
“Selamat pagi Bapak, Ibu. Selamat datang di toko makanan ternak untuk skala penghobi, di sini juga ada obat-obatan standar buat hewan peliharaan kita.”
“Saya sebagai pemilik toko tidak membuat seremonial resmi. Saya hanya mengabarkan bahwa mulai saat ini toko dibuka. Saya mohon Bapak dan Ibu dari lingkungan seperti pak RW dan Pak RT bisa membantu saya untuk belajar. Saya masih terlalu bodoh, mengenai urusan bisnis. Saya masih kelas 1 SMA Pak, Bu,” kata Satrio.
Mendengar itu kembali Husein dan Riani merasa ditampar. Bagaimana mungkin anaknya punya toko selengkap ini bila tak ada bantuan modal. Sedang Satrio selama ini selalu minta uang buat tambahan jajannya.
Satrio mendapat ucapan selamat dan pak RT dan pak RW serta beberapa tetangga sekitar lokasi tempat usaha. Mereka beramah tamah sekadarnya.
“Selamat ya Dek. Kamu memulai buka usaha semoga sukses,” kata Yanto.
“Ini aku terus ya Mas, mohon maaf kalau kemarin pada saat mulai mau buka usaha aku nggak ngobrol sama Mas tentang itu. Aku malah selalu ngobrol tentang mengatasi limbah lingkungan. Terutama dengan mbak Fitri dan ibu.”
“Nggak apa-apa Dek. Mas tahu kamu nggak ingin ketahuan membuka usaha. Mas salut sama kamu,” kata Yanto. Posisi mereka berdua ada di belakang Husein jadi Husein dengar semua percakapan dua lelaki beda usia tersebut.
__ADS_1
“Iya aku hanya berdua Timah sejak awal. Timah itu tahu sejak aku kontrak toko ini. Dia yang memberi masukan toko mana yang harus ambil karena waktu itu ada dua pilihan toko. Timah juga yang menyarankan tentang layout cat dan segala macamnya.”
“Jadi Tria nggak tahu waktu awal kamu mau buka usaha?” tanya Fitri.
“Enggak Mbak. Mbak Tria baru tahu tadi pagi. Itu pun dia marah-marah karena aku dan Timah punya rahasia dari dirinya.”
“Timah juga nggak cerita kok ke kami. Benar-benar dia amanah. Disuruh tutup mulut ya dia tutup mulut,” kata Fitri lagi. Hari itu Gendis tidak ikut karena dia punya acara bersama dengan Erlina.
“Iya aku senang berkenalan dengan keluarga Mas Yanto. Dari Mas Yanto Mbak Fitri dan Timah aku banyak belajar. Kalau dari Herry aku jarang berkomunikasi karena dia juga sibuk dengan tambak dan sekolahnya,” kata Satrio lagi.
“Amang ini kenalkan kakaknya Timah,” kata Satrio.
“Wah saya jadi ingin belajar dengan Bapak nih,” kata Gultom setelah dia berkenalan dengan Yanto.
__ADS_1
“Terbalik lah Pak. Saya yang harusnya banyak belajar dengan senior seperti Bapak,” jawab Yanto. Husein dan Riani sejak tadi masih tetap diam mereka memang benar-benar dicolok matanya oleh Satrio dan Tria.
“Bagaimana Abang dan Mbak bisa tahu tentang usaha ini?” tanya Husein pada Gultom setelah para tamu pulang termasuk Yanto dan Fitri. Mereka tinggal berempat orang tua di situ. Juga 4 anak-anak muda sebagai pemilik dan pengelola usaha yaitu Tria, Satrio, Timah dan pegawainya.
“Terus terang saja Satrio datang ke rumahku malam-malam. Dia ingin dibantu masalah perjanjian pinjam uang kepada seseorang. Aku membantu perjanjian tersebut. Jadi aku tahu dari mana dia pinjam uang usaha dan bagaimana pengembaliannya. Aku tak mau nanti dia terjerat oleh hutang di rentenir. Jadi yang meminjamkan uang juga hati-hati karena aku adalah mediator peminjaman uang itu,” kata Gultom. Dia tak mau memberitahu kalau dia yang memberi modal pada anaknya Husein.
“Kalau boleh tahu berapa dana yang Satrio pinjam dan berapa lama jangka waktu pengembaliannya?” tanya Riani.
“Satria pinjam 50 juta. Pengembaliannya 2 tahun. Ada rinciannya kok berapa perbulan dia harus bayar.”
“50 juta kenapa dia harus pinjam ke orang lain? Kenapa dia tidak minta saja sama aku. Bisa aku kasih free kalau hanya segitu,” kata Husein tak sadar diri.
“Aku tidak yakin kamu akan kasih dia free. Apalagi kasih pinjaman. Kamu pasti hanya akan memaki-maki dia dengan mengatakan bahwa bisnis yang dia lakukan adalah bisnis sampah. Sama seperti yang kamu lakukan pada Tria. Tiap hari kamu katakan bahwa peternakannya dia adalah usaha sampah,” kata Riana di depan Gultom. Tentu saja Husein mati langkah.
__ADS_1
“Satrio minta uang dua ratus atau tiga ratus ribu saja kamu menceramahi lebih dari satu jam, baru kamu beri. Apalagi 50 juta. Suatu hal yang tak mungkin kan?”