
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Tak terasa sudah satu tahun pernikahan mereka. Fitri baru saja memasukkan Herry atau Andi Heriyanto ke SMP sedang Fatimah atau Timah sekarang sudah kelas 5 SD.
Biaya sudah semakin besar tapi Fitri tak keberatan, dia tetap membantu full semua kebutuhannya Herry dan Timah walau dilarang oleh Yanto.
Yanto maunya dia yang membiayai adik-adiknya, begitu pun pengobatan ibu sekarang rutin dilakukan. Fitri sudah membayar tukang ojek yang harus mengantarkan Ibu bila akan periksa ke dokter secara rutin juga sekalian menemani hingga mendapat obat. Bila obat di puskesmas sedang kosong, tukang ojek itu diminta mencari ke apotek terdekat hingga dapat.
Semua berjalan baik, sampai saat ini Fitri belum juga dikaruniai momongan.
Masuk tahun kedua pernikahan, mereka masih tetap berdua. Belum ada momongan meramaikan rumah mereka.
“Mas enggak pengen periksa ke dokter? Kali aja kalau kita periksa ketahuan apa kekurangannya. Jadi diobati biar kita bisa segera dapat momongan,” bisik Fitri pelan-pelan setelah Yanto minum vitamin malam ini. Fitri bicara dengan hati-hati, dia takut Yanto tersinggung.
“Memang kenapa sih?” jawab Yanto dengan napas yang masih belum beraturan sehabis marathon.
__ADS_1
“Usia aku kan udah cukup Mas. Aku kan kepengen punya anak,” kata Fitri sambil memeluk tubuh basah keringat suaminya.
“Oh itu alasanmu. Oke ayo kapan kita periksa?” kata Yanto tak keberatan
Akhirnya mereka bisa periksa 2 bulan kemudian karena waktu yang selalu tidak tepat antara pekerjaan Fitri dan Yanto dengan jadwal dokter spesialis yang Fitri inginkan. Fitri dan Yanto diminta banyak periksa ke laboratorium dan bila hasil lab sudah keluar baru dibawa ke dokter untuk diberi penjelasan.
“Kalau saya lihat organ reproduksi nya semuanya normal. Tapi ada sedikit kendala pada Bapak. Kekuatan sper-ma anda sangat lemah jadi dia kurang kuat mencapai ovum. Saat tiba ovum sudah gugur sehingga tidak bisa terjadi pembuahan.” dokter memberi penjelasan dari hasil laboratorium yang Fitri berikan.
“Jadi kuncinya sabar dan telaten minum obat ya. Saya akan beri vitamin untuk Bapak dan Ibu,” lanjut dokter senior itu sambil menuliskan resep untuk Dinda dan Yanto.
“Enggak perlu minta maaf Mas. Kalau sudah kayak begini kan sudah jelas kalau kita belum periksa kita akan meraba-raba. Ini sudah terlihat bahwa kekurangannya ada di mana.”
“Benar seperti tebakan ibu Gendis, bahwa bibit Mas memang sulit membuahi,” kata Fitri.
Tadi memang yang dokter berikan obat lebih banyak adalah Yanto.
__ADS_1
Tahun berlari cepat
Karier Fitri di kantor semakin cepat melesat. Tak momongan membuat dia bisa bekerja full waktu daripada rekannya yang punya momongan.
Jam kerja suaminya yang juga jarang di rumah membuat Fitei melarikan nya pada bekerja saja daripada dia bengong memikirkan nasib belum dapat momongan.
Kalau suami tidak di rumah Fitri lebih senang di kantor aja daripada bengong itu akibatnya membuat kariernya cepat melesat. Saat ini Fitri sudah menjadi manajer personalia di kantornya.
Di luar itu sekarang semua kegiatan rumah kost di Solo juga dia yang tangani walau pun jarak jauh. manajemen nya dia yang handle karena Suradi bapaknya sudah tidak mau pegang lagi.
Hal itu tentu membuat Fitri sering wira-wiri untuk mengelola rumah kostnya. Kalau pulang pergi ke Solo dia menggunakan sopir karena tidak boleh oleh Suradi mau pun oleh Yanto.
“Capek Pa?” sambut Fitri malam ini.
“Standar lah, namanya orang kerja ya Biasa tho Ma?” Fitri dan Yanto mulai memanggil MAMA dan PAPA dengan alasan agar terbiasa saat punya momongan nanti. Mereka masih rutin kontrol walau perkembangan bibit Yanto masih diam ditempat. Sangat sedikit kemajuan yang mereka dapatkan.
Suradi sudah menyarankan agar Yanto berobat ke shinse di Semarang seperti dirinya dan Gendis yang juga sudah dia ajak berobat ke Semarang secara rutin.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok