
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
"Mau ke mana mBang?" tanya Bu Erlina melihat Bambang membawa ransel sore hari ini.
"Mau pulang Bu," jawab Bambang yang telah membawa tas untuk dia pulang hari itu hari Jumat sore.
"Besok bukannya Mbak Fitri minta temani untuk pergi ke ulang tahun temannya?" Tanya Erlina.
"Saya nggak dibilangin kok Bu," jawab Bambang.
"Mungkin dia belum bilang," kata Bu Erlina.
"Ya nggak apa apa. Biarin saja dia pergi bersama teman-temannya. Saya ingin mudik sampai hari Minggu sore. Mari Bu," lalu Bambang pun keluar dari rumah langsung menuju arah jalan raya menaiki bus.
\*\*\*
"Kamu besok nggak jadi pergi?" kata Bu Erlina.
"Jadi." Jawab Fitri yang baru selesai mandi sore dengan handuk menutupi rambut basahnya.
"Loh kamu nggak bilang Bambang Po?"
"Belum bilang. Kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Bambang sudah pulang sampai hari Minggu."
"Loh kok pulang. Besok kan Sabtu dia enggak libur, hari Minggu baru libur. Oalah aku lupa, bahwa hari Sabtu ini dia libur, jadi aku belum bilang. Dan dia kemarin habis gajian jadi pasti dia setor ke ibunya."
"Emangnya kenapa koq pakai setor ke ibunya?"
"Ibunya itu sudah nggak kerja dan sakit-sakitan jadi semua uang sengaja di kasih ke ibunya. Ibunya itu tadinya pembantu rumah tangga setelah ayahnya meninggal." kata Fitri.
"Oh Ayahnya sudah meninggal?"
"Iya waktu dia pindah sini itu ayahnya baru meninggal. Makanya dia maksa masuk di kamar paling murah."
"Rumahnya sudah dijual juga motor dan semua alat elektronik di rumahnya. Jadi dia tinggal di rumah kecil tanpa barang elektronik apa pun termasuk kulkas, TV dan sebagainya."
"Waktu itu Bambang kelas 1. Dulu dia masih kost di dekat sekolahnya. Dia juga masih pakai motor."
"Oalah gitu toh. Untung dia rajin kerja ya."
"Iya, semua hasil kerjanya itu buat biaya sekolah adik dan makan ibunya."
"Wah benar-benar lelaki yang bertanggung jawab." Erlina memberi poin plus untuk anak muda super gigih seperti Bambang yang tak terseret gaya hidup hura-hura. Bambang malah mengambil penuh tanggung jawab almarhum ayahnya.
\*\*\*
__ADS_1
"Mulai sekarang obatnya tidak boleh berhenti ya Bu. Agar ibu terus kuat. Boleh telat kontrol kalau tidak ada yang antar, tapi tidak boleh telat obatnya," demikian pesan dokter kali ini.
"Baik Dok saya akan perhatikan," jawaban Yanto.
Bambang Putranto kemarin memang sengaja pergi hari Jumat sore agar hari Sabtu bisa menemani ibunya ke Puskesmas.
"Kamu koq nggak sama non Fitri?"
"Ha ha ha, ibu didatangi satu kali koq kayak hubunganku sama dia baik dan dekat. Enggak lah Bu. Ini dua malam bawa anak orang menginap nanti dikira ngapa-ngapain," kata Yanto.
"Iyo yo, kalau datang juga mau nginep di mana wong kita nggak ada kamar lagi."
Memang rumahnya Bambang hanya dua kamar yaitu kamarnya ibu dan Timah serta kamarnya Yanto dan Herry. Kalau Yanto datang ya mereka berdua satu kamar.
"Kamu kapan selesai sekolahmu?" Tanya Gendis.
"Aku udah selesai ujian kan Bu. Tinggal nunggu pengumuman aja. Habis pengumuman tinggal nunggu dapat ijazah udah selesai."
"Kamu masih mau kost di situ?"
"Tetaplah Bu aku kan harus cari kerja. Aku ingin jadi sopir atau montir di PO Bu. Aku sudah melamar jadi montir sebenarnya. Tapi aku juga ingin jadi sopir antar kota," Yanto memberitahu impiannya.
"*Yo ta’ dungake*," Gendis mendoakan semoga jalan rizky putranya lancar.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok
__ADS_1