BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
MENCARI BARANG


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



 “Apa aku balik aja ya enggak usah berangkat ke bengkel? Tapi alasanku apa enggak berangkat kerja. Pasti dia tanya. Masa aku bilang malas? Belum pernah kan aku malas berangkat kerja.”



Yanto galau sendiri mau meneruskan perjalanan ke bengkel atau tidak. Yanto tahu Fitri sangat marah padanya. Hari ini bahkan taak ada bekal makanan dan juice yang istrinya siapkan untuknya.



Saat itu ada panggilan telepon dari montirnya yang mengatakan ada orang menawar motor di bawah harga yang Yanto tetapkan.



“10 menit lagi saya sampai kok, suruh tunggu sebentar aja. Kasih dia minuman yang sudah tersedia,” kata Yanto.



Memang di bengkel disiapkan kulkas kecil untuk menaruh minuman Siapa pun boleh ambil air mineral gelas dingin atau air putih tidak dingin. Fitri yang menyiapkan semuanya jadi para tamu bisa minum gratis, kecuali minuman kotak atau minuman botol di dalam kulkas. Itu ada harganya terpampang di sana. Jadi kalau mau minum dingin bisa tapi bayar bila yang air mineral gelas saja.



Dengan alot akhirnya transaksi berjalan lancar hari itu terjual 2 unit motor dan Yanto mulai harus cari lagi bahan dagangannya. Kalau motor banyak yang datang menawarkan. Kalau mobil biasanya Yanto harus mendatangi ke lokasi yang tertera di iklan.



Di bengkel ada satu kamar untuk tempat istirahat bagi Fitri atau anak-anak bila mereka datang. Fitri memang tak pernah datang sendiri, dia selalu datang membawa anak-anak. Kamar itu bersih dan rapi serta ber AC. Hari ini Yanto hanya di dalam kamar saja, dia tidak membongkar mesin hanya mengutak-utik laptop mencari barang untuk dia beli. Yanto memang lebih suka mencari barang dengan laptop karena lebih terlihat jelas daripada di HP-nya.



“Saya pulang duluan ya,” kata Yanto.


__ADS_1


“Saya mau nyamperin orang yang jual barang.”



“Iya Pak,” jawab Pak Irsan yang kebetulan dipamiti oleh Yanto.



Yanto pun menuju alamat yang tertera di iklan.



Yanto memeriksa dengan teliti semua kelengkapan surat serta kondisi mesin. Dia harus hitung berapa besar budget yang harus dikeluarkan untuk menyervis mobil tersebut agar prima untuk dia jual kembali.



“Mas Bambang!” panggil seorang perempuan. Yanto menengok ternyata yang terlihat adalah Aisy.



“Sedang apa di sini Mas?”




“Oh kebetulan mau antar pesanan Ibu. Ini rumah adiknya ibu, yang jual mobil itu paklek ( paman ) ku,” jawab Aisy sambil tersenyum.



“Oh begitu,” kata Bambang atau Yanto. Dia langsung kembali konsentrasi penuh dengan perhitungannya agar bisa menawar dengan angka yang tepat.



“Diminum dulu Pak Bambang,” kata pemilik rumah ketika Yanto sudah selesai mengecek dan sedang tawar-menawar harga mobil tersebut.


__ADS_1


“Terima kasih Pak,” jawab Yanto. Yang mengantarkan minum adalah Aisy. Lalu Aisy duduk di sebelahnya Yanto tidak kembali ke dalam.



“Harganya terlalu tinggi kalau untuk kondisi barang seperti itu Pak,” kata Yanto.



“Nanti barang itu bukan langsung saya gunakan atau saya jual tapi saya servis dulu dan butuh biaya cukup besar. Harga jual saya tidak terjangkau oleh konsumen kalau harga Bapak tidak bisa kurang,” Yanto menawar harga jual dari si pengisi iklan.



“Mungkin harga itu bisa kalau Bapak jual pada user langsung. Tapi kalau untuk penjual seperti saya harganya tidak masuk. Jadi saya mohon maaf tidak berani menawar lebih. Nanti bila Bapak memang setuju dengan tawaran saya Bapak telepon saja nomor tadi yang saya gunakan waktu tanya alamat Bapak,” kata Bambang.



“Kalau memang jodohnya Pak Bambang saya akan hubungi.”



“Ya Pak, mari.”



“Terima kasih,” kata penjual mobil. Yanto pun pamit.



Yanto mempunyai dua ponsel yaitu ponsel usaha dan ponsel pribadi ponsel pribadi yang berisi semua foto dan video anak-anaknya tidak ada nomor konsumen atau nama konsumen di situ. Untuk konsumen atau teknisinya dia menggunakan nomor bengkel dan ponselnya memang beda.



Kalau di ponsel yang konsumen dia pakai ponsel miliknya yang lama saat awal jadi sopir bus dulu. Yang penting cuma buat berkirim pesan dan telepon. Kalau telepon pribadi untuk anak-anak tentu harus yang bagus karena selalu dia buat video anak-anaknya.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.

__ADS_1



__ADS_2