BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
ANAK MANIS YANG TAK PERNAH MEMBANTAH


__ADS_3

Tria tiba di rumah sudah menjelang magrib, mama dan papanya sedang pergi dia tidak tahu ke mana.


“Tumben kamu di rumah Yo tau gitu tadi kamu bantuin aku,” kata Tria pada Satrio adik satu-satunya.


“Aku baru sampai tadi ashar kok Mbak. Aku nggak tahu kalau kamu punya acara hebat di depan. Kamu nggak cerita sih. Kalau tahu begitu Kan aku tadi nggak pergi main futsal. Aku pergi itu kan cuma buat bunuh waktu aja. Kamu sih nggak kasih tahu aku proyek besarmu itu,” sesal Satrio.


“Aku nggak ingin bocor Yo. Aku memang benar-benar ingin kasih lihat bahwa aku bisa berdiri sendiri.”


“Baguslah kalau Mbak seperti itu. Punya prinsip ingin menunjukkan kehebatan Mbak dengan sesuatu yang berprestasi. Nggak seperti Mbak Eka,” kata Satrio dengan mulut mencibir.


“Ada apa dengan Mbak Eka? Memang prestasinya kenapa?” tanya Tria yang tak pernaha ingin bersaing dengan kakak mereka itu.


“Prestasinya masuk penjara!” jawab Satrio sinis.

__ADS_1


“Kamu jangan ngaco deh,” jawab Tria.


“Tadi itu waktu Mbak lagi acara, katanya ada tiga orang polisi datang ke sini dan dia memberitahu bahwa Mbak Eka itu sudah dua kali ditangkap tapi dibebaskan oleh pamannya entah siapa Papa juga nggak tahu. Terus sekarang ditangkap lagi karena sekarang sudah bukan pengguna tapi juga dia pengedar,” jelas Satrio.


“Astagfirullah … kok bisa?”


“Ya bisalah. Orang dia sudah lama make ( menggunakan narkoba ).Aku tahu kok,” kata Satrio.


“Kenapa kamu tahu kok nggak bilang mama papa tanya Tria.


“Mana dia mau ngerengek minta uang lagi? Uang dia sudah disuplai oleh pamannya itu kan?”


“Mbak juga tahu sesuatu, tapi nggak pernah ngomong kan sama mama papa?” kata Satrio panjang lebar.

__ADS_1


“Aku tahu sesuatu, tapi bukan soal narkoba kan? Kalau soal narkoba aku nggak tahu,” kata Tria lagi.


“Aku cuma tahu dia pernah gugurin kandungan dan aku nggak mungkin bilang hal itu sama mama atau papa. Karena mereka pasti akan bilang aku iri sama Mbak Eka,” ucap Tria getir.


“Jangan-jangan paman yang membebaskan itu adalah om-om yang memelihara dia. Dia kan sugar baby om-om itu,” duga Satrio.


“Aku rasa juga begitu. Sudah lama kan itu terjadi. Sudah 3 tahun dia jadi sugar baby-nya si Om itu,” kata Tria.


“Biarin aja, biar mama papa puas punya anak manis dan sopan nggak pernah ngebantah kayak kita,” jawab Satrio. Walaupun bandel dan sering dipanggil orang tuanya karena kenakalannya, Satrio tidak menggunakan benda-benda terlarang. Apalagi ikut geng preman. Dia tetap bandel pada koridor yang benar dan masih bisa berprestasi.


“Aku rasanya ingin kenal dengan keluarga angkatmu itu Mbak. Aku ingin termotivasi seperti Mbak,” kata Satrio saat mereka makan malam berdua.


“Ya Yo, minggu depan aku akan belajar masak di sana. Kamu akan aku kenalkan ya. Memang mereka orang-orang yang bisa membuat kita terinspirasi dengan motivasi untuk maju. Bukan menyeret kita ke lembah yang salah seperti yang Mbak Eka lakukan. Dan kamu ingat ya kita berdua harus terus berpegangan tangan agar kita bisa saling mengingatkan dan menguatkan,” kata Tria. Memang sejak kecil Tria dan Satrio lebih akrab daripada dengan Eka yang selalu mau menang sendiri. Tria dan Satrio hanya duduk diam kalau mainannya direbut oleh Eka atau gambar yang sudah mereka buat bagus dicoret-coret atau ditumpahi air oleh kakak sulung mereka itu.

__ADS_1


Sejak kecil Eka itu tak mau kalah dan selalu iri pada keberhasilan adik-adiknya.


__ADS_2