
“Aku tadi lihat Mas beli roti buat burger,” ujar Fitri. Tak biasanya Yanto membeli roti itu.
“Iya Ma, aku lagi kepengen banget makan burger puas-puas. Kalau beli jadi tentu beda. Lebih baik beli bahannya biar puas. Lagian isinya juga sesuai dengan selera kita karena di racik sendiri,” jawab Yanto.
“Tapi tadi aku cuma ambil daging cincangnya sedikit Mas,” ungkap Fitri. Tentu kurang bila hanya menggunakan yang dia ambil tadi.
“Mas beli dua kali lipat dari yang kamu ambil,” jawab Yanto santai.
“Oh, berarti cukuplah ya kita bikin isinya,” balas Fitri.
“Biar nanti Mas aja yang bikin,” kata Yanto.
“Saosnya sudah beli?”
“Sudah, sudah semua,” jawab Yanto sambil kembali berjalan ke depan untuk mengambil kresek belanjaan lainnya.
“Kayanya margarine kita abis loh,” ujar Fitri saat Yanto kembali ke dapur.
“Ya ampun Mas lupa beli margarine. Mas pikir masih ada.”
__ADS_1
“Mas enggak bilang apa yang dibutuhkan dan mau bikin apa jadi aku enggak kasih tahu,” balas Fitri.
“Ya sudah, nanti Mas beli di warung sini aja enggak apa-apa. Gampang kok kalau cuma margarine.”
“Semua saosnya sudah Mas beli?” tanya Fitri lagi. Dia lupa tadi sudah tanya hal itu.
“Sudah sausnya pakai yang ekstra pedas. Kan di rumah ini enggak ada yang suka pakai saus tomat kalau untuk burger,” balas Yanto sambil mengatur barang belanjaannya masuk ke lemari dapur.
“Bikin isinya agak banyak kan Mas?”
“Kenapa?” tanya Yanto.
“Oh iya lupa. Kalau begitu besok mau beli lagi rotinya karena tadi hanya beli dua bungkus berarti hanya isi 10 saja. Pas untuk satu kali makan buat kita sekeluarga,” kata Yanto. 1 bungkus memang isi 5 buah. Itu sebabnya Yanto beli 2 bungkus.
Keluarga mereka berjumlah 8 dengan bu Yati tentu. Maksudnya 10 itu pas untuk satu kali makan karena kan Yanto nya makan lebih dari satu.
“Kalau habis biarin Mas, Pakai roti biasa juga enggak apa-apa,” jawab Fitri.
“Tetap aja beli lagi roti burgernya. Kalau isi kayanya bisa jadi lebih dari 20 buah karena dagingnya tadi Mas beli banyak.”
__ADS_1
“Baguslah, kalau sudah jadi bisa buat bekal Timah dan Herry,” jawab Fitri.
‘Kamu selalu mementingkan orang lain. Tidak mikir untuk dirimu sendiri. Maka aku akan memikirkan kebahagiaanmu. Aku akan melepasmu walau berat. Hatiku seperti teriris bila mengingat harus berpisah denganmu.’ batin Yanto sedih.
“Padahal ada sosis besar loh. Bisa beli roti panjang buat bikin hot dog,” ujar Fitri selanjutnya.
“Kalau begitu titip ke Herry aja Mas. biar dia belikan roti burger 2 dan roti buat hot dog 2. Kan dia lewatin supermarket kecil dekat sekolah dia,” lanjut Fitri.
“Semoga aja di sana ada,” kata Yanto. Dia pun mengirim pesan pada Herry juga diminta untuk sekalian membelikan margarin empat bungkus.
Suradi dan Gendis yang saat itu berada dekat dapur melihat sudah ada komunikasi antara Yanto dan Fitri walau belum seakrab seperti sebelum kejadian Tini.
Komunikasi suami istri itu sudah mulai terlihat agak lancar. Tentu saja Suradi dan Gendis mensyukuri semua itu.
Fitri segera memasuki kamarnya, dia melihat kedua anaknya sedang tidur siang. 5 hari tak melihat keduanya membuat dirinya merasa sangat bersalah. Diusapnya kening Daffa dan dia cium keningnya.
Rupanya tadi yang menidurkan entah itu eyangnya entah itu bu Yati menidurkan putra sulungnya itu di kamar tidur Fitri bukan di kamar tidur Daffa sendiri.
Atau mungkin mereka kelelahan bermain sehingga dipindahkan menjadi satu tempat tidur karena biasanya kalau Daffa berangkat tidur sendiri, dia langsung masuk kamarnya hanya tinggal ditemani sebelum dia terlelap.
__ADS_1
Hanya Daanish yang masih tidur bareng Yanto dan Fitri. Fitri melihat spreinya sudah diganti karena dia ingat sprei sebelum dia berangkat ke bank bukan yang sekarang ditiduri oleh Daanish dan Daffa.