
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Lho Bu Fitri kok baru datang?” tanya seorang suster yang bertugas menerima kartu pasien.
“Tadinya Ibu urutan 2 kan?” kata suster itu lagi.
“Benar suster harusnya saya memang awalnya nomor urut 2, tapi suami saya tiba-tiba sadar setelah 32 hari koma. Sehingga saya menunggu dokter selesai memeriksa dia dulu. Ini suami saya, ayahnya anak-anak,” Fitri memberitahu suster alasan keterlambatannya.
“Baik Ibu, kita ukur dulu tensinya serta ditimbang ya. Nanti Ibu akan dapat urutan 3 lagi ya? Tiga lagi dari sekarang,” kata suster.
“Ibu harus menunggu urutan terakhir ya,” suster menerangkan dengan lembut.
“Saya mengerti Suster. Tidak apa-apa,” kata Fitri. Tentu Fitri sadar memang kesalahannya sehingga dia mendapat nomor paling akhir. Itu pun Fitri masih mengucap syukur alhamdulillah karena dokter belum selesai praktek, sehingga dia masih bisa kontrol hari ini.
“Enggak apa apa ya Mas. Tunggu ya?” kata Fitri pada Yanto yang tak pernah memalingkan tatapan matanya dari sosok istri tercintanya. Yanto seakan tak percaya melihat semua ini. Dia yang bersama Fitri lagi, ditambah dengan berita kehamilan istrinya.
Yanto hanya mengangguk lemah. Yanto sejak tadi hanya mengamati wajah istrinya. Dia pun selalu menggenggam tangan Fitri. Tadi walau dia didorong di kursi roda tapi Fitri selalu menggenggam tangan kanannya.
Fitri lalu diperiksa oleh suster, ditimbang berat badannya serta diukur tensinya, nanti tinggal masuk ke ruang pemeriksaan dokter.
Fitri maupun Yanto sama-sama tak pernah lepas menciumi tangan pasangannya. Kadang Yanto yang mencium tangan Fitri, kadang Fitri yang mencium tangan Yanto. Mereka memang sedang sangat berbahagia karena Yanto sadar dari tidur panjangnya.
“Jadi mereka enggak ada di ruang rawat Yanto?” tanya Bu Gendis ketika diberitahu sopirnya Fitri kalau anak dan menantunya sedang berada di poli kebidanan.
__ADS_1
“Mbak Fitri bilang mereka tak ada di ruangan mas Yanto Bu. Mereka sedang berada di ruang kebidanan mengantar Mbak Fitri periksa, karena Mbak Fitri ingin Mas Yanto ikut masuk ke ruang periksa melihat kondisi bayinya.” jawab sopir Fitri yang bertugas menjemput bu Gendis.
“Baiklah,” kata Gendis, dia pun lalu menuju ruang periksa kebidanan tidak ke ruang rawat Yanto yang arahnya bertolak belakang.
Sampai di poli kebidanan Fitri dan Yanto baru saja masuk ruang periksa. Gendis hanya bertemu dengan Erlina dan Suradi di ruang tunggu poli kebidanan, karena mereka berdua tidak ikut masuk. Kali ini hanya Yanto yang ikut masuk ke ruang periksa.
Erlina dan Gendis berpelukan, mereka bahagia karena Yanto telah sadar. Erlina menceritakan proses sadarnya Yanto tadi pagi karena dia saksi kejadian.
Di dalam ruangan Yanto melihat Fitri dibantu untuk naik ke ranjang pemeriksaan. Suster membantu Yanto untuk mendekat ke arah bed pemeriksaan agar bisa melihat layar monitor dengan jelas. Dokter kembali memberikan gel pada perutnya Fitri dan mengarahkan tranduser untuk mendapat gambaran yang jelas.
“Wah bayinya semakin sehat dan besar. Ini Bu, Pak lihat ya,” Kata dokter memperlihatkan tampilan di layar monitor.
“Ingat ya, Ibu tidak boleh sakit lagi. Ibu tidak boleh dirawat lagi seperti waktu sebelumnya. Nanti kasihan Dede bayinya kalau Ibu tidak makan dengan baik,” jelas dokter tersebut. Yanto lupa menanyakan mengapa Fitri bisa dirawat. Yanto belum sempat bertanya karena sejak tadi hanya memandangi bagaimana wajah istri tercintanya saja.
“Pak lihat ya, ini bayi Bapak,” sat ini dokter sengaja bicara dengan Yanto. Dokter ingat saat pertama kali Fitri diperiksa karena mengetahui suaminya meninggal setelah melihat grafik lurus di layar monitor EEG.
“Dia sehat sesuai dengan umurnya. Sekarang umurnya sudah 11 minggu ya Pak. Ibu harus makan yang bergizi jangan lupa vitaminnya enggak boleh telat,” kata dokter pada Yanto.
“Apa tidak ada pantangan Dok?” tanya Yanto dengan terbata, dia memang masih lemah untuk bicara.
“Sejauh ini tidak ada pantangan, yang penting kondisi ibu tidak boleh capek sama sekali, karena nanti bisa keguguran. Ibu tidak boleh stres atau terlalu bahagia. Emosional yang berlebihan akan membuat Ibu bisa pingsan lagi seperti dulu, sehingga bisa dirawat lagi itu tidak baik buat bayinya,” jelas dokter selanjutnya.
“Saya akan perhatikan itu Dok,” kata Yanto. Fitri memandangi wajah suaminya dan memberikan senyum termanis. Fitri tahu suaminya pasti selalu akan menjaga dia sebaik mungkin.
__ADS_1
“Kita turun lagi ya Bu Fitri. Ayo Pak kita kembali ke depan,” kata dokter. Sekarang dokter yang mendorong kursi roda Yanto. Yanto masih memakai infus yang digantung di tiang kursi rodanya.
“Ibu ada keluhan?” Tanya Dokter ketika Fitri sudah duduk di depan meja kerjanya.
“Tidak ada Dok, tidak ada keluhan sama sekali,” kata Fitri.
“Apa tidak ada mual?” Tanya Dokter memastikan.
“Saya merasakan mual itu kalau saya jauh dari suami Dok, beberapa kali saat suami dibawa ke ruang lain untuk periksa, maka saat itu saya mual, kata Fitri.
“Tapi selama berada di sebelahnya, saya enggak mual itu sebabnya setelah saya keluar dari rumah sakit, harusnya saya pulang saya tetap tidur di rumah sakit. Kalau saya tidur di rumah, maka saya enggak akan sehat. Di rumah saya tidak akan tidur dan tidak akan makan apa-apa karena mual dan muntah-muntah.”
“Wah dede’nya maunya dekat ayahnya ya,” goda sang dokter.
“Iya dede’nya maunya dekat dengan papanya. Waktu saya bilang begitu papanya juga bereaksi. waktu saya bilang papanya enggak sayang Dede’ itu pertama kali suami saya menangis. Saat saya bilang dede’nya mau cari daddy baru, suami saya sadar,” kata Fitri. Tentu saja Yanto kaget mendengar cerita itu.
“Wah Dede’ sama Papa memang benar-benar soulmate ya. Ikatan batinnya kuat banget,” Kata dokter, sambil menuliskan resep untuk Fitri.
“Ini resepnya ya Bu, dan perhatikan lagi makanannya jangan sampai anaknya kekurangan gizi.”
“Enggak Dok, anaknya banyak makan. Apa aja mau, tapi yang paling dia sukai adalah makanan kesukaan Papanya. Semua makanan kesukaan papanya yang dia minta, sehingga eyangnya tiap hari bawa sesuai dengan kemauan Dede’ di perut,” kata Fitri. Yanto tentu saja tambah kaget mendengar selama hamil Fitri suka makan yang sesuai dengan selera dia karena permintaan bayinya seperti itu.
“Terima kasih Dokter,” kata Fitri sambil menerima resep yang diberikan. Fitri mendorong kursi roda Yanto hingga ke luar ruangan, sehabis keluar ruangan tentu langsung diambil alih oleh Suradi yang menunggu di depan pintu.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.
__ADS_1