BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TAK AKAN LOLOS DARIKU


__ADS_3

“Tadi sudah aku bilang kan dia baru aja pergi keluar bersama ibu mertua dan adikku.” jelas Fitri.


“Bagaimana hubungan kamu dan suamimu sekarang?” tanya Heru hati-hati.


“Aku sudah malas, aku tidak mau ribut,” jawab Fitri.


“Bukan seperti itu. Harusnya kamu tetap menyelesaikan. Bagaimana kamu mau kembali rukun kalau kamunya enggak mau buka suara?” tegur Heru.


“Dia sudah menceritakan semuanya kalau Tini itu teman SD nya dan segala macamnya. Tapi hatiku udah beku. Sebelum ini ada kasus dengan orang lain. Maaf kalau aku cerita mengapa aku jadi beku dengan kasus Tini ini.”


“Waktu itu suamiku ketemu dengan teman SMP-nya. Ternyata perempuan tersebut sangat mencintai suamiku sehingga ketika SMA dia dikejar oleh banyak teman lelaki dia tetap tidak mau karena menunggu suamiku. Begitu pun ketika dia kuliah.”


“Aku mendengar sendiri Mas, aku dengar dengan telingaku sendiri perempuan itu masih mengharap suamiku. Tapi aku enggak ada rasa marah Mas. Enggak ada rasa cemburu. Karena suami tak merespon perempuan bernama Aisy itu.”

__ADS_1


“Tapi kemarin beda.”


“Beda bagaimana maksudmu?”


“Aku kenal suamiku itu sejak dia STM Mas. Aku tahu dia sangat kaku terhadap perempuan. Tak pernah tersenyum, bahkan kepada aku pun dulu dia enggak pernah mau senyum lebih dulu. Dia selalu jaga image-nya, takut ada salah paham.”


“Aku mendekati dia lama, dia lebih muda dari aku dan aku majikannya di rumah ini. Tahu ditaksir anak majikannya, tahu ditaksir anak tunggal pemilik kost yang kaya raya, dia tidak peduli Mas. dia susah aku kuasai.”


“Mas bisa bayangkan bagaimana karakter suamiku yang dingin itu? Dia dingin pada setiap perempuan. Dan Mas lihat kemarin kan bagaimana dia tertawa terbahak-bahak dan bagaimana perempuan tersebut memegang erat lengan suamiku sampai dia menyandarkan kepalanya di lengan suamiku saat tertawa, dan suamiku tidak marah Mas. Suamiku juga ikut tertawa sambil balas menepuk tangan perempuan itu!”


“Begitu aku enggak boleh marah Mas? Aku harus diam saja memaklumi?”


Heru baru tahu bagaimana karakter suami dari Diah.

__ADS_1


Kalau untuk orang biasa, tentu hal yang dilakukan Yanto kemarin tertawa sambil menepuk-nepuk lengan ini bukan masalah yang berlebihan. Tapi buat orang berkarakter seperti Yanto tentu itu masalah yang beda lagi.


Untuk seorang perempuan yang sudah halal jadi istrinya saja dia tak mau menyentuhnya lebih dari sekadar mencium keningnya. Bahkan pada istri siri-nya sama sekali tak pernah di sentuh. Masa sama Tini bisa seperti itu?


‘Kamu enggak akan mungkin aku lolosi, kamu akan aku pecat walaupun kesalahan itu bukan semata kesalahanmu. Tapi kamu telah melukai bidadari hatiku dan hati Puji. Enggak akan mungkin lagi aku memaafkan kamu,’ batin Heru geram melihat Diah Ayu Fitri terluka.


Sejak SMA tidak ada yang boleh menyentuh Fitri apa pun alasannya. Heru menjaganya dengan ketat.


Heru tidak mencintai Fitri sebagai seorang perempuan, karena sejak dulu dia memang sudah punya pacar kalau namanya pacar ABG. Pacar SMA nya tidak jadi istrinya sekarang. Tapi memang di mata Heru, Fitri itu bukan untuk dia jadikan pacar. Dia benar-benar mencintai Fitri secara tulus sebagai adik. Orang tua Heru pun tahu hal itu.


“Ya sudah ini nomor Mas,” Heru pun menyerahkan kartu nama. Dia tak tahu akan disimpan di mana nomor tersebut oleh Fitri. Entah di nomor pribadinya maupun di nomor usaha bengkelnya.


__ADS_1


__ADS_2