
“Baik aku secara resmi melamar jadi anggota tim kalian. Peraturannya apa dan bagaimana?” kata Herry.
“Kami nggak ada keterikatan apa pun dalam hal peraturan, pokoknya dari kita untuk kita. Semua untuk kemajuan kita,” kata Timah yang memang dinobatkan secara tidak langsung menjadi ketua tim mereka.
“Semua permasalahan, kita sharing di sini. Yang nggak kita sharing ya kita tanya mau kita bahas apa nggak. Kalau nggak mau dibahas ya sudah. Kita nggak bisa intervensi,” kata Timah lagi.
“Oke. Aku juga akan masukin usaha aku di iklan online team kita nanti,” kata Herry.
“Sip,” kata Satrio.
“Eh aku punya ide tentang kendala online tadi,” tetiba Satrio punya sesuatu yang harus dia bahas.
“Apa itu Mas Iyok?” tanya Timah.
“Harga jual kita itu kan biasanya nggak ngambil keuntungan tinggi, karena hasil ternak kalian sendiri. Nah kalau kalian beli di orang lain itu bagaimana? Nanti merugikan nggak?”
“Rugi bagaimana?” tanya Tria.
“Aku kasih contoh sederhana ya. Misalnya biasanya kita jual 1000 kita sudah dapat untung 200. Tapi saat kita beli ke orang lain dengan harga 900 itu, kita tidak beruntung 100. Tidak!” jelas Satrio.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Herry.
“Karena untuk pergi ke peternak kita butuh ongkos pulang pergi. Lalu kita juga butuh waktu pulang pergi. Itu berarti mengurangi pos penghasilan kita sehingga keuntungan kita itu hanya 75 bukan 100! apalagi 200 seperti biasa. Itu kita harus hitung cermat,” kata Satrio lagi.
“Nah benar itu. Kalau itu terjadi berarti kita tidak bisa LOSDOL,” kata Herry.
“Kita siasati dengan beli bibitan yang benar-benar NEW BORN, lalu kita besarkan beberapa saat. Jadi saat stock kita mulai menipis kita beli newborn sehingga dapat harga lebih murah. Kalau untuk penghobi newborn tentu tidak direkomendasikan bahkan tidak dijual. Tapi buat kita, kita nggak ketakutan beli newborn. Kita pelihara sedikit besar sampai usia siap jual. Keuntungannya setidak-tidaknya mungkin 175 atau 150. Tidak terlalu rugi daripada kita hanya punya keuntungan sebesar 75,” kata Herry.
“Nah berarti begitu stok menipis kita harus cepat-cepat hunting bibitan,” ucap Timah.
“Nanti kambing pun seperti itu, begitu pula ayam dan yang lainnya,” kata Herry.
“Berarti kita memang harus pantau jarak jauh. Begitu stok kita kurang dari 60% kita sudah mulai hunting newborn.”
Hari itu Satrio dan Tria pulang dengan sangat senang mereka dapat banyak pengetahuan. Baik pengetahuan untuk bisnis maupun kehidupan sehari-hari yang mereka tidak dapatkan dari Husein dan Riani.
Mereka dapatkan itu dari Gendis, Suradi dan Erlina kadang juga mereka dapat dari Gultom dan Riana.
“Kita belanja buah lagi buat bikin jus kita dua hari ke depan ya,” kata Tria.
__ADS_1
“Oke. Kita beli melon aja ya. Satu buah utuh saja. Tapi cari yang melon kuning karena aku perlu bijinya,” kata Satrio.
“Wah kebayang tuh kalau buahnya bergelantungan di kebun aku,” jawab Timah.
“Nah iya, kita tanam itu di atas kandang sehingga nanti saat berbuah dia akan bergelantungan. Keren,” ucap Satrio yang setuju pada ide kakaknya.
“Ya ayo. Kita carinya melon saja untuk jus kita kali ini. Yang di rumah masih ada apa?”
“Masih ada apa aku lupa. Sepertinya belimbing dan jambu. Tapi kan kita harus variasikan jadi banyak macamnya buah yang kita konsumsi tiap hari dan tidak bosan,” kata Satrio sambil membelokkan motornya ke arah kedai buah.
“Pokoknya senang lah kita bergaul dengan keluarganya Mas Yanto ya Mbak,” ucap Satrio saat mereka sedang parkir.
“Benar dibalik musibah itu ada hikmah. Gara-gara kasusnya Totok dengan Herry aku jadi dapat hikmah sangat besar, yaitu mendapat keluarga secara utuh.” jawab Tria.
“Iya. Kita dapat kakak sekaligus adik juga orang tua sejak kasus itu. Walau sebenarnya kita nggak kepengen sih berkasus. Lagian bukan kita juga yang berkasus,” lanjut Tria.
“Tapi kayaknya dia sekarang sudah keluar loh,” kata Satrio.
“Ya biar saja dia keluar. Wong dia yang salah kok. Aku nggak ngapa-ngapain. Lagian aku bukan pacarnya. Dianya aja yang berbuat over acting,” jawab Tria sambil mulai memilih strawberry, padahal tadi niatnya hanya mau beli melon kuning saja.
__ADS_1