah sudah segar. Ayo kita sarapan,” kata Gendis. Fitri harus dibantu untuk makan karena kedua tangannya sulit bergerak. Dengan telaten Gendis menyuapi menantunya.
“Mas Yanto enggak ke sini Bu?” tanya Fitri seakan tak taahu semalam suaminya yang menemani dia di ruang ini.
“Ke sini waktu kamu tidur, itu gelas kopinya. Itu baju-baju kamu kan dia yang bawa dari rumah desa. Dia juga bawa anak-anak ke rumah kota agar bisa mudah dia pantau. Mungkin sekarang dia sedang mengurus anak-anak kalian,” ujar Gendis.
“Kenapa bukan dia yang di sini?”
“Yanto juga sudah bilang sama ayahmu kalau nanti kamu punya suami lagi pun enggak apa-apa. Dia tetap akan memperhatikan anak-anak saja.”
“Yanto juga akan melepas bengkel, kemarin sudah bicara seperti itu pada ayahmu, tak akan tak akan mengambil sedikit pun uang bengkel karena dia masih bisa bekerja dengan tangannya. Bengkel dia serahkan kepada kamu untuk kedua anak-anak. Dia benar-benar enggak mau mengambil satu rupiah pun dari bengkel.” Fitri menangis mendengar kata-kata Ibu mertuanya itu.
“Bu bisa minta tolong ambilkan ponsel saya?” pinta Fitri setelah lama menangis.
Gendis pun mengambilkan ponsel yang diminta oleh Fitri. Semalam sudah dicas oleh Suradi sebelum dia pulang.
Dengan sedikit kesulitan Fitri menghubungi mengirim pesan pada Heru. ‘Mas tolong datang ke Rumah Sakit Prima Medika, ini kamar rawat aku.’
Heru terlonjak membaca pesan tersebut. Dia sedang berjalan dari mobil menuju ke kantor yayasan langsung hendak berangkat lagi.
“Tolong pending semua pekerjaan saya. Saya ada hal urgent di rumah sakit,” kata Heru pada Sekretaris Yayasan di ruangnnya.
“Baik Pak Heru,” jawab sekretaris yayasan.
__ADS_1
“Ceritakan kejadian sepenuhnya jangan sepotong-sepotong,” pinta Heru setiba di ruang rawat Fitro dan bertanya khabar basa basi.
Fitri pun menceritakan kejadian yang dia lihat secara langsung maupun di CCTV bengkel.
“Aku belum lihat CCTV. Saat kejadian aku langsung lari Mas. Saat itu aku enggak kenceng kok. Aku jalan standar. Tapi jujur aku melamun sehingga aku ketabrak mobil kijang yang jalan dari arah berlawanan. Aku terlempar ke kiri sehingga lukaku lebih banyak ada di kiri.”
“Tapi Kijang tersebut memang sedang dalam kecepatan tinggi sehingga memang kijang yang salah kalau dilihat dari CCTV jalan raya.”
“Tini mau ngapain ke bengkel?” tanya Heru.
“Jadi waktu itu Mas Yanto suamiku, kalau teman biasa sebut dia Bambang, mau beli motor. Ternyata motornya adalah milik adik sepupunya Tini. Begitu disapa oleh Tini Mas Yanto langsung teriak : Jangan pernah dekati saya dan jangan bicara dengan saya! Mas Yanto langsung kabur dari rumah tersebut meninggalkan montirnya yang melanjutkan pemeriksaan juga transaksi.
“Rupanya Tini penasaran, dia mendapatkan alamat dari kartu nama bengkel lalu dia mendatangi Mas Yanto.”
“Di bengkel juga sudah diusir Mas. Tapi memang dia ndableg, dia malah merobos masuk ke ruang kerjanya mas Yanto.”
“Itu sudah terlalu kelewatan. Sudah diusir masih tetap menerobos masuk. Berarti memang dia merusak segalanya. Dia bisa dilaporkan atas tuduhan menerobos tempat pribadi. Kamu laporkan aja pasti pengacara kamu bisa tangani kok.”
“Berarti keputusan aku untuk memecat dia tidak salah karena memang dia bukan karakter yang bagus. Padahal selama ini aku tidak tahu bagaimana sifat kerjanya di Yayasan.”
“Walaupun nantinya dia tidak dipenjara tapi setidaknya pelaporan mu akan membuat dia jera.”
“Yang buat aku sedih bukan itu Mas,” keluh Fitri.
“Lalu apa?” kata Heru.
“Mas Yanto sudah menyerah. Dia sudah menyerahkan aku kepada Ayah. Dia bilang dia mau mundur. Dia bilang semua harta dia serahkan pada anak-anak. Dia tidak akan membawa satu rupiah pun. Dia juga bilang ada ayah silakan aja kalau aku menikah lagi. Semua itu gara-gara kasus Tini Mas. Aku benar-benar sakit dengan kejadian ini.”
“Rumah tanggaku di ujung tanduk semua karena kehadiran Tini baik di rumah adik sepupunya maupun di bengkel. Yang terparah adalah di bengkel sudah diusir dia tetap menerobos masuk.”
“Sudah kamu enggak usah berpikir panjang lebar. Langsung minta pengacaramu untuk melaporkan. Kamu jangan berpikir berat lagi. Sekarang fokuskan pikiranmu pada keutuhan rumah tangga kalian.”
“Suamimu sampai menyerahkan semua hartanya tanpa satu rupiah pun untuk dia itu adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Kalau dia mau selingkuh dia butuh modal.”
“Tak ada selingkuhan yang mau dengan orang kere. Artinya memang dia benar-benar tak ingin selingkuh kan?”
__ADS_1
“Iya Mas aku sadar itu. Begitu dia bilang semua harta diserahkan pada anak-anak, aku yakin tak ada perempuan yang mau terima dia. Jadi aku tahu dia itu tidak selingkuh.”