
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Assalamu’alaykum Nduk,” sapa Suradi menjawab panggilan dari nomor Fitri.
“Wa’alaykumsalam Ayah, ini Herry,” kata Herry. Memang Suradi dan Erlina meminta Herry dan Timah memanggil AYAH dan IBU pada mereka berdua.
“Ya kenapa Herr,” tanya Suradi dengan lembut.
“Ayah, Mbak Fitri pingsan, dia baru menjerit karena Mas Yanto sudah meninggal,” kata Herry. Tentu saja Suradi lemas mendengar berita itu.
“Sekarang Mbak Fitrinya di mana?” tanya Suradi bingung.
“Mbak Fitri ada di depan aku, sedang diperiksa Dokter. Ibu masih di ruang Mas Yanto bersama Dek Timah,” kata Herry.
“Kamu sendiri di situ?”
“Aku berdua Mbak Fitri, karena Timah menemani Ibu di ruangnya Mas Yanto, tadi sore Mas Yanto panas menggigil lalu tiba-tiba kita semua mendengar Mbak Fitri menjerit begitu monitor di kamar Mas Yanto menunjukkan garis lurus,” kata Herry.
“Ya sudah, Ayah ke sana ya. Kamu yang sabar, kamu temani Mbak dulu. Jangan ditinggal sendirian, nanti kalau ada apa-apa telepon Ayah lagi,” kata Suradi.
Suradi langsung memanggil istrinya dia berteriak-teriak
“Opo toh Yah?” tanya Erlina mendengar suaminya teriak-teriak panik.
“Fitri pingsan karena Yanto meninggal,” kata Suradi.
__ADS_1
“Tenane?” Kata Erlina menjerit.
“Ini barusan Herry telepon pakai nomornya Fitri karena nomor aku kan adanya di nomor Fitri. Rupanya Fitri mencantumkan nomorku dipanggilan darurat sehingga bisa dihubungi tanpa perlu membuka kunci.” Jelas Fitri.
“Ayo berangkat sekarang juga,” kata Suradi tanpa buang waktu.
Surai mengambil dompet dan kacamatanya lalu bergegas keluar kamar memanggil sopir.
Erlina pun berlari menuju kamar berganti dasternya dan mengambil tas tentu tak lupa membawa selendang hitam, kalau memang Yanto menantunya benar-benar meninggal, walau dia tak mengharapkan menantunya meninggal.
Sepanjang perjalanan Suradi mau pun Erlina hanya diam mereka tak ada yang bercakap apa pun. Baik membahas tentang Fitri mau pun tentang Yanto.
Setiba di rumah sakit Suradi menunggu Erlina turun. Suradi tak ingin istrinya celaka, jangan sampai istrinya ikut pingsan mengetahui kenyataan menantunya meninggal.
“Kamu di mana Herr?” tanya Suradi sambil menggandeng Erlina.
“Masih di ruang IGD Yah,” jawab Herry. Suradi langsung menuju ruang IGD dimana Herry berada.
“Bapak orang tuanya?” tanya suster.
“Iya, saya orang tuanya,” jawab Suradi cepat.
“Baik Pak. Ayo ke ketemu dengan dokter sejak tadi saya memang menunggu Bapak karena adiknya bilang sebentar lagi Bapak datang. Adiknya yang menemani dan dia belum mendaftar sebagai pasien di sini karena mungkin masih kecil jadi belum tahu cara mendaftar pasien,” jelas sang suster pada Suradi.
“Saya temui dokter dulu, nanti baru daftar. Yang penting saya tahu kondisi anak saya,” jawab Suradi langsung.
Suradi dan Erlina menemui dokter yang memeriksa Fitri.
“Maaf, ini orang tuanya atau suaminya?” Tanya Dokter.
__ADS_1
“Suaminya sedang koma Dok, tadi putri saya pingsan karena katanya grafik suaminya lurus meninggal. Saya juga belum tahu kondisi menantu saya,” jawab Suradi.
“Oh begitu. Maaf ya saya kurang jelas karena dari tadi adiknya hanya bilang kakaknya yang lelaki meninggal lalu kakak perempuannya menjerit dan pingsan. Saya tidak mengira bahwa suaminya yang meninggal.”
Dokter mendengar Herry bilang kakaknya meninggal jadi kakak perempuannya ini pingsan. Jadi Dokter itu pikir yang meninggal adalah kakak dari Fitri.
“Jadi Bapak orang tuanya?” Dokter kembali memastikan.
“Ya benar saya orang tuanya.” Suradi kembali menjawab dengan tegas kalau dia memang orang tua Fitri.
“Begini Pak, Ibu siapa namanya tadi Fitri?”
“Ya, nama anak saya Fitri. Diah Ayu Fitri,” jawab Erlina.
“Ibu Fitri ini menderita kurang darah, dia juga kondisinya sangat lemah mungkin karena pikirannya banyak terganggu karena suaminya kritis. Tapi ada satu hal lagi yang lebih penting. Yang pasti kita tunggu hasil lab sebentar lagi ya Pak. Karena tadi sudah saya langsung mintakan ambil tes darah untuk periksa lab apa kondisi Ibu Fitri yang sebenarnya.”
“Sekarang Bapak daftarkan anak Bapak dulu ke ruang rawat sambil menunggu hasil laboratorium.” kata Dokter.
“Baik,” jawab Suradi.
Suradi dan Erlina langsung keluar dan mendaftarkan Fitri di VIP agar tidak ada yang mengganggu.
Erlina menemui Herry yang sedang menunggui Fitri di ruang IGD. Fitri belum juga sadar.
“Ibu saya ke tempatnya mas Yanto ya nanti saya ke sini lagi kalau saya sudah tahu bagaimana kondisi ibu dan Timah kan sekarang sudah ada ibu yang menemani Mbak Fitri,” kata Herry.
“Iya jawab Erlina. Erlina membiarkan Herry berlari ke ruang ICU untuk mengetahui keadaan ibu Gendis dan Timah setelah meninggalnya Yanto.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok