
“Wah hebat banget ya? Ih aku jadi merasa masuk ke sebuah cerita dongeng deh,” kata Tria.
“Kalau cerita dongeng itu biasanya manis. Kalau kehidupan itu sering banyak pahitnya. Jadi jangan terbawa emosi dengan cerita dongeng,” kata Suradi.
“Iya benar, kehidupan kami juga jungkir balik karena ya itu tadi sama-sama keras kepala. Mas terbiasa memerintah karena Mas itu anak sulung, Mbakmu ini terbiasa mau menang sendiri karena dia anak tunggal. Itu saja masalah kami. Kami sama-sama keras dan yang kedua Mas itu terbiasa semua penuh perhitungan. Mbak kan nggak. Dia nggak pelit maunya semua dikasihin ke orang lain. Tidak berpikir untuk dirinya sendiri sampai saat ini seperti itu nggak pernah mikir untuk diri sendiri. Mas juga enggak pelit. Tapi semua harus cermat dihitung, itu yang Mas suka marah sama dia. Sampai saat ini 10 tahun, kebayang enggak 10 tahun kami menikah nggak pernah mau pergi meninggalkan rumah.”
“Kami enggak pernah honeymoon, baru kemarin Mas paksa baru dia mau itu pun hanya ke Jogja mengenang perjalanan awal pernikahan kami. Padahal Mas ngajaknya ke Bali, ibu malah nyuruh ke Singapura tempat dulu ibu tinggal tapi Mbakmu enggak mau.”
“Aku belum terbiasa meninggalkan anak-anak,” jawab Fitri membela diri.
“Jadi selama ini Mbak nggak pernah berpisah dari anak-anak?” tanya Satrio.
“Pernah dua kali atau tiga kali lah. Pertama saat kondangan ke Klaten. Itu sepanjang hari sudah deg-degan. Anak baru Daffa. Sudah jungkir balik pokoknya. Rasanya ketakutan bila dia kenapa-kenapa.”
“Dan kedua waktu Mbak kecelakaan. Jadi Mbak dirawat 5 hari di rumah sakit. Itu ninggalin anak-anak, tapi pernah ninggalin Daffa waktu ngelahirin Daanish. Cuma kan bukan ninggalin. Maksudnya ya seperti itu sih. Nggak pernah pergi sendirian sama sekali. Belum pernah,” ucap Fitri.
__ADS_1
“Hebat banget ya Mbak,” kata Tria.
“Sama sekali nggak pernah ninggalin anak-anak.”
“Tapi kalian jangan salah lho. Mbak kalian ini biar di rumah, tetap kerja ngantor,” kata Gendis.
“Loh maksudnya bagaimana Bu? Dia di rumah tapi dia tetap ngantor?” tanya Tria.
“Aku juga masih belum ngerti,” kata Satrio.
“Dia yang mengatur keseluruhannya uang masuk, mau beli apa, semuanya pengaturannya di tangan Mbakmu. Walaupun dia tidak ke bengkel tapi dia yang mengatur semuanya. Jadi dia tetap bekerja. Itu maksud ibu Gendis. Jangan menyepelekan perempuan di rumah.”
“Mbakmu ini jungkir balik 24 jam. Sebagai ibu, sebagai istri, sebagai manajer keuangan, belum lagi sebagai petani.”
“Wah aku makin salut sama Mbak Fitri. Aku lope-lope deh pokoknya,” kata Satrio.
__ADS_1
“Perempuan itu harus seperti itu,” kata ibu Erlina.
“Jangan karena kita di rumah lalu kita tidak bergerak. Kita bisa koq bikin es mambo lalu taruh di warung. Atau buat kue atau gorengan. Atau seperti ibu sekarang. Petik sayuran dan taruh di warung. Tak perlu malu.”
“Bener banget,” kata Suradi.
“Rumah kost itu awalnya dibuat oleh Bu Erlina karena dia nggak bisa keluar sejak dia punya anak. Dia lalu bikin rumah kost. Rumah kost pertama yang sekarang dijadikan rumah kost laki-laki dia mulai bangun itu dari tabungan kami. Akhirnya berkembang sampai 3 rumah kost seperti sekarang itu semua adalah ulahnya Bu Erlina.,” kata Suradi.
“Karena diam di rumah lalu tidak kerja adalah pendapat yang salah. Tanpa bekerja pekerjaan perempuan pun tak ada habisnya. Untuk cari tambahan tetap wajib kita lakukan. Kita wanita itu harus selalu bergerak bukan hanya mengandalkan penghasilan laki-laki karena banyak orang laki yang begitu sukses dia lupa sama istrinya. Lupa awal pangkalnya berupaya itu bagaimana,” kata Gendis.
“Wah benar sekali. Aku jadi makin terinspirasi untuk terus bergerak,” kata Tria.
“Kita nggak boleh kalah sama laki-laki dalam hal intelektual dan pekerjaan,” lanjut Tria lagi.
“Benar! Dalam hal intelektual dan pekerjaan kalian nggak boleh kalah tapi ingat kita perempuan tetap kodratnya adalah konco wingking. Tetap kita di bawah suami. Biar bagaimana pun semua keputusan harus di ambil atau diputuskan oleh imam kita,” kata Gendis lagi.
__ADS_1
“Jadi ingat cuma intelektual dan pekerjaan yang kita tidak boleh kalah dari laki-laki.”