
“Aduh aku kangen belanja di pasar sini,” kata Fitri saat mereka tiba di depan pasar Beringharjo yang fenomenal. Di pasar ini tak hanya batik, juga tersedia sayuran dan buah serta aneka ikan dan daging.
“Dulu setiap pulang kantor pasti aku akan mampir pasar buat belanja sayuran dan buah di sini. Kalau ikan dan daging enggak beli di sini karena sore sudah enggak ada yang fresh. Kalau aku beli pagi nanti bau juga di kantor,” kata Fitri sambil mengenang masa itu. Nanti dari pasar dia akan naik becak ke rumah kontrakannya. Kalau dari kantor selalu diantar banyak teman yang lewat sini.
“Kadang aku juga beli pecel di sini untuk makan siang bareng teman-teman,” kata Fitri sambil menoleh, melihat wajah suaminya yang sedang menyimak ceritanya.
“Kamu yang beli atau nyuruh office boy?” tanya Yanto.
“Nyuruh sih. Kalau untuk makan siang kita rame-rame pesannya. Aku seringnya pesan pecel saja karena kan selalu bawa nasi dan lauk dari rumah. Cuma karena untuk toleransi terhadap teman-teman ya aku nambahin pecel atau apa yang penting aku ikut berpartisipasi titip. Nggak enak sama teman-teman saja kalau aku nggak pernah ikut nimbrung bersama mereka,” ucap Fitri.
“Ya, kadang kita seperti itu harus ada toleransi buat seseorang.” kata Yanto.
__ADS_1
“Haruslah. Karena nggak mungkin kita hidup tanpa toleransi terhadap sesama,” balas Fitri.
“Kembali ke Jogja kembali ingat tentang rutinitas kita bekerja. Papa jadi ingat betapa beratnya mau berangkat kerja saat itu,” kata Yanto sambil mendekap erat istrinya.
“Memangnya berat berangkat kantor?” tanya Fitri.
“Kalau ke kantor mungkin nggak Ma. Tapi kan Papa waktu itu berangkat kerjanya ke jalanan! Ke Bogor dua hari dan hari ketiga baru sampai lagi di rumah. Kalau sampainya pagi. Papa harus nunggu sore buat bisa ketemu Mama. Tapi kalau sampainya malam kadang suka nggak tega mau peluk Mama karena Mama lagi tidur.”
“Begitu sampai rumah rasanya plong banget. Melihat wajah Mama yang lagi tidur kayaknya sudah mengobati semua lelahnya Papa,” ujar Yanto sambil mengingat masa itu.
“Kan Mama sudah tahu semua,” kata Yanto malas cerita soal itu walau mereka sekarang tidak terbebani dengan pembahasan masalah itu. Karena sudah terbuka bahwa bukan kemauan Yanto.
__ADS_1
“Bukan, maksud Mama bukan itu. Tapi apa yang ada di benak Papa. Apa yang ada di perasaan Papa mengenai reaksi Mama, bila Mama tahu bahwa Papa ada perempuan lain?”
“Oh itu.” Yanto terdiam sesaat dan melambatkan langkahnya. Dia duduk di kursi yang ada di trotoar jalan itu.
“Waktu pertama kali dijebak, Papa itu bingung mau cerita apa enggak dan kalau cerita, Papa akan bilang apa. Si Burhan bilang sudah cerita saja daripada nanti berbahaya. Burhan khawatir ular itu langsung ke Jogja dan minta pertanggungjawaban di depan Mama. Itu yang Burhan takuti.”
“Cuma Papa jadi perang batin, bagaimana perasaan Mama kalau tahu Papa sudah tidur dengan orang lain. Walau Papa yakin Papa nggak pernah tidur dengan dia. Namanya kita sudah 2 tahun suami istri, kan Papa sudah hafal kalau habis bertempur pasti beda rasanya, sama bangun tidur tanpa bertempur. Walau bagaimana pun pasti kita tahu rasanya beda. Ini Papa nggak ngerasa apa pun. Nggak merasa habis bertempur. Itu kecurigaan yang pertama. Yang kedua si jagur enggak ada bekasnya apa-apa sama sekali. Tidak ada bekas sper-ma atau pun cairannya dia. Kan enggak mungkin. Walaupun sudah bangun tidur pasti ada bekasnya kan di larasnya si jagur. Jadi Papa yakin itu dijebak. Cuma mau lapor ke Mama kayaknya kok enggak tega saja menyakiti hati Mama.”
“Itu yang ada di pikiran Papa saat itu. Jadi Papa berupaya menyembunyikan dan berpikir bagaimana meredam kecurangan perempuan itu.”
“Akhirnya bom meletus saat dia minta pertanggungjawaban karena sudah hamil. Saat itu Papa dimaki-maki Burhan. Dia ngomel karena Papa tidak jujur sejak awal pada Mama.
__ADS_1
“Akhirnya Papa dan Burhan mengatur strategi tetap menikahi dia dengan catatan nanti akan tes DNA. Kalau tes DNA-nya membuktikan itu bukan bukan anak Papa, kami sudah berniat akan melaporkan dia juga meminta kerugian yang sangat besar.”
“Tapi belum itu terjadi, Mama sudah datang ke Bogor. Bagaimana kok Mama tahu soal perempuan itu?”