
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Ibu hari ini aku mau bikin pepes patin sama bikin pecel,” kata Fitri karena kemarin Gendis membawakan sedikit sayuraan dari kebun juga ikan patin hidup yang beli di tambak.
“*Nek pecel yo enaknya pakai goreng patin wae*,” saran Gendis.
“Yah, aku pengen pepes,” keluh Fitri yang memang jadi sangat suka akan pepes patin.
“Apa kita bikin kuah asam pedasnya aja? Sama goreng tempe dan pepes patin Yank?” usul Yanto.
“Enggak lah, biar aja pecel tetap karena sayurannyajuga banyak, tapi yo tetap bikin pepes patin, dan tempe serta kerupuk,” putus Fitri yang tak mau diganti menu keinginannya.
“Ya sudah ayo kita mulai masak,” ajak Gendis.
“Ibu di depan aja, biar aku sama mas Yanto di dapur,” pinta Fitri. Tadi pagi memang Yanto ke pasar untuk membeli semua bahan yang dibutuhkan selain sayuran, dan ikannya.
Orang tua Fitri yaitu Erlina dan Suradi datang masih pagi juga. Rupanya mereka habis sarapan langsung berangkat dari Solo. Mereka membawa serabi buat kudapan minum teh minum teh bersama besannya.
“Le, Nduk, ini serabinya masih hangat,” Erlina menawarkan serabi bagi kedua adik Yanto.
“Injih Bude, jawab Timah yang sedaang sibuk membaca buku cerita yang dibelikan Fitri.
__ADS_1
“Memangnya mereka masak apa sih heboh gitu?” tanya Erlina pada Gendis.
“Kemarin saya bawa patin segar mereka olah itu aja kok,” ucap Gendis.
“Oh gitu, kirain masak apa, tadi saya ke belakang enggak boleh ikut mbantu masak katanya mereka mau berdua aja,” Erlina mengadu pada besannya.
“Iya mereka memang mau berdua saja, sejak pagi tadi bikin sarapan ya gitu,” jawab Gendis.
“Padahal di hari-hari sudah masak berdua tetap aja lagi kayak gini maunya berdua,” kata Suradi ikut mengomentari para ibu.
“Wah enak iki,” kata Suradi melihat makanan yang disiapkan oleh anak dan menantunya.
Semua makan dengan lahap. Masalan Yant dan Fitri memang sangat enak. Ditambah suasana hangat keluarga, menambah makan makin nikmat saja.
“Fitri, Ibu mau bicara sama kamu,” kata Gendis di depan besannya.
“Iya ada apa Bu?” tanya Fitri pelan. Diajadi takut mendengar Gendis ingin bicara dengannya.
“Kamu tak perlu khawatir sudah 5 bulan belum hamil kalau lihat karakternya Yanto mungkin seperti ayahnya,” Gendis membuka topik pembicaraan sesudah mereka duduk santai sehabis makan siang.
“Maksud ibu bagaimana?” tanya Fitri. Dia tadi menatap Yanto minta kejelasan, tapi Yanto angkat bahu, artinya suaminya juga tak tahu apa yang akan dijelaskan ibunya.
__ADS_1
“Dulu kami dapat Yanto itu setelah 8 tahun menikah karena bibit dari Suripto ayahnya Yanto itu lemah. Jadi kemungkinan Yanto itu juga seperti itu. Sengaja Ibu bicara di depan ibumu agar kalian tahu bahwa ibu sama sekali tidak menekankan kalian harus cepat punya anak. Mengingat dulu Ibu pernah merasakan sangat lama untuk dapat Yanto.” Gendis menarik napas berat mengingat pedihnya awal pernikahan mereka.
“Di usia pernikahan kami 3 tahun oleh orangtuanya, ayahnya Yanto sudah dijodohkan dengan seorang perempuan lain. Bukan hanya dijodohkan tapi sudah dilamarkan tanpa kehadiran ayahnya Yanto.”
“Tentu ayahnya Yanto menolak dan tidak mau untuk menikahi perempuan itu karena dia hanya mencintai Ibu."
“Ayahnya Yanto berkata didepan orang tuanya dan calon mertuanya ketika sedang membahas tanggal pernikahan. Dia mau menikah bila perempuan itu mau tidak dinafkahi karena gaji ayahnya Yanto akan diberikan 100% pada ibu. Dan juga semua harta kekayaan yang saat itu sudah ada baik rumah maupun motor dan isi rumah semua milik Ibu,” kata Gendis.
“Orang tua perempuan yang akan dijodohkan dengan ayahnya Yanto tidak mau menerima kenyataan bahwa anaknya tak akan dapat satu rupiah pun pun dari ayahnya Yanto. Maka mereka membatalkan pernikahan ayahnya Yanto dengan putrinya tersebut.”
“Lalu di tahun kelima kembali orang tua ayahnya Yanto mendorong Suripto untuk kembali menikah karena Ibu juga tetap tidak bisa punya anak.”
“Karena kesal akhirnya kami berdua ke rumah sakit memeriksakan siapa yang mandul. Tapi sebelumnya ayahnya Yanto sudah berjanji bila Ibu memang mandul dia tetap tidak akan pernah menceraikan ibu dan mencari orang lain sebagai pengganti. Itu sebabnya semua harta dia atas namakan Ibu agar ibu tidak khawatir dengan janji palsunya.”
“Dari hasil pemeriksaan jelaslah bahwa ayahnya Yanto yang lemah. Ayahnya Yanto langsung memberikan hasil pemeriksaan itu pada kedua orang tuanya, sejak itulah kehidupan rumah tangga kami tenang.”
“Karena tenang, tak ada rongrongan maka akhirnya di tahun ke-6 Ibu bisa hamil tapi sayang keguguran karena rahim terlalu lemah.”
“Di tahun ke-7 baru ibu hamil lagi dan kali ini Ibu sangat berhati-hati tak pernah bergerak sama sekali. Tidak masak atau mencuci seperti biasa. Ayahnya Yanto yang melakukan semuanya sehingga di pernikahan kami yang ke-8 lahirnya Yanto.”
“Ibu cum minta kamu tenang dan tak perlu khawatir agar bisa punya momongan. Pasrah karo Gusti Allah,” nasihat Gendis menyiram kalbu Fitri yang takut dikira mandul karena belum juga hamil setelah dua bulan mereka bersatu walau telah menikah 5 bulan.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok
__ADS_1