
“Kak Andre ngomongnya asal saja deh, aku nggak enak sama Herry nanti Herry mengira aku menceritakan semuanya ke kak Andre untuk mendapat pembelaan kak Andre agar menyampaikan rasa sukaku pada Herry. Aduh jadi serba salah padahal senang juga sih karena Herry jadi tahu apa yang aku rasa.” Tria bicara sendiri sambil menggosok rambutnya yang basah sehabis mandi sore.
“Tapi ya nggak enak saja, kesannya kok bagaimana gitu,” ucap Tria selanjutnya, dia sisir rambutnya agar tak kusut.
Sejak kecil memang Tria juga cerita pada Andre. Terlebih akhir-akhir ini, bagaimana dia sangat sakit hati terhadap Riani dan Husein yang tak peduli pada dirinya dan Satrio. Kedua orang tuanya itu tak pernah menghubungi mereka untuk bertanya apa mereka sehat? Apa sudah bayaran atau pertanyaan lain sebagai orang tua. Bahkan mereka juga tak pernah menghubungi kakak dan kakak iparnya untuk memohon agar-agar kembali ke rumah. Untuk Riani dan Husein sepertinya kepergian Tria dan Satrio ada berkah.
“Iya, masuk. Nggak dikunci,” kata Tria saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.
“Ada apa Bang?” tanya Tria begitu mendapati yang mengetuk pintu kamarnya adalah Andra.
“Teman-teman Abang datang. Kamu bisa nggak bikinkan juice untuk mereka,” pinta Andra.
“Bahannya sepertinya nggak ada deh Bang. Untuk berapa orang?” tanya Tria.
“Ada temanku 3 orang. Kayaknya kalau kopi mereka sudah bosan. Itu sebabnya Abang ingin minta kamu bikinkan jus saja. Makan malam sudah aku minta sama bibi,” ucap Andra.
“Masih keburu kok Bang, aku cairkan jus yang beku di freezer, nanti aku tuang di gelas. Bisa kok. Aku buat juice cepat cair direndam air hangat dulu baru nanti dikasih es batu lagi. Tenang saja. Ada kok jusnya. Tapi bukan baru buat, karena bahannya habis tadi kami belum belanja,” ucap Tria.
__ADS_1
“Ya sudah. Tolong Abang ya,” pinta Andra.
“Iya Bang, aku akan siapkan,” jawab Tria.
Tria yang tadi sedang melamunkan Herry terpaksa memutus lamunannya dan menyiapkan jus yang diminta Andra. Tadi katanya temannya ada 3 jadi dia bikin 4 gelas untuk tamu Andra, sekalian dengan Andra tentunya.
“Ini seriusan Adek elo?” tanya seorang teman Andra. Lelaki tampan dan mapan tentunya, karena Andra bukan anak SMA lagi. Dia sudah hampir lulus kuliah dan rata-rata temannya sudah bekerja. Begitu pun Andra dia sudah magang di kantor papanya.
“Ya benar lah adik gua,” kata Andra. Tria sedang mengantar minuman yang Andra pesan tadi.
“Iya nggak mungkinlah dia ganteng kayak gue, pasti cantik karena dia perempuan,” jawab Andra.
“Tria kamu kenalan nih teman-temannya Abang. Tapi jangan mau kalau mereka naksir kamu. Mereka semuanya playboy,” ujar Andra.
“Eh gua nggak ya. Mana pernah gua pacaran. Nggak ada pacaran sama sekali dalam hidup gue. Jadi wajarlah kalau gua sekarang naksir adik elo,” jawab teman yang sejak tadi bertanya pada Andra.
“Halo semua saya Tria,” kata Tria tanpa mau bersalaman.
__ADS_1
“Mari permisi,” Tria langsung pergi ke belakang.
“Dra gila banget dia nggak mau loh salaman sama kita, kenalan sama kita kita kayak adik-adik cewek yang teman lainnya. Dia cuek banget,” ucap teman ke dua Andra.
“Ya itulah adik gue, yang nggak kayak adik-adik elo semua pada kegatelan. Adik gue mah nggak mau,” jawab Andra membanggakan Tria.
“Karena dia benar saja, buktinya kakaknya piaraan orang,” kata teman Andra ke tiga. Tentu saja Tria panas mendengar itu. Tapi biar bagaimana pun yang diomongin temannya bang Andra memang benar. Bukan rahasia lagi bawa kakaknya adalah perempuan nakal dan piaraan om-om yang sudah punya tiga anak dan dua istri.
Itu sebabnya Tria tidak mau berkenalan dengan teman-teman Andra atau pun teman Andre. Takutnya mereka memandang rendah dirinya sama seperti memandang rendah Eka.
“Gua bilang juga apa. Ini beda maka dia nggak mau kenalan sama elo semuanya, karena dia takut kalian itu menyamakan dia sama kakaknya. Padahal belum tentu kakak adik itu sama. Gua sama Andre saja nggak sama. Dia nggak kelotokan kayak gue, dia diem dan serius walaupun kalau buat adik-adik gua yang lain, Andre itu nggak serius. Dia moody. Tapi dibanding gue ya dia memang lebih serius. Jadi jangan lu samain dia sama kakaknya. Dia pasti akan seperti itu. Dan jangan harap dia mau kenal semua setelah dia dengar dia disamain sama Eka.”
“Gue kan nggak ngomong gitu. Gue boleh dong terus kenalan,” jawab teman pertama Andra.
“Elo datang bareng-bareng orang si-alan ini, ya lu nggak bakal bisa. Dia pasti sudah antipati pada semua teman gue yang bilang dia sama dengan Eka!” ucap Andra.
“Gua ketiban si-al dong?” kata teman Andra yang kebetulan bernama Andri.
__ADS_1