BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
MAKIN INGIN KENAL JAUH


__ADS_3

“Kamu sudah makan?” tanya Satrio saat dia sudah bertemu Timah. Sudah jam  02.30 siang saat Timah keluar dari sekolah. Memang jam pulang sekolahnya biasanya sampai jam 04.00  sore. Hari ini hanya sampai jam 2.30 saja.


“Alhamdulillah sudah,” balas Timah menerima helm yang Satrio berikan.


“Memang jajanan di kantin ada yang bikin kenyang?”


“Aku bawa Mas. Kalau beli di kantin nanti pasti nunggu lama. Dan juga kadang ada saja kendalanya. Jadi tiap hari aku dan Mas Herry selalu bawa bekal makan le sekolah. Mas Yanto kerja juga bawa bekal makan siang.” balas Timah.


“Herry juga bawa makan?” Satrio bertanya memastikan.


“Ya. Dulu waktu awal masuk sekolah dia hanya sempat bawa roti karena tidak punya waktu buat makan siang. Ketika jam istirahat pasti selalu sibuk, sehingga dia makan roti sepotong-sepotong. Yang penting perutnya nggak kosong. Nanti di rumah baru dia makan nasi. Tapi sekarang setelah selesai masa perkenalan dia bawa nasi,” jawab Timah lagi.

__ADS_1


“Wah enak ya orang tuamu menyiapkan bekal,” Satrio iri dengan orang tua Timah.


“Tidak disiapkan. Kami menyiapkan sendiri. Tiap hari memang kami bawa jus itu Mbak Fitri yang menyiapkan, sekalian dia menyiapkan untuk Mas Yanto. Tapi kalau nasi dan lauk ibu hanya menyiapkan. Soal mengatur apa yang mau kami bawa ya harus kami atur sesuai selera sendiri.”


“Mas Yanto juga bawa nasi. Bukan karena kami pelit, tapi kesehatan memang lebih dijaga oleh Mbak Fitri. Kami tak boleh jajan sembarangan. Kami juga tetap ada uang jajan kok dari Mas Yanto dan Mbak Fitri. Tapi tidak pernah kami gunakan jajan harian. Kami simpan saja untuk sesekali jajan.”


“Lalu kamu nyiapkan bekal itu bagaimana?” tanya Satrio. Dia pasti ingin tahu.


“Enggak malu bawa bekal?”


“Kami nggak nyuri dan nggak mengemis. Kenapa harus malu?” balas Timah cepat. Dia mulai naik motor Satrio.

__ADS_1


“Kenapa mengemis kok malu?” Satrio semakin banyak bertanya. Dia jadi semakin ingin tahu pola pikir satu keluarga Timah yang menurutnya sangat berbeda dengan lingkup keluarganya.


“Kalau masih bisa berupaya kenapa harus mengemis? Bukankah tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah? Sesulit apa pun kami nggak pernah mau mengemis. Bahkan sejak ayah sakit pun ibu melarang kami berhutang, karena nanti pasti belakangannya akan repot. Jadi saat ayah sakit kami menjual semua mobil dan rumah. Sampai akhirnya kami benar-benar tak punya apa pun. Di rumah kami tidak ada yang namanya televisi, kulkas atau barang lain. Yang tersisa hanya motor Mas Yanto dan itu pun akhirnya juga dijual untuk biaya pengobatan ibu. Lalu ibu jadi buruh cuci di tetangga,” kata Timah tanpa malu.


“Mas Yanto pun tidak mau kuliah, dia memilih bekerja untuk mencari uang. Sejak STM, Mas Yanto yang menghidupi aku dan Mas Herry juga ibu. Baik biaya makan maupun obat ibu. Sejak STM dia cari uang buat kami semua,” kata Timah.


“Itulah sebabnya sejak kecil aku dan Mas Herry berupaya cari uang agar meringankan beban Mas Yanto, karena dari STM dia sudah jadi tulang punggung kami tanpa diminta ibu.”


“Sejak kecil kami kesadaran sendiri. Mas Herry bertugas membersihkan masjid dan mushola agar bisa dapat beras mingguan agar uang mas Yanto tak perlu beli beras,” lanjut Timah.


‘Ya ampun, aku nggak pernah kekurangan apa pun masih saja aku sering mengeluh bila uang yang ingin aku butuhkan tidak diberi oleh mama dan papa. Bukan aku nggak ngertiin, tapi kebutuhanku buat kegiatan memang tinggi dan mama serta papa itu banyak duitnya. Mama kalau beli perhiasan saja barang yang nggak pernah dipakai dibeli lagi. Sedang buat kegiatanku pasti mama akan pelit,’ kata Satrio dalam hatinya.

__ADS_1


Satrio jadi makin ingin mengenal keluarga Yanto serta Herry dan Timah ini begitu mendengar bagaimana ibu mereka lebih memilih menjadi buruh cuci padahal yang dia tahu tadi Timah bilang menjual mobil-mobil dan rumah berarti bukan hanya satu mobil yang mereka punya sebelumnya. Artinya sebelumnya sang ibu bukan orang susah.


__ADS_2