BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
CITA-CITA BAMBANG


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Erlina datang ketika dokter datang untuk memeriksa Suradi. Saat itu Bambang baru menekan bel karena Suradi mulai sadar.



Fitri menangis bahagia ayahnya sudah sadar Bambang menemaninya biar Erlina yang mendampingi Suradi diperiksa dokter.



"Kondisi Bapak membaik setelah anfal tadi malam, tapi kita nggak tahu ke arah depannya terus membaik sesuai harapan atau kembali drop.  Kami dari tim dokter berharap bapak terus membaik." Dokter menerangkan kondisi Suradi pada Bambang dan Fitri di luar ruang periksa.



"Apa saran dokter hari ini?" tanya Bambang.



"Ikuti perkembangannya saja. Obat jangan pernah terlambat,  tetap kita pantau perkembangan. Kalau memang kondisinya baik seperti itu terus dalam dua atau tiga hari ke depan boleh pulang."



"Semoga sesuai dengan harapan," kata dokter.



"Baik Dok kami akan terus mendampingi beliau," kata Bambang sambil memeluk bahu istrinya yang terus terisak.



"Baik kami permisi Pak, Bu," amit dokter dan para suster.



"Ya. Terima kasih Dok," sahut dokter.



"Kamu jangan nangis terus, kasihan ayahmu. Dia akan galau melihat kamu menangis." Tegur Bambang pada istrinya.



"Aku bingung aku itu nangis sedih atau bahagia, tapi setidaknya aku lega karena Ayah sudah sadar," Fitri berupaya menghentikan tangisnya.



"Ya udah hapus air matamu kita masuk lagi ke dalam. Perlihatkanlah senyum walau itu berat," kata Bambang.



Bambang sudah pernah merasakan ayahnya meninggal, jadi dia tahu beratnya beban pikiran istrinya.



"Terima kasih ya Mas kamu sudah dampingi aku saat aku seperti ini," Fitri memeluk Bambang tanpa ragu.



"Itu adalah tugas seorang suami," Bambang menghapus air mata di pipi istri tercinta.

__ADS_1



"Kalian dari mana?" kata Suradi melihat anak dan menantunya baru masuk ruang rawatnya.



"Ngantar dokter ke depan," ujar Fitri menjawab pertanyaan ayahnya.



"Kirain habis jalan-jalan."



"Enggak kami dari tadi di sini, barusan dokter periksa aja kita keluar nganterin," kata Fitri.



"Kalian sudah makan?"



"Sebentar lagi, baru juga jam 11.30," jawab Fitri.



"Jangan telat makan. Nanti kalian sakit." Nasihat Suradi



"Iya Yah," jawab Bambang cepat. Dia memberi kode pada istrinya agar tak membantah pak Suradi.


\*\*\*




"Dipecat yo pindah PO lain.  Gampang kok, yang penting ndampingi Ayah dulu,”  jawab Bambang.



"Ya jangan gitu Mas. Aku serius." nasihat Fitri pada suaminya.



"Aku sudah pernah kehilangan bapak, sakit rasanya saat kita enggak berada di sisinya. Walau saat Bapak meninggal aku ada. Tapi kan hari-hari sebelumnya aku enggak ada karena saat itu sedang Ulangan Umum kelas 1. Aku pulang waktu selesai ulangan, saat itu hari terakhir bapak."



"Maka saat ini aku enggak ingin kehilangan moment itu.  Bukan berharap Ayah enggak ada, tapi kalau itu terjadi kita ada di sisinya sejak awal."



"Kerjaan bisa kita cari, tapi momen itu tak bisa kita ulang."



Fitri mengerti pendapat suaminya yang pernah mengalami hal itu.



"Pekerjaan itu gampang kita dapat, kalau kita punya skill Dek. Bila kita punya kemampuan, walau enggak ada ijazah, apa pun kita bisa kerjakan."

__ADS_1



"Aku enggak takut kehilangan pekerjaan ku. Tenang aja banyak PO yang sudah minta aku karena mereka tahu skillku.  Aku bukan mau sombong tapi itulah kenyataan."



"Kalau sekarang aku harus keluar karena kondisi aku seperti ini ya aku terima. Aku sudah lapor waktu pertama kali aku dipanggil malam-malam."



"Saat itu kan aku baru pulang narik. Kalau mereka nggak terima ya udah. Kalau mereka mau bukti bahwa aku di rumah sakit udah aku perlihatkan kok.  Waktu ayah pertama kali masuk aku langsung lapor."



"Enggak usah pikirin pekerjaan. Kalau kamu takut aku nggak bisa kasih nafkah, aku Insya Allah bisa aku kasih nafkah buatmu."



"Ya udah kalau memang itu yang Mas yakini. Yang penting aku udah ngasih tahu. Aku nggak takut Mas nggak bisa kasih nafkah. Aku bukan seperti itu. Cuma aku pikir karena susah cari kerja lalu harus di PHK kan sayang."



"Itu loh maksud aku." kata Fitri.



"Enggaklah, Insya Allah kalau kerjaan aku tuh gampang misal enggak nyetir lagi selama belum dapat PO buat nyetir ya kita kan bisa andalin tenaga aku sebagai montir.  Dulu cita-cita mau punya bengkel, lalu juga punya show room usaha jual beli mobil bekas. Nanti mobil yang aku beli aku perbaiki dulu baru aku jual."



"Wah keren tuh Mas semoga aja cepat tercapai. Aku yakin Mas bisa segera mewujudkannya. Karena aku tahu Mas nggak mau kan aku kasih modal buat buka usaha itu." Fitri sudah bisa menebak, suaminya tak bakal mau menerima uang darinya.



"Ngapain? Masak modal usaha dari istri, yang benar aja." Tepat seperti dugaan Fitri, Bambang tak mau di modali.



"Ya makanya aku doain semoga tabungan Mas cepet tercapai sehingga bisa membuka dengan show room mobil bekas dengan servis sendiri."



"Mungkin awalnya satu atau dua mobil, nanti lama-lama juga jadi besar," lanjut Fitri.



"Insya Allah, aku juga nggak kepengen kok narik ( istilah menyetir bus atau angkutan umum ) terus. Itu adalah buat sarana cari uang.  Kalau untuk yang lainnya sih enggak perlu narik juga cukup. Dari montir saja untuk kasih makan ibu dan istri juga bisa Dek."



"Hanya kalau buat modal usaha ya itu, Mas harus narik biar cepat terkumpul modalnya. Cepet kok. Mas jadi sopir karena uangnya lebih besar buat nabung."



"Aku doain semoga nggak lama jadi sopirnya, sehingga kita bisa terus di rumah bersama."



"Insya Allah, Aaamiiin," kata Bambang.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok


__ADS_1


__ADS_2