BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TAK AKAN MENGGANGGU PEMBERIAN ASI


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Sudah 3 bulan lebih  Fitri tinggal di desa. Erlina dan Suradi sudah mengerti bahwa Fitri tidak secara spontan pamit akan tinggal di sana. Tapi melihat Fitri sedikit-sedikit membawa baju dan beberapa barang penting milik keluarga kecilnya, kedua orang tua itu mengerti.



Setiap 2 minggu sekali Fitri dan keluarganya menginap 2 hari di rumah Erlina. Mereka menginap hari Jumat sore sampai hari Minggu sore. Tentu bersama Timah, Gendis dan Herry. Hari Minggu sore mereka akan kembali lagi ke desa karena hari Senin Timah dan Herry sekolah.



Saat pulang ke desa itu Fitri banyak membawa barang miliknya, sehingga makin lama baju dan barang Yanto sampai hampir habis di kamar Fitri.



“Kenapa Yank?” tanya Yanto ketika Fitri memegang kepalanya dan langsung duduk begitu keluar kamar mandi di kamar mereka.



“Enggak tahu Mas, kok hari ini aku pusing banget deh,” Fitri memegang pelipisnya. Dia tak berani sembarangan minum obat karena sedang menyusui Daffa.



“Besok kita periksa ke dokter ya? Sekalian jadwal imunisasi Daffa kan besok?” Yanto ingat jadwal imunisasi putranya karena dia bikin jadwal tersendiri.



“Benar Mas,  besok memang jadwal imunisasi Daffa,” jawab Fitri sambil membaringkan tubuhnya. Dia ingin mengurangi rasa peningnya.



“Kalau jadwal Ibu kapan Yank?”



“Jadwal ibu masih minggu depan dan sudah aku bikin alarm biar Ayah enggak kelupaan lagi. Di kalender juga sudah aku lingkari besar-besar. baik kalender kamar ini, maupun kalender di luar. Jadi kalau Mas lihat mas akan ingat.” Mendengar perkataan Fitri Yanto langsung menoleh ke kalender di dinding kamar mereka. Dan memang ada tanggal yang di beli lingkaran biru, merah mau pun hijau. Fitri membedakan dengan tinta spidol berbeda buat tiap keperluan. Jadwal ibu kontrol pakai spidol hijau.



“Terima kasih ya Yank, kamu selalu perhatian sama ibuku,” ucap Yanto.

__ADS_1



“Ibu kita Mas, bukan ibumu,” ralat Fitri. Yanto tersenyum bahagia dan memeluk tubuh istrinya penuh syukur. Mereka pun lalu berupaya untuk tidur walau Fitri sangat pusing.



“Ibu temani kalian,” kata Gendis ketika tahu Yanto akan membawa istrinya periksa sekalian imunisasi Daffa.



“Enggak usah Bu, enggak apa-apa kok. Kan aku sama Mas Yanto,” Fitri tak mau Gendis lelah.



“Kalau kamu lagi diperiksa kan kasihan Daffa,” protes Gendis.



“Daffa bisa di stroller kok Bu. Enggak apa-apa,” Fitri berupaya menolak.



“Enggak, Ibu lebih baik temani. Kalian aja kalau Ibu periksa selalu temani Ibu,” tolak Gendis.




“Apa sejak nifas Ibu sudah pernah menstruasi?” tanya dokter yang memeriksa Fitri.



“Belum Dok. Sejak nifas saya belum menstruasi.” jawab Fitri.



“Kalau begitu kita cek ya Ibu. Karena sepengetahuan saya, sepertinya ibu hamil lagi.”



“Sekarang usia bayi kami baru hampir 5 bulan Dok. Satu minggu lagi 5 bulan.”


__ADS_1


“Iya Bu, makanya kita periksa. Semoga saja ini sesuai harapan Ibu. Kalau harapan Ibu ini bukan hamil ya itu yang saya harap terjadi. Tapi kalau harapan Ibu ini hamil ya itulah yang terjadi juga. Tapi kalau prediksi saya Ibu minta hamil,” jelas dokter. kata



“Alhamdulillah Dok kalau memang hamil, karena kami menunggu untuk bayi pertama itu setelah 4 tahun pernikahan kami baru dia lahir. Jadi kami memang tidak menunda. Kalau saya sekarang hamil saya akan sangat bersyukur,” kata Fitri.



“Hanya nanti saya minta petunjuk bagaimana pemberian ASI. Putra kami masih diberi ASI eksklusif.”



“Tidak apaapa Bu. Satu bulan lagi kan selesai ASI eksklusif. Dia akan mulai MPASI. Kalau sudah makan ASI tidak akan terlalu dominan. Yang penting saat memberi ASI dan sedang hamil nutrisi ibu harus sangat tercukupi.”



“Alhamdulillah ya Dok kalau memang hamil Ssaat putra kami sudah 5 bulan, kalau waktu baru 3 bulan kasihan ketiganya. Si ibu, kakak dan calon adik.” Yanto masih tak percaya dia akan dapat momongan lagi bila hasil pemeriksaan dokter memang benar. Tak siap-sia dua tahun penuh dia minum obat dokter dan sinshe.



“Bapak dan Ibu memang sengaja ingin cepat punya momongan?” dokter memastikan kalau pasangan di depannya memang menginginkan kehamilan ini.



“Benar Dokter. Kami sejak kehamilan pertama memang berniat segera punya momongan, kecuali kelahiran pertama dilakukan caesar. Karena  kelahiran pertama normal, maka kami tidak menunda sama sekali Dokter.”



“Semoga berhasil ya. Ini Ibu bawa sama suster,” dokter menyuruh suster menyediakan tempat menampung urine dan memberikan alat tes pada Fitri. Nanti Ibu ke sini lagi setelah selesai.  Saya terima pasien berikutnya dulu,” dokter menyuruh suster lain memanggil pasien berikutnya.



Fitri keluar mengikuti suster sedang Yanto ke ruang periksa sebelahnya.



“Apa kata dokter?” tanya Gendis  melihat Yanto keluar sendirian.


Sabar ya Bu, jawabannya di bab selanjutnya


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.

__ADS_1



__ADS_2