BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
JATI DIRI ANDRE SEBENARNYA


__ADS_3

‘Mungkin Andre kebanyakan kena bola kepalanya. Jadi dia seperti itu. Malah merestui Tria menjadi kekasih aku? Lebih jauh lagi malah jadi calon istriku? Kan aneh! Pacarnya sendiri malah dia restui seperti itu. Dan anehnya lagi Tria nggak marah dioper seperti itu. Hubungan mereka benar-benar tak masuk akal buatku. Seorang kekasih yang merelakan pasangannya untuk orang lain.’


‘Apa Andre sakit parah ya? Jadi dia merasa lebih baik menyerahkan Tria padaku. Ih aku nggak mau lah kalau dapat operan seperti itu. Walau aku menyukai Tria, tapi juga nggak mau hanya dijadikan ban serep oleh Tria. Karena Andre sakit misalnya. Tidak mau, aku mau Tria memang mencintaiku apa adanya. Bukan karena keterbatasan Andre,’ kata Herry dalam hatinya. Dia jadi melamun sendiri.


“Mas Herry itu nanti nggak enak lho kebanyakan gula seperti itu,” tegur Tria memperhatikan Herry yang menuang gula dengan melamun.


“Eh sorry, sorry. Aku nggak lihat. Sorry,” kata Herry gugup.


“Sudah nggak usah ngelamun. Kamu juga sebenarnya suka sama Tria tapi sok-sok malu. Akuin aja lah,” goda Andre.


“Bagaimana mungkin aku suka sama perempuan yang punya kekasih?” jawab Herry spontan. dia juga tak mau menjadi ban serep seperti itu.


“Siapa yang punya kekasih?” kata Tria dan Andre berbarengan.

__ADS_1


Sesudah itu Andre tertawa terbahak-bahak. Tahu sendiri ketawanya dia sangat keras.


“Kamu kira aku itu pacarnya Tria?” kata Andre disela tawanya yang membahana. Herry hanya diam.


“Aku kakak sepupunya Tria,” ucap Andre membuat Herry terpana tak yakin.


“Aku tahu sekarang mengapa dia selalu menjauh. Rupanya dia mengira aku itu pacarmu,” ulas Andre pada Tria. Tria memandang Andre dan Herry secara bergantian. Herry makin tak mengerti.


“Sudah stop Kak. Nggak usah omongin dia. Aku nggak suka,” kata Tria. Dia paling benci kalau ada orang bicara tentang mama dan papa kandungnya. Dia benar-benar sudah terbuang.


Sejak dia dibawa oleh bude Riana dan amang Gultom saja, kedua orang tuanya tak pernah menghubunginya. Kedua orang tuanya bahkan tak pernah datang kepada kakak mereka untuk bicara baik-baik meminta anak-anak mereka kembali. Sama sekali tidak. Kedua orang tuanya benar-benar memang menganggap Tria dan Satrio itu tidak ada. Anak mereka hanya Eka saja. Mungkin mereka malah senang tak ada Satrio dan Tria di rumah.


“Maaf Sayang, maaf,” kata Andre berjalan menghampiri dan memeluk adiknya. Dia tahu luka adiknya yang sangat perih.

__ADS_1


“Kakak nggak akan ngomongin mereka lagi. Nggak akan. Maaf barusan Kakak lupa karena ada Herry. Maaf ya. jangan nangis. Nanti Kakak sedih kalau kamu menangis,” bujuk Andre.


Andre adalah bungsunya Riana. Dua bersaudara yang satunya sudah hampir selesai kuliah. Laki-laki juga yaitu Andra. Andra orangnya kocak sehingga Satrio dan Tria juga terhibur tinggal di rumahnya Riana.


‘Jadi mereka sepupu? Pantas Andre bebas memeluk dan mencium kening adiknya. Rupanya seperti itu.’


“Sejak kecil Tria ini selalu lari kepadaku bila dia punya persoalan. Dia tak lari pada abangku, bang Andra. Kami memang beda panggilan agar adik-adik mudah membedakan. Andra dipanggil abang dan aku dipanggil kakak. Jarak usia kami jauh, empat tahun. Sekarang bang Andra sedang menyelesaikan skripsinya. Abang Andra orangnya humoris sehingga Tria tak bisa cerita sama dia. Bukan tak bisa cerita tapi tak puas karena setiap cerita pada bang Andra, bang Andra akan menanggapinya dengan guyonan padahal maksudnya anak kecil ini kalau cerita itu ditanggapi serius.”


“Kakak nganggap aku anak kecil terus,” rajuk Tria.


“Kenyataan kan? Walau kamu lebih tua dua bulan dari aku, tapi kamu anak kecil kan?” kata Andre.


‘Jadi aku? ….’

__ADS_1


__ADS_2