BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
12 MINGGU


__ADS_3

“Alhamdulillah!” begitu yang Gendis dan Erlina ucapkan ketika Yanto melaporkan bahwa sebenarnya Fitri sudah hamil anak ketiga dengan usia kehamilan 12 minggu.


“Pesan Ibu jaga kesehatan itu saja dan jangan berharap berlebihan nanti kamu kecewa, kasihan anaknya,” ujar Gendis.


“Tidak Bu kami tidak berharap tentang jenis kelamin kami hanya berharap Ibu dan anak sehat ketika lahir nanti,” jawab Fitri.


“Baguslah kalau seperti itu,” ucap Erlina. Dia bahagia Fitri tak seperti dirinya yang hanya diberi amanat seorang anak saja. Saudara Fitri yang lain meninggal.


Hari ini mereka sedang makan siang bersama seperti biasa. Hari Sabtu adalah jadwal mereka kumpul ada Tria juga Satrio dan Harry. Hanya tak ada Suradi yang sedang menghadiri acara mantan kantornya dulu.


Menu istimewa siang ini adalah tumis genjer dengan kerupuk dan belut goreng benar-benar menu sederhana yang sangat menggoda.


“Katanya Andre mau ke sini?” tanya Herry pada Satrio.


“Oh aku lupa. Tadi dia titip salam. Kak Andre akan menjemput opungnya di bandara bersama bang Andra. Opungnya tiba-tiba datang dari Medan,” jelas Satrio.


“Baiklah. Wa’alaykum salam,” jawab Harry.


“Pasti dia akan menyesal saat mengetahui menu siang ini,” kata Tria.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Harry.


“Kak Andre itu belum pernah makan kembang genjer, maka aku sering godain tapi kan kembang genjer tidak setiap saat ada di pasar, hanya pada musim awal musim hujan seperti ini baru dia ada,” ucap Tria.


“Kalau begitu besok-besok aku akan belikan kalau melihat di warung. Lalu kamu olah sendiri saja,” ucap Timah.


“Boleh kalau Ibu atau kamu Dek melihat belikan saja untuk aku masakan buat kak Andre,” kata Tria tanpa ragu. Karena dia sudah tahu cara mengolah kembang genjer ini dari Gendis dan Fitri hari ini yang masak pun dia dan Timah.


Menumis kembang genjer itu tidak asal langsung main cemplung ke bumbu karena bisa berakibat pahit. Harus direbus dulu sebentar di air mendidih dan dibuang lendirnya dicuci bersih. Baru diolah.


Itu yang diajarkan Gendis dan mereka sudah lulus hari ini langsung berhasil memasak kembang yang biasanya hanya dibuat main masak-masakan oleh anak-anak di desa atau biasanya dibuang karena dianggap gulma.


“Sebentar aku bikin fotonya dulu,” kata Harry.


“Kalian memang jahat! Giliran aku tak ada menunya sangat istimewa,” sungut Andre di telepon.


Bayangkan orang super kaya bilang menu seperti itu sangat istimewa. Padahal itu hanya menu super sederhana saja.


“Salahmu sendiri. Kamu janji mau datang, tiba-tiba dibatalkan,” jawab Harry diiringi tawa Satrio dan Herry.

__ADS_1


“Mana aku tahu. Tiba-tiba papa nyuruh aku ke bandara sama abang Andra. Ya sebagai cucu yang baik dan tidak sombong aku langsung berangkat lah,” jawab Andre.


“Ya sudah aku tunggu oleh-oleh dari opung. Kita bawa besok di sekolah,” ucap Satrio.


“Oke siap,” jawab Andre.


“Mbak Tria itu masih ada loh kembang yang belum diolah,” ucap bi Minah, pembantu baru yang ditambah Fitri sejak dia mulai hamil.


“Kalau begitu biar besok aku olah pagi-pagi saja,” usul Timah.


“Nanti dibawakan mas Herry buat makan siang kalian di sekolah. Bagaimana?” tawar Timah pada Tria.


“Setuju deh, setuju. Nanti biar aku yang bawa kerupuk dan lauknya,” ucap Tria.


“Oke kalau begitu besok aku yang bawa nasi untuk kita,” kata Harry.


“Jadi kita masing-masing bawa item yang berbeda,” lanjut Harry.


“Baik aku tidak kebagian kan karena itu makan di sekolah kalian,” kata Satrio.

__ADS_1


“Biar nanti aku bilang sama kak Andre dia suruh bawa jus markisa dari opung. Tapi kalian jangan kasih tahu mau nawa tumis genjer untuknya.”


“Oke menu besok berarti khusus buat kak Andre,” jawab Tria senang karena akhirnya kakaknya akan mencicipi tumis legendaris itu.


__ADS_2