BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
HANYA ADA MENANG DAN KALAH


__ADS_3

“Iya mas Suryo. Bagaimana?” tanya Yanto karena pengacaranya Herry menghubunginya


“Bola sudah bergulir,” kata Suryo.


“Maksudnya bagaimana?” tanya Yanto.


“Bapaknya Tria sudah mulai bergerak mencari siapa pelaku yang merusak tambak,” jelas Suryo.


“Kok mas Suryo bisa tahu?”


“Tahulah, karena saat saya lagi cari info ada orang juga cari-cari info tentang itu. Jelaskan bahwa ada orang lain di luar saya yang mulai cari info.”


“Jadi sekarang saya berhenti aja, nunggu sampai dia dapat info full dan saya tinggal merangkum.”


“Wah beneran licikne mas Suryo,” kata Yanto terkekeh. Yang dibilang licik hanya tertawa terbahak tak marah sama sekali.


“Ini bukan kerja licik, ini kerja smart,” kata Suryo santai.


“Kalau bisa memanfaatkan sesuatu ngapain kita ikut cape?”


“Iya juga sih,” kata Yanto.


“Ya sudah, saya cuma mau ngabarin itu aja sih mas Yanto. Yang penting kita sudah tahu ada perkembangannya.”


“Kemarin adik saya udah protes tuh, kenapa Tria yang dijadiin bahan sasaran oleh penyidik. Tapi saya diam aja karena kan saya juga nggak tahu prosesnya bagaimana.”

__ADS_1


“Ya biarin aja, kayanya semua tetap akan diam sampai dapat data valid. Karena kalau sampai ketahuan sedang ingin dioper ke pelaku sebenarnya. Nanti akan lebih parah lagi. Jadi bapaknya Tria pura-pura tidak mencari pelaku agar pelakunya lengah.”


“Saya mah manut aja.” kata Yanto.


“Ya begitu saja Pak Yanto, selamat siang.”


“Sami-sami, selamat siang,” kata Yanto. Dia tersenyum karena Suryo kembali lupa memanggilnya dengan sebutan pak.


“Sudah ada perkembangan?” tanya Suradi pada Fitri saat dia mengantarkan Daffa pulang sekolah.


“Aku nggak tahu Yah. Nggak ada berita apa pun dari bu Nurbaiti,” jawab Fitri. Dia tetap tidak akan bercerita pada siapa pun soal penyelidikan dengan bantuan mas Suryo.


“Biarkan saja prosesnya berjalan sendiri. Kita nggak ikut-ikutan.”


“Kalau sudah ada perkembangan pasti mereka menghubungi kita kan Yah? Biasa selalu ada laporan bila ada perkembangan. Mungkin ini karena belum ada apa-apa. Ya udah dia tenang aja. Tapi aku yakin dia tetap bergerak kok nggak mungkin diam,” jawab Fitri.


“Ayah penasaran aja, siapa sih kompetitornya Herry yang sampai sedemikian rupa tega sama anak kecil?”


“Dalam bisnis mah nggak ada urusan anak kecil atau orang dewasa. Lalu enggak ada urusan perempuan sama laki dan juga nggak ada urusan tentang dominasi. Dalam bisnis hanya ada menang dan kalah!”


“Kalau mau menang nggak begitu caranya, jangan mencurangi orang lain,” jawab Suradi geram.


“Itu kan versi kita, jangan licik! Orang lain mah bebas berbuat semau-maunya Yah,” kata Fitri sambil menyiapkan makan untuk Daffa yang baru pulang sekolah.


“Itulah yang ayah benci dari bisnis. pokoknya semua cara dihalalkan.”

__ADS_1


“Iya Yah, seperti itulah bisnis. Segala cara dihalalkan.”


Hari ini ada 2 tambak patinnya Herry siap panen, tapi Herry sengaja memisah menjadi 2 termin waktu panen. Satu tambak saja yang dipanen hari ini, yang satu tambak sengaja dia pending.


“Pak Harjo jangan lupa yang kecil-kecil kembalikan lagi ke kolam pembesaran. Yang sedang bagikan pada orang sekitar jangan sampai tidak.” pesan Herry semalam di tambak.


“Yang terjual hitung dengan cermat berapa yang dibayar oleh pembeli. bukan soal uangnya, tapi saya ingin menghitung dengan tepat berapa biaya yang saya keluarkan untuk satu kolam itu. Apakah bisa tercover dengan hasil penjualannya. Sisa yang kecil itu tidak kita hitung, itu adalah keuntungan pribadi.”


“Baik mas Herry. Saya akan berikan juga tanda terima pembayaran pada konsumen.”


“Nanti mungkin Mbak Fitri akan mendampingi penjualan karena dia yang mengerti. Pak Harjo kasih tanda terimanya ke Mbak Fitri aja, saya belum bisa datang karena saya sedang semester-an. Biar Mbak Fitri aja yang handle soal keuangan.”


“Baik mas Herry, saya manut,” kata Pak Harjo.


“Kalau Pak Rahmat bagaimana ya? Karena untuk tambak Pak Rahmat panennya lusa aja. Saya sengaja tidak mau sekalian agar tidak ricuh di SDM-nya. Takutnya Mbak Fitri akan kalang kabut kalau harus pindah dua lokasi bersamaan.”


“Tambak yang dipegang Pak Rahmat lusa saja panennya. Untuk kolam belut apa sudah bisa recovery?”


“Kolam belut sudah mulai bisa recovery, bibit yang ada masih cukup tak perlu bibit tambahan,” kata Pak Raharjo.


“Kita kemarin kehilangan berapa prosentase nya?”


“Hilang 30% Mas, masih ada 60%.  Yang 10% kita hitung adalah produk gagal atau yang berat badannya masih tak sebanding dengan yang lain.”


“Oke akan saya catat semuanya,” kata Herry.

__ADS_1


__ADS_2