
“Kalau mau ikut papa dan paman serta eyang kalian harus selesai makan serta habis makanannya. Kalau masih bersisa kalian tidak boleh ikut salat jumat,” kata Fitri pada kedua putranya yang sudah pegang sarung kecil masing-masing serta menggunakan peci.
“Maemnya nanti saja,” kata Daffa. Dia melakukan penawaran, agar bisa ikut berangkat dengan para paman, papanya serta eyangnya ke masjid.
“Itu papa pulang baru akan mandi. Jadi kalian masih sempat makan,” ucap Fitri tak menerima penawaran dari putra sulungnya.
“Ayo Eyang tungguin kalian di sini ya. Nggak akan pergi sebelum kalian selesai makan,” kata Suradi pada Daffa.
Begitu mendengar eyangnya bilang mereka akan ditungguin, baru mereka percaya. Karena ada satu orang laki-laki yang menemani mereka makan.
“Ayamnya enak lho, bumbunya manis pakai nanas. Tadi tante Ima yang masak,” ucap Fitri sambil menyuapi Daanish agar cepat karena mau ikut salat jumat. Biasanya Daanish juga tak di suapi. Memang kedua keponakannya memanggil Timah dengan panggilan tante Ima.
Sedang kalau untuk Herry sejak dulu mereka memanggilnya paman. Dan Satrio pun minta dipanggil paman tidak mau dipanggil om.
“Om mau salat juga?” Tanya Daffa melihat Satrio sudah selesai mandi dan menggunakan baju koko dan sarung.
“Iya paman Iyok juga mau salat. Kalau kalian sudah selesai makan kalian tentu boleh ikut salat. begitu tadi yang mama bilang kan?” kata Satrio.
__ADS_1
“Kenapa Paman nggak ikut makan dulu?” tanya Daffa yang merasa dibedakan.
“Kalau di dalam mulut ada makanan jangan bicara,” Fitri menegur Daffa.
“Paman nggak ikut makan bareng kalian karena nanti Paman makannya saat sepulang salat,” jawab Satrio. Dia sudah mulai belajar mereka harus menjawab sesuai dengan yang sebenarnya. Tidak boleh berbohong walau pada anak kecil sekali pun.
“Jadi kalau sudah besar boleh makan sehabis salat jumat?” tanya Daffa penasaran.
“Ya, kalau sudah besar boleh makan sehabis salat jumat karena tubuhnya sudah lebih kuat. Kalau anak-anak harus makan sebelum salat jumat biar tidak lemas saat salat,” kata Herry yang baru selesai mandi juga.
“Nah itu papamu sudah selesai tinggal nunggu kalian,” kata Fitri.
“Ingat jangan keburu-buru nanti keselek,” ucap Satrio. Dia senang sekali punya banyak adik kecil di keluarga ini.
“Ya, habiskan dulu makan kalian, minum air putih baru kita berangkat,” kata Yanto tersenyum pada kedua putranya yang ketakutan dia tinggal.
Fitri pun memberi senyum tanda setuju.
__ADS_1
Akhirnya enam lelaki beda usia itu pun berangkat ke masjid.
“Wah kamu lulus. Mas acungi dua jempol untukmu,” kata Satrio begitu dia makan ayam bumbu nanas masakan Timah. Dia mengacungkan dua jempolnya untuk Timah.
“Iya ini enak. Nanasnya juga tidak terlalu matang dimasaknya. Kalau terlalu matang dia terlalu lembek sehingga nggak kries-kries,” kata Yanto.
“Dan pemilihan nanas masak juga bagus karena nanasnya manis. Kalau nanas muda nanti dia akan asam,” puji Yanto selanjutnya.
“Ayah bagaimana penilaiannya?” tanya Timah menunggu penilaian Suradi.
“Enak banget, manisnya dari buah asli. Ayah suka ini,” jawab Suradi jujur.
“Benar. Rasanya segar,” kata Erlina yang juga baru kali ini mencicipi ayam masak nanas. Selama ini saat uji coba hanya Fitri dan gendis yang mencicipi. Pernah juga Tria mencicipi ketika Timah ke kandang. Dia bawa untuk dinilai Tria.
“Ibu mau lagi bikinkan besok ya?”
“Siap Bu,” kata Timah senang.
__ADS_1