BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
MUAL LAGI


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Bisa minta bantuan enggak Pak,” tanya Yanto pada sopirnya Suradi yang mendorong kursi rodanya.



“Injih Mas, maunya gimana Mas Yanto?” tanya sopir Suradi tersebut.



“Nanti bantuin packing ya sebelum pulang, karena kalau enggak dibantuin nanti bapak jadi ikutan packing. Kasihan kalau bapak ikutan packing bapak capek dan enggak baik buat kesehatan bapak,” jelas Yanto.



“Lho, Mas Yanto kan juga belum boleh capek toh,” jawab si sopir.



“Kalau packing kan enggak capek Pak, yang penting kepala saya enggak terlalu banyak gerak. Dokter hanya melarang saya berpikir terlalu lama atau terlalu berat atau nyetir terlalu lama. Itu yang enggak boleh, kalau bergerak biasa masih bisa kok.”



“Ini aja seharusnya sudah tidak usah pakai kursi roda, saya bisa jalan sendiri,” kata Yanto.



“Jangan lah Mas, wong baru sadar kok. Nanti kalau pusing lalu jatuh malah parah,” kata si sopir sambil terus mendorong kursi rodanya Yanto.



“Yo wis pokoknya bantuin packing ya, biar besok enggak terlalu berat. Takutnya yang datang adalah Bu Erlina dan Bu Gendis, kasihan kedua ibu kalau harus packing.”



“Besok pasti sopirnya Mbak Fitri ikut Mas, enggak mungkin satu mobil.



Kami bisalah beres-beres besok, enggak usah sekarang, kalau enggak mau pak Suradi bantu,” kata sopirnya Pak Suradi.



“Oh ya wis, ngono wae. Sesok wae packing berdua ya Pak. Nanti malam kalau sudah enggak ada orang, saya ringkes-ringkes sedikit, biar besok enggak terlalu berat,” jawab Yanto.



“Besok bawa dus Pak, biar lebih mudah bawa barang-barang ke depan,” kata Yanto lagi.

__ADS_1



“Akan saya inget Mas, besok saya bawa dus, jadi enggak usah pesan ke bapak atau ibu. Kasihan orang tua kalau ribet seperti itu,” jawab sopir.



“Matur nuwun sebelumnya ya Pak.”



“Injih Mas sami-sami,” kata sopir.



“Mau ngapain Mas?” tanya Fitri.



“Beres-beres sedikit Yank, kalau besok nanti ada ibu atau ayah mereka pasti ikut beres-beres,” jawab Yanto.



“Mas juga enggak usah beres-beres loh, nanti Mas capek.” tegur Fitri.



“Kalau capek gini enggak apa apa kok,” jawab Yanto.




Hueeeek … hueeek, terdengar suara orang muntah dari kamar mandi. Fitri kaget mendapati Yanto sudah lemas saat keluar dari kamar mandi.



“Kenapa Mas?” tanya Fitri cemas. Dia ambilkan air putih hangat.



“Aku mual dan barusan muntah Ma,” keluh Yanto lalu dia berbaring karena lemas.



“Wah enggak bisa pulang dong kalau mau sakit seperti ini?” kata Fitri.



“Ya sudah enggak usah lapor ke dokter, biar enggak ditahan pulangnya,” kata Yanto.


__ADS_1


“Ya enggak boleh begitu Mas. Nanti malah lebih bahaya, kalau enggak ketahuan. Lebih bahaya kalau ketahuan penyakitnya itu belakangan. Jadi  lebih baik kita lapor aja pas dokter visite pagi ini,” Fitri tak mau kalau perkembangan ini tak dilaporkan dokter.



Fitri membuat teh panas untuk Yanto sekalian dia bikin su5u ibu hamil.



“Ih teh apa ini Yank? Baunya enggak enak. Mas mual nyium bau teh nya,” tolak Yanto.



“Loh Mas itu teh yang Mas biasa minum tiap hari kok,” kata Fitri.



“Enggak, Mas enggak Mau, itu bau,” kata Yanto menolak. Tak pernah Fitri melihat Yanto seperti ini selama 3 tahun usia pernikahan mereka. Yanto selalu bersikap manis sejak mereka saling suka.



“Kenapa sih Mas? Biasanya juga minum ini, dan baunya juga bau teh biasa,” jawab Fitri.



“Baunya enggak enak Ma, bikin mual,” keluh Yanto.



“Aku mau minum kopi aja,” Yanto lalu turun dari ranjang dan membuat kopi tanpa gula setengah cangkir lalu dia minum. Mual yang Yanto rasakan sedikit hilang. Dia duduk di ranjangnya.



“Kita makan dulu yuk Mas, ini menu dari rumah sakit sudah datang. Aku lapar banget,” kata Fitri.



Fitri mengambilkan piring makan milik Yanto, saat melihat itu Yanto langsung mual lagi.



“Sana in Ma,  sana in. Aku enggak mau. Aku enggak mau, itu bikin aku mual,” tolak Yanto sambil menggeleng.



“Mas ini aneh deh, kayak orang ngidam aja, ngelihat apa-apa mual. Cium bau teh mual,” sindir Fitri.



Akhirnya Fitri menjauh ke sofa, dia makan sendirian. Dia tak mungkin menunda makan karena sangat lapar bawaan bayinya.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.

__ADS_1



__ADS_2