
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Yank, besok Mas berangkat agak pagian ya,” Yanto baru saja menerima telepon soal jual beli mobil dagangannya.
“Kenapa Mas?” tanya Fitri. Pasti ada alasan yang jelas kalau Yanto izin seperti ini.
“Barusan ada yang minat mobil kita, dia minta pagi sebelum dia berangkat kerja. Pokoknya dia minta di bawah jam 09.00. dan Mas nyanggupin bertemu jam 08.00,” jealas Yanto.
“Iya enggak apa apa,” kata Fitri yang baru aja mau ngomong bahwa besok adalah jadwal berobat rutinnya Gendis. Awalnya Fitri mau minta Yanto antar ke Puskesmas dengan mobil.
\*‘Kalau begitu besok ibu biar aku yang antar aja,’ \*pikir Fitri praktis.
“Kita enggak apa-apa ini Nduk?”
“Enggak apa-apa Ibu. Tenang aja, yang penting Ibu pangku Daffa. Ibu sendiri bisa menyetir kok, kenapa jadi khawatir aku nyetir? Lagian cuma dekat,” kilah Dinda.
“Bukan soal itu maksud Ibu. Kita pergi enggak izin sama Yanto, itu loh apa enggak apa-apa kalau dia tahu?”
“Dia pasti langsung tahu Bu. Nanti aku langsung bilang kok Bu. Enggak ada yang kami sembunyikan.”
“Tapi bukan nanti bilang Nduk, seharusnya kita bilang itu sebelumnya. Bukan sesudahnya. Namanya juga izin. Kalau sesudahnya berarti kita lapor kan?”
“Kalau aku ngomong sebelumnya dia sudah janji dengan orang pasti akan dibatalkan Bu. Biar ajalah kita enggak apa apa kok,” kata Fitri.
“Lagian aku nanti sekalian imunisasi Daffa, aku bawa kartu imunisasinya dia kok. Jadi enggak perlu balik ke kota dulu untuk imunisasi Daffa,” kata Fitri.
__ADS_1
“Enggak apa-apa Nduk imunisasi di kampung seperti ini?” tanya Gendis mendengar kalau menantunya akan membawa cucunya imunisasi di dokter puskesmas.
“Ya enggak apa-apa lah Bu. Imunisasi sama dokternya juga di kasih obat sama. Yang penting pencatatannya rapih jadi enggak akan tumpang tindih,” kata Fitri santai.
“Memangnya apa salahnya berobat di puskesmas untuk imunisasi? Kecuali untuk penyakit berat yang alatnya tidak ada di Puskesmas kita wajib ke rumah sakit yang lebih besar. Tapi kalau untuk imunisasi dan pemeriksaan awal enggak apa-apa Bu. Sudah bagus kok pelayanan puskesmas kita,” lanjut Fitri.
Karena merasa tadi pagi berangkat sangat pagi maka Yanto jam 2 sudah tiba di rumah, bersamaan dengan kedua adiknya tiba dari sekolah.
“Kok pulang cepet Mas?”
“Tadi pagi kan aku berangkat pagi banget, jadi ya wajarlah aku pengen lihat anakku,” jawab Yanto.
“Nanti kalau gendong hati-hati ya Mas. Awas jangan senggol kaki kirinya ya,” kata Fitri yang sedang memakaikan diapers untuk putranya.
“Tadi habis diimunisasi,” jawab Fitri.
“Kok kamu pergi sendiri? Enggak bilang aku?” tanya Yanto sedikit kecewa.
“Aku mau bilang bahwa tadi pagi itu jadwal berobat rutinnya ibu, tapi Mas kan sudah ngomong duluan akan ada tamu dan harus berangkat pagi. Ya sudah aku putusin aku yang antar ibu sendirian, enggak apa-apa koq. Buatku yang terpenting kesehatan rutin ibu,” kata Fitri.
“Astaghfirullah aladzim Dek. Kenapa sih kamu kayak gitu? Harusnya kamu bilang sama Mas dong. Mas pasti batalin janji sama konsumen kalau tahu ada jadwal rutin ibu.”
“Enggak boleh seperti itu Mas kita sudah duluan janji dengan orang. Bisnis itu bermodal pada komitmen dan rasa kepercayaan konsumen.”
__ADS_1
“Jadwal ibu berobat kan juga bisa aku tangani. Jangan gara-gara hal seperti itu kita langsung membuat pembatalan janji. Semua bisa baik-baik aja. Tadi ibu juga ngingetin aku, aku salah karena enggak bilang Mas duluan. Tapi aku kasih tahu ibu Mas punya janji yang sudah diucapin ke orang lain.”
“Aku jelasin ke ibu soal kepercayaan orang. Kalau memang tidak terlalu urgent jangan dibatalkan atau ditunda. Toh soal urusan berobat ibu bisa aku handle. Mohon maaf kalau memang aku lancang bawa ibu dan Daffa ke Puskesmas.”
“Tadi aku juga bilang sama ibu bahwa aku akan bilang sama Mas dan aku akan kasih tahu kenapa aku enggak ngebolehin Mas ngebatalin janji pada orang lain,” kata Fitri dengan sangat bijaknya.
“Maafin Mas ya Dek. Mas yang salah. Mas lupa jadwal ibu berobat.”
“Enggak apa-apa Mas. Kalau jadwalnya Daffa memang masih 4 hari lagi. Tapi daripada kita pulang pergi ke kota hanya buat imunisasi, ya sudah aku sekalianin Daffa imunisasi.”
“Iya Dek. Terima kasih ya dan Mas yang minta maaf karena Mas lupa jadwal Ibu berobat,” keluh Yanto yang sangat menyesal karena lupa tugas utamanya.
“Kan harusnya aku yang minta maaf karena aku enggak lapor Mas dulu waktu pergi,” Fitri ikut merasa bersalah.
“Ya sudah kita sama-sama salah ya,” kata Yanto. Karena dia tahu Fitri tidak akan pernah mau memaafkan kalau dia belum memaafkan Fitri lebih dulu.
“Iya Mas.”
“Ayo salat ashar,” ajak Yanto.
“Belum adzan lah Mas.”
“Iya maksud Mas bersiap lah.”
Fitri pun keluar untuk membuatkan teh karena tadi dia sedang membersihkan pupnya Daffa, dia tidak mendengar Yanto datang.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.