BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
PENYAMARAN BERHASIL


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Akhirnya Fitri mengatur waktu dengan Dina dengan Gendis dan juga Pak Suradi serta Bu Erlina


Bu Erlina membawa Gendis sekalian biar jelas jadi mereka pergi berempat dengan driver, sedang Fitri dan Dina ada di bus yang di sopiri oleh Yanto.


“Bagaimana masalah terminal 2 Mas?” tanya Burhan saat mobil telah tiba di Kutoarjo.


“Aku masih butuh waktu, kamu bilang kan sampai melahirkan lalu aku cerai,” kata Bambang.


“Apa selama ini bener enggak pernah digauli?” tanya Burhan penasaran.


“Buat apa aku menggauli sampah seperti itu?” jawab Bambang. Bahkan aku tak pernah tidur satu ranjang dengannya. Ka;au malam aku memlih tidur di kursi. Kalau terlalu lelah aku tidur di mess. Kamu kan tahu aku lebih sering tidur di mess daripada di petakan itu?”


Fitri dan Nina mendengar semua itu tetapi tetap aja mereka telah menikah. Hal itu tidakak bisa dimaafkan oleh Fitri.  Walau sekelebat Fitri mendengar bahwa Yanto tak pernah menggauli istri keduanya.


‘Buat apa dia menikahi kalau tak pernah digauli?’ pikir Fitri.


“Terus uang belanja gimana Mas?” tanya Burhan.

__ADS_1


“Kamu tanya-tanya mau belajar? Jangan sampai kamu seperti aku.” Bambang menarik napas panjang mengingat himpitan persoalan yang dia hadapi.


“Memangnya dia istriku sehingga aku harus penuhi semua kebutuhannya? Aku cuma kasih dia buat rumah tinggal yang sekarang aja. Kalau aku ada uang ya aku kasih buat beli kopi dan sekedar makan yang aku telan disana. Aku enggak pernah menganggap dia istri kok,” jawab Bambang getir.


“Semua terjadi karena jebakannya aja. Aku terpaksa seperti ini tapi tak pernah aku berniat punya terminal 2,” kata Yanto lagi semua jelas terdengar karena Fitri dan Dina ada di belakangnya Yanto. Dina memang membeli kursi paling depan.


Setiba di Bubulak, Dina dan Fitri mengikuti Yanto dari jauh. Mereka melihat Yanto mengerjakan laporan perjalanan hingga selesai. Dari jauh Dina dan Fitri mengikuti Yanto yang berjalan ke belakang terminal menuju rumah petakannya.


Fitri dan Dina mengirim share lock pada Suradi. Mereka menunggu 30 menit sampai Yanto sempat istirahat dan berbincang dengan istrinya.


“Assalamu’alaykum,” Dina mengetuk pintu rumah petak yang tidak tertutup.


"Wa'alaykum salam," sahut seorang perempuan muda yang sedang hamil. Dina dan Fitri kaget melihat perempuan hamil itu.


"Saya tadi naik bus dari Jogja nomor pintu bus R55. Ada barang ketinggalan mau tanya ke suami Mbak boleh?" Dina yang jadi juru bicara karena yakin Fitri tak akan bisa bicara melihat kenyataan ini.


"Loh kalau kayak gitu kan tanyanya di terminal aja," sahut nyonya rumah.


"Memang ini bener suaminya Mbak?" tanya Dina sambil memperlihatkan dirinya berfoto di pintu bus dengan back ground tempat sopir bus. Kebetulan sedang ada sopirnya di bus itu ikut terfoto.


"Iyalah ini suami saya," jawab nyonya rumah dengan percaya diri.

__ADS_1


"Oh coba tanya dulu boleh nggak? Soalnya tadi saya ngecasnya di sebelah sopir," desak Dina.


"Nanti saya bangunin suami saya dulu ya Bu," nyonya rumah masuk ke ruang tengah yang dijadikan kamar tidur.


Mereka memang tinggal di rumah petak. Satu ruang depan biasa dibuat ruang tamu, lalu ada ruang tengah yang biasa buat kamar tidur dan ruang belakang biasa buat dapur tergantung siapa yang sewa.


Semua akan terdengar jelas bila bicara normal, apalagi bila bicara sedikit keras. Dina dan Fitri tak mendengar suara nyonya rumah, mungkin dia bicara sedikit pelan.


Tak terdengar suara nyonya rumah membangunkan suaminya, hanya bentakan Yanto yang Dina dan Fitri dengar.


"Kenapa, kamu enggak tahu saya butuh istirahat? Uang belanja sudah saya kasih. Mau apa lagi kamu bangunin saya?" Fitri kaget mendengar suara sengit Yanto. Suaminya tak pernah ketus dan keras seperti itu padanya. Bagaimana dia bisa bicara ketus pada selingkuhannya yang biasanya lebih di cintai seorang lelaki yang selingkuh dari istri resmi?


Tak lama keluar sosok yang selama ini akrab dalam kehidupan Fitri, sosok yang biasa memeluknya serta membisikkan kata cinta dengan kelembutan.


Fitri


lekat menatap suaminya yang terlihat sangat lelah. Padahal bila tiba di rumah dia tak pernah melihat wajah Yanto menderita seperti itu. Walau lelah Yanto masih terlihat bahagia. Fitri merasakan Yanto sedang dalam tekanan sangat berat.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok

__ADS_1



__ADS_2