BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TEKAD FITRI MERENGKUH CINTA YANTO KEMBALI


__ADS_3

“Jangan lupa jadwal kontrolnya ya Bu,” kata dokter yang datang jam 09.00 pagi ini. Dokter sudah menandatangani surat izin pulang Fitri.


“Baik Dokter,” kata Fitri.


Tadi Yanto sudah membayar makanya dapat surat izin pulang. Jadi sekarang begitu dokter keluar mereka pun langsung pulang. Fitri dan Yanto pamit kepada para suster di ruangan di kantor suster pada paviliun tempat Fitri di rawat.


“Mama mau pakai kursi roda?” tanya Yanto. Cukup jauh posisi ruang rawat ke halaman parkir.


“Enggak yang sakit lengan kiri, kenapa harus pakai kursi roda? Aku bisa jalan kok Mas,” kata Fitri.


“Sini biar aku yang pegang tasmu,” kata Yanto. Fitri merasa aneh, Yanto tidak menggandengnya atau pun menuntunnya. Yanto membiarkan dirinya jalan sendiri, suaminya hanya membantu memegangi tas yang tidak seberapa berat karena isinya hanya dompet dan ponselnya saja.


Motor yang Fitri gunakan kemarin langsung diurus oleh anak buah Yanto dan sekarang berada di bengkel tentunya Masalah sepele kalau motor seperti itu buat montir di bengkel milik Yanto.


Motor Yanto pun di rumah. Sejak datang ke kota Yanto menggunakan mobil, itu sebabnya sejak hari pertama Yanto pakai mobil jadi saat bawa barang tidak kesulitan.


Di mobil Yanto lebih banyak diam. Dia juga tidak tanya mau mampir ke mana padahal biasanya kalau sudah di mobil Yanto pasti akan bertanya mau mampir ke mana. Fitri ingat ketika mereka kondangan pertama kali keluar berdua setelah punya anak, mereka mampir ke mana pun yang dia mau.


Fitri sadar, harus berperan aktif kembali seperti saat awal dia mendekati Yanto dulu. Sebongkah batu saja akan bolong oleh tetesan air yang terus menerus. Apalagi hati suaminya yang memiliki cinta untuk dirinya. Hanya sekarang hati itu sedang tertutup tirai luka. Sehingga tugas Fitri menyibak tirai itu.


Fitri bertekad akan kembali bersikap aktif seperti dulu.


“Mas buah di rumah Masih banyak enggak ya?” kata Fitri.


“Pastinya ya kosong, kan Ibu juga enggak ada di rumah. Paling sisa yang kemarin aja,” jawab Yanto.

__ADS_1


“Bisa mampir tempat beli botol kemasan enggak Mas waktu kecelakaan aku baru beli botol buat juice. Sama mampir ke tukang buah ya Mas.” pinta Fitri.


“Bilang aja belok ke mana, nanti Mas belokin.” jawab Yanto. Fitri mengarahkan ke tempat membeli botol kemasan. Tak tanggung-tanggung dia membeli 5 lusin botol.


“Bagaimana kalau kita sekalian ke supermarket Mas? Biar tidak hanya beli buah, tapi bisa beli daging dan su5u juga,” usul Fitri.


“Ya,” kata Yanto. Yanto tidak menolak. Begitu ada supermarket besar yang dia tahu sangat lengkap, Yanto langsung membelokkan mobilnya ke situ.


Yanto mendorong trolly karena tak mungkin kan tangan Fitri yang lagi sakit mendorong.


“Mau beli apa lagi?” kata Yanto ketika mereka sudah selesai membeli banyak macam buah sebagai bahan juice juga sebagai bahan salad.


“Paling daging cincang sama daging rendang juga sea food. Di warung dekat rumah hanya ada udang. Tak ada baso ikan atau ikan laut lain selain tongkol Mas.” Balas Fitri.


Melihat daging cincang, Yanto mengambil 2 kali lipat dari yang Fitri minta. Yanto juga mengambil Bun atau roti untuk burger. Dia juga mengambil saus sambal dan sayuran buat burger. Dia ingin makan burger sepuasnya. Sebagai pelengkap Yanto membeli keju slice. Dia benar-benar ingin bikin hamburger di rumah sendiri bukan dengan beef slice yang tipis.


“Mau beli apa lagi?” tanya Yanto. Trolly belanjaan mereka sudah penuh.


“Lupa Mas,” jawab Fitri. Biasanya sebelum belanja mereka membuat list. Kali ini tanpa list karena belanja bukan diniati sejak awal. Ini program dadakan.


“5usu dan diapers anak-anak masih ada enggak?” tanya Yanto.


“Kan sebelum aku kecelakaan Mas baru beli?” jawab Fitri.


“Alat mandi anak-anak?” yanto juga lupa. Biasanya tiap hari mereka yang memandikan dan mengurus anak sehingga tahu apa kebutuhan anak yang hampir habis. Lalu Fitri akan membuat list dan Yanto membeli sepulang dari bengkel.

__ADS_1


“Masih banyak deh,” balas Fitri sambil berpikir keras.


“Ya sudah, berarti selesai. Kita pulang saja,” Yanto berpikir akan menyudahi belanja mereka kali ini.


Yanto pun mendorong trolly ke kasir.


“Mas tolong ambilin ATM-nya di dompet,” pinta Fitri. Yanto membuka tas Fitri dan mengambil dompet. Diambilkan ATM istrinya.


“Silakan PIN-nya Bu,” kata kasir.


Fitri pun memencet PIN ATM. Setelah dilakukan pembayaran kartu ATM kembali diserahkan Fitri pada Yanto yang langsung Yanto simpan kembali ke dompet dan dimasukkan ke tas lagi.


Semua barang belanjaan kembali masuk ke trolly, jadi Yanto tinggal mendorong trolly sampai ke mobil.


“Mas beli es krim boleh enggak?” pinta Fitri di luar supermarket. Ada penjual ice cram di teras super market juga aneka jajanan lainnya.


“Satu aja ya. Tadi bukan beli yang besar sekalian buat anak-anak,” kata Yanto. Maksudnya satu agar Fitri tak beli untuk mereka berdua. Yanto sedang malas makan ice cream.


“Kalau beli yang kotak besar enggak makan sekarang dong,” jawab Fitri.


“Beli yang besar minta diberi es pengawet, lalu beli satu yang kecil buat kamu,” jawab Fitri.


“Tapi aku enggak bawa uang cash Mas,” kata Fitri. Yanto pun mengambil uang di dompetnya. Memang tadi dia lihat dompetnya Fitri kosong tidak ada uang. Yanto tahu istrinya jarang pegang uang cash. Tiap hari Yanto memberinya untuk belanja ke warung. Di luar itu Fitri tak mau karena dia tak butuh membelu apa pun.


Dari sudut supermarket ada satu pasang mata yang sejak tadi memandang tajam ke arah pasangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2