
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Mereka pun menyiapkan uang yang dibutuhkan untuk belanja diseputaran rumah Yanto.
“Pada mau ke mana?” tanya Bu Gendis pada abak dan menantunya.
“Ke tambak Bu, sekalian lihat-lihat sayuran di sekitar sini,” jawab Fitri.
“Kalau ada di kebun yang lagi panen, atau lewat warung belikan Ibu *jipang* ( labu siam ) ya,” pinta ibu Gendis.
“Ibu mau masak apa jipangnya?”
“Mau dibikin sayur santan buat lontong sayur. Biasanya kan pakai pepaya, tapi Ibu lagi kepengen pakai labu siam,” sahut Gendis.
“Ngomong-ngomong jipang, Mamas malah kepingin jipang muda itu loh bu buat lalap,” kata Yanto.
“Kalau yang buat lalap, misal enggak ada yang kecil ya yang gede enggak apa-apa daripada kamu kepengen,” jawab Bu Gendis.
“Iya nanti aku belikan kalau ada ya Bu. Kalau jipang aku malah pengin buat bahab es buah,” jawab Fitri.
“Iya belikan ya jipang besar dan kecil. Kalau enggak ada yang kecil pun yang besar enggak apa-apa, nanti buat lalap bisa dipotong kok,” jelas Gendis. Walau memang rasa manisnya beda, kalau jipang yang kecil direbus masih terasa manis.
“Ya,” jawab pasangan suami istri itu. Mereka berdia keluar dari rumah bergandenga tangan. Timah dan Herry sudah berangkat sekolah.
“Wah kebetulan banget Mas ada yang tanem labu,” Fitri melihat kebun. Ada kacang panjang, timun, pare, oyong, kecipir juga labu siam atau jipang.
__ADS_1
“Kalau nanam sih pasti ada Yank, cuma kan belum tentu ada yang masih kecil,” jawab Yanto.
“Biasanya kan mereka berbuah seragam, jadi langsung petik bersamaan.” jelas Yanto.
“Tapi itu ada yang masih kecil kok,” tunjuk Fitri.
“Ya ayo beli sedikit ya yang buat lalap. Yang buat sayur juga enggak usah banyak-banyak Mas, kalau disimpan di kulkas buat apalagi coba selain buat sayur lontong yang Ibu inginkan dan aku pa;ing minta 1 buat bikin es buah.”
“Bisa juga buat sayur asem atau sayur lodeh sih Yank,” jawab Yanto.
“Ya wis lah beli secukupnya aja enggak usah banyak-banyak, yang penting semua ada.”
Mereka tadi sudah beli patin besar-besar sebanyak 2 kilo.
“Mau cari apa lagi?” tanya Yanto pada istrinya.
“Enggak butuh apa-apa, paling beli bumbu kali ya. Tadi ibu enggak bilang bumbunya apa aja ya nggak ada. Ya enggak apa apa nanti bisa pergi naik motor.”
“Enggak, Mas belum boleh pergi naik motor,” laraang Fitri cepat.
“Maksud Papa, Herry lah bukan Papa yang pergi naik motor,” kata Yanto. Dia tahu pasti masih dilarang oleh Fitri.
“Perang dunia aja sudah boleh, masak naik motor belum boleh?” Yanto protes pada istrinya.
“Bedalah konsentrasinya perang dunia sama naik motor,” jawab Fitri tak mau kalah.
__ADS_1
“Eh perang dunia itu lebih butuh konsentrasi penuh lho Yank. Kalau perang dunia seluruh jiwa raga ikut tertumpah di situ,” jawab Yanto tetap tak mau kalah.
“*Mbuh* ah,” jawab Fitri keqi. Kalau sudah bicara perang dunia memang Yanto lebih pakar dari Fitri. Minggu lalu saat kontrol ke dokter, dokter bilang tak masalah dengan kepalanya jika mereka berperang seperti biasa. Itu kunci utama Yanto.
Mereka pun berjalan beriringan kembali ke rumah
“Mas itu bikin apa?” tanya Fitri melihat seseorang sedang menumbuk lesung.
“Oh dia lagi bikin tetel ( di Jakarta atau Jawa barat di sebut ULI, dibeberapa daerah di Jawa tengah dan Jogja disebut JADAH ),” jawab Yanto.
“Koq ditumbuk gitu?” tanya Fitri.
“Ya memang seperti itu, beras ketan masak yang masih panas ditumbuk sama kelapa parut kasar.” jelas Yanto. Maklum istrinya anak kota, tak pernah tahu cara membuat panganan tradisional.
“Oh aku enggak tahu cara bikinnya, aku pikir dari tepung ketan, bukan ditumbuk seperti itu,” jawab Fitri. Harumnya ketan panas yang dimasak dengan santan menggoda selera Fitri.
“Beli yuk Mas,” Fitri mengajak suaminya mendekat ke dapur pembuat tetel tersebut.
“Nah mulai nih. Apa aja di kepengeni,” tegur Yanto tapi dia mengekori istrinya.
“Ya enggak apa apa lah beli satu loyang kecil,” kata Fitri. Dia membayangkan akan memanggang tetel itu dan memakannya dengan serundeng pedas manis.
Yanto pun akhirnya menuruti permintaan istrinya dia membeli satu loyang kecil jadah untuk dibawa pulang.
eyank akan buat novel baru, langsung cuss ke sana kalau sudah rilis yaa. Judulnya REGRETS
Ceritanya tentang penyesalan seorang suami yang menyia-nyiakan istri sah nya karena selalu memuja mantan calon istrinya yang telah meninggal!
Langsung kasih bintang 5 kalau sudah rilis yaa
Enggak boleh lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar biar eyank semangat nulis kelanjutan ceritanya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta.