
Tria bersungut-sungut masuk ke kamarnya Dia sangat benci disamakan dengan Eka. Sangat benci karena dia yang tak tahu apa-apa jadi ketiban pulung membawa nama buruk untuk dirinya. Itu sebabnya dia tidak mau berkenalan dengan teman lelaki Andre.
Takutnya pandangannya sama seperti teman bang Andra tadi. Sudah mendengar rumor keburukan Eka sehingga menyamakan dia sama dengan Eka.
Atau mungkin mendengar cerita tentang Totok membuat namanya jadi hancur.
“Siapa lagi sih yang ngetuk pintu,” kata Tria kesal. Baru saja dia sengaja mengunci pintunya karena kesal dengan teman-teman bang Andra. Sekarang pintunya diketuk dengan handle pintunya di goyang-goyang mau masuk.
“Siapa?” tanya Tria. Tentu dia tak enak ini bukan rumahnya.
“Kakak,” jawab Andre yang bingung Tria mengunci pintu saat masih sore. Biasanya Tria mengunci pintu bila akan tidur saja.
“Mau apa lagi lelaki breng-sek ini?” ucap Tria. Breng-sek maksud Tria tentu bukan konotasi buruj, maksudnya hanya usil saja.
Tria pun membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
“Kamu kenapa?” tanya Andre cepat.
“Nggak kenapa-kenapa,” jawab Tria.
“Siapa yang bikin kamu nangis? Bilang Kakak!” ucap Andre keras sedikit membentak.
“Ini kelilipan kok Kak. Nggak kenapa-kenapa,” balas Tria. Dia memang sangat terpuruk bila mengingat nasibnya. Sudah tak punya orang tua, ditambah lagi dia disamakan dengan kakaknya yang mempunyai predikat buruk. Tentu saja dia tambah stres dan depresi.
“Kalau kamu nggak mau cerita, biar Kakak cari penyebabnya,” kata Andre. Dia menutup pintu dan berjalan ke dapur. Padahal tadi niatnya mau ngajak makan di luar sekalian belanja buah.
Bibi yang sedang menyiapkan makan malam menoleh pada Andre. “Barusan bang Andra minta bikinkan minum jus tapi karena bahannya nggak ada lalu Mbak Tria bikinin pakai jus yang ada di freezer. Cuma itu saja terus dia keluarin minum,” jawab bibi.
“Oke. Terima kasih Bi. Papa sama mama sudah pulang?” tanya Andre.
“Tadi bilang anak-anak suruh makan duluan karena tuan dan nyonya langsung pergi ke kondangan. Jadi tidak makan malam di rumah,” jawab bibi.
__ADS_1
“Oke siapkan makan malamnya. Kami bertiga saja ya. Jangan sama teman-teman bang Andra. Teman bang Andra siapkan saja makan malam di depan tidak di ruang makan sini,” kata Andre. Dia tak mau Satrio dan Tria, terutama Tria makan bersama teman-temannya Andra.
“Abang aku mau bicara sebentar,” kata Andre yang langsung ke ruang depan.
“Kenapa?” tanya Andra.
“Siapa yang bikin nangis Tria? Sudah kuat melawan gue?” kata Andre dengan beringas. Tentu saja ketiga kawannya Andra kaget.
“Nggak ada apa-apa kok,” kata Andra kaget.
“Jangan macam-macam ya Bang. Kalau sampai ada yang nyakitin Tria lihat saja gue yang akan habisin dia,” ancam Andre sambil meninggalkan ruang tamu.
“Sudah gua bilang kan mulut lu pada jahat. Hati adik gua terluka. Jangan harap lu akan bisa berkenalan sama Tria untuk selanjutnya,” kata Andra.
“Padahal jauh-jauh hari gua bilang, ini beda banget sama Eka. Tapi lu pada nganggap dia sama seperti Eka. Gua nggak bisa tolongin lu. Siapa pun. Lebih-lebih bodyguard-nya sudah bicara seperti itu. Lu tahu buat Andre siapa pun yang nyentuh Tria itu sama saja dia nyentuh hatinya dan nyentuh nyokap gue. Buat Andre sejak kecil Tria adalah permatanya yang harus dia jaga. Nggak boleh ada yang bisa nyakitin dia!”
__ADS_1
Andri tentu saja menyesal dia datang bareng dengan Luhut dan Binsar . Empat pemuda keturunan Medan ini bersahabat, tetapi karakter mereka sangat berbeda. Andri itu super lembut, kalau Andra itu konyol dan Binsar dan Luhut itu cepat-ceplos mereka semuanya baik karakternya. Juga tidak suka nyakitin orang. Tapi diceplas-ceplosnya Luhut dan Binsar itu yang bikin mereka sering banyak persoalan di luar.