BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
BURHAN TAK INGIN TERSANDUNG


__ADS_3

“Ada info apa Mas?” tanya Fitri begitu mereka sudah akan beristirahat malam ini. Tadi suaminya kembali dari Klaten janjian bertemu dengan Burhan.


“Burhan ingin buka usaha di Solo aja atau kalau bisa malah di rumahnya di Klaten. Rumah istrinya tentu. Usahanya di depan pol PO di Bogor sudah dia alihkan pada orang yang membelinya. Dia bertanya pada Mas usaha apa yang kira-kira cocok untuk dia kembangkan,” jawab Yanto santai.


“Ya Mas bilang harus sesuai dengan kemampuan dia, dengan hobi dia, dengan semua yang dia suka dan kuasai lah. Jangan lihat usaha Mas maju lalu dia ingin ikut, padahal tidak punya skill di situ,” jelas Yanto selanjutnya.


“Misal dia lihat usaha Herry maju, dia pengin seperti itu padahal dia tidak ada ketertarikan di dunia usaha tambak, kan berabe.”


“Atau tentang Timah yang masih SMP tapi punya peternakan kambing semua harus berdasarkan emosi dia. Mas bilang begitu sih ke Burhan,” kata Yanto selanjutnya.


“Dia akhirnya pengin coba di rumahnya usaha telur burung puyuh, tapi kalau burung puyuh afkir kan nggak bisa dijual. Akhirnya Mas beri pertimbangan sayang kalau akhirnya burung afkir ( yang sudah menurun produktifitasnya ) itu hanya dikonsumsi pribadi. Lebih baik dia bikin peternakan ayam kampung yang dikelola seperti ayam negeri. Untuk pemeliharaan dan segala macamnya seperti ayam negeri tapi untuk perkembangbiakannya biarkan seperti ayam kampung. Jadi bisa ditetaskan lagi telurnya.”

__ADS_1


“Karena nanti ayam afkirnya masih bisa dijual. Itu saran Mas.”


“Entah yang mana yang diambil, karena tadi dia langsung tertarik juga ingin peternakan ayam negeri seperti yang ayah buat.”


“Yang terpenting dia membuatnya dari hatinya aja sih,” Yanto mulai membaringkan tubuhnya.


“Memang ada apa dengan usahanya di Bogor koq dia oper alih?”


“Sejak menjelang kelahirannya istrinya ‘kan harus kembali ke Klaten dan kemungkinan nanti akan lama lagi mereka siap terjun ke Bogor karena punya bayi.”


“Jadi Burhan langsung bilang sama istrinya, dia tak mau kasus kita kembali menimpa dia karena tidak cerita. Dulu kesalahan Mas kan karena nggak cerita ke kamu, karena berpikir nggak ingin nyakitin kamu,” kata Yanto.

__ADS_1


“Bagus kalau diantisipasi seperti itu. Tapi nggak mungkin kan semua permasalahan dihindari. Harusnya dilawan sih. Apa semua orang bisa langsung pindah kerja atau pindah usaha kalau ada kasus seperti itu? ‘Kan enggak! Enggak semua orang bisa pindah atau mengambil jalan seperti Mas atau Burhan. Kebetulan kalian bisa, tapi kalau orang kerja di kantoran atau apa kan nggak bisa Mas.” ucap Fitri.


“Iya sih, memang nggak bisa tapi itu yang Burhan tadi katakan. Mungkin satu minggu atau dua minggu lagi istrinya melahirkan bayi pertama mereka. Jadi memang Burhab tak mau jarak akan membuat kesalah pahaman.”


“Wah aku akan bersiap jagong bayi kalau begitu,” kata Fitri.


“Iya, Mas sudah minta pada Burhan agar diberitahu pada saat istrinya melahirkan. Jadi kita datang duluan sebelum orang-orang dan juga sebelum acara selamatan jagong bayi.”


“Kenapa kita nggak datang pas acara akikahnya saja?” kata Fitri.


“Kalau pas acara seperti itu kan banyak orang, kita tentu tidak bisa berbincang banyak padahal kita dengan Burhan kan bukan orang lain. Maksud Mas kita tetap datang saat acara pengajian atau akikah atau apa pun. Tapi tak bisa bicara lama jadi kita bicara sebelum acara itu dibuat.”

__ADS_1


“Oh begitu. Aku pikir Mas cuma mau datang saat bayinya lahir saja.”


“Tidaklah. Kalau tanpa Burhan mungkin kita masih salah paham karena dialah saksi bagaimana Mas menghindar dari Yani. Mas benar-benar salah langkah saat itu. Padahal sejak awal Burhan  sudah bilang : ceritakan semuanya pada kamu, tapi Mas cuma berpikir takut kamu sakit hati.”


__ADS_2