BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
KUDETA CACING DI PERUT


__ADS_3

“Ingat Mbak, indukan dan anakannya jangan dibuat main adik-adik dulu. Nanti dia lemah,” pesan Timah yang sudah bersiap akan bersiap untuk berangkat sekolah.


Pagi itu di meja makan topik pembicaraan adalah tentang kelahiran bayi kelinci milik mereka. Gendis sangat suka melihat interaksi anak-anak dan menantunya.


Hari ini Satrio mulai mereka-reka berapa kebutuhan dia untuk bikin usaha yang dia rancang. Satrio mulai membuat daftar barang yang harus dibeli saat awal, lalu modal isi bahan dagangan berikut biaya operasional awal satu bulan saat belum ada income, juga sewa toko. Semua dia rinci agar nanti saat pengajuan pinjaman dia tidak kekurangan dana.


Satrio menambahkan dana cadangan 10% dari total kebutuhan yang dia rencanakan guna dana tak terduga.


Satrio terus memandangi daftar kebutuhannya. Beberapa kali dia revisi. Ada yang ditambah dan sedikit dikurangi. Yang dia rasa belum terlalu urgent dia coret dulu, lalu dia tambah beberapa yang lebih penting.  Begitu seterusnya setiap dia istirahat. Kalau jam pelajaran tentu dia fokus pada pelajarannya. Dia tak mau nilai pelajarannya jelek karena berpikir soal rencana bisnisnya.


Tiga hari berlalu. Satrio sudah lengkap dengan rincian hitungannya. Dia membulatkan tekad akan menghadapi kakak ipar sang mama. Dia pun bersiap-siap ke rumah Gultom.


Ke rumah Gultom tanpa pemberitahuan tentu ada tiga kemungkinan. bertemu atau bertemu saat Gultom terburu-buru pergi dan kemungkinan terburuk Gultom memang tak ada di rumah.

__ADS_1


Rupanya hari ini nasib baik Satrio. Dia bisa bertemu Riana budenya. Kalau dengan Riana memang dia memanggil bude, tetapi pada Gultom suami dari Riana semua orang memanggil dia AMANG sehingga keponakan Riana pun memanggil dia amang tidak memanggilnya pakde.


“Kok tumben Nang?” kata Riana lembut. Ibu dua putra itu tahu putra-putri Riani itu bermasalah. Sehingga harus selalu mereka rangkul dengan kelembutan.


“Kamu pasti ada perlu kalau datang tiba-tiba tanpa janjian. Juga tanpa bilang sama Bude sama sekali,” tebak Riana dengan tepat.


“Aku ada perlu sama amang,” jawab Satrio to the point karena seperti itulah karakternya Gultom. Tak suka yang mencla mencle, putar sana sini.


“Amang baru saja pulang. Sebentar lagi ya. Dia sedang di kamar mandi. Nanti kita langsung makan malam bersama saja. Kakak-kakak mu lagi nggak ada di rumah jadi kita makan bertiga,” ucap Riana. Kedua anaknya sedang berada di rumah kakaknya Gultom.


“Apa kamu punya masalah hukum kok langsung mau bicara sama amang?” tanya Riana. Dia sudah menduga hal yang terburuk saja terjadi pada keponakannya.


“Tidak secara langsung sih Bude,  cuma nantinya memang bisa juga berhubungan dengan masalah hukum,” jawab Satrio. Karena dia tahu kalau dikabulkan peminjaman dananya tentu butuh perjanjian hukum.

__ADS_1


“Wah ada apa ini jagoannya Amang datang tiba-tiba?” kata Gultom ketika dia keluar kamar melihat ada Satrio di ruang tengah.


“Ada perlu sama Amang,” jawab Satrio setelah dia memberi salim kepada Gultom.


“Bagaimana kalau kita makan dulu? Amang kayaknya sudah di kudeta sama cacing dalam perut. Mereka sudah ngambek dari tadi di perjalanan,” kata Gultom dengan tersenyum.


Satrio membalas senyuman amangnya. Gultom yang dari Sumatera tapi penuh canda tawa terhadap anak-anaknya


Padahal orang bilang lelaki Batak keras dan kasar. Tetapi itu tidak terjadi Gultom. Dia sangat lembut dan care terhadap anak-anaknya, juga terhadap semua keponakannya. Memang suku itu tidak bisa menjadi tolok ukur atau dibuat global. Tak bisa kita bilang kalau suku A itu kasar suku B itu lembut dan seterusnya. Semua itu tergantung pribadi masing-masing.


“Kita makan dulu saja ya. Jangan cerita soal yang ingin kamu bahas dengan amangmu. Nanti kepotong malah nggak enak. Lebih baik makan dulu. Habis itu baru kita ngobrol,” kata Riana.


Riana menegaskan kalau di meja makan jangan ngobrol masalah pelik dulu sehingga makanan bisa dinikmati dan disyukuri.

__ADS_1


“Iya Bude kalau sambil cerita nanti aku nggak kenyang,” jawab Satrio.


__ADS_2