
Di rumah Herry langsung membuka laptopnya, dia mencari keterangan tentang cara menangkap ikan secara alami tanpa merusak ekosistem yakni dengan menggunakan akar tumbuhan. Cara ini tentu lebih aman ketimbang menangkap ikan dengan menggunakan pestisida kimiawi. Selain merusak ekosistem, pestisida kimiawi juga mengancam kesehatan manusia.
Herry terus saja berselancar. Dia tak sadar sudah waktu maghrib sehingga harus dipanggil Timah.
“Eh koq sudah maghrib saja. Mas sampai tak sadar,” Herry meninggalkan meja belajarnya.
“Lagi cari apa sih Mas?”
“Lagi cari info tentang bahan alami pembuat ikan pingsan seperti yang aku alami,” jawab Herry, mereka segera menuju ruang salat.
“Bagaimana tadi hasil pengamatanmu di lapangan?” tanya Yanto. Sudah jadi kebiasaan mereka diskusi sebentar sehabis salat maghrib.
“Sejak kemarin aku sudah curiga Mas, ada seseorang yang aku curigai dan aku rasa ini bukan masalah kompetitor bisnis. Tapi aku belum berani mengungkapkan apa dan bagaimananya. Tapi ya dugaanku mengarah pada dia.” jelas Herry sambil tersenyum sinis. Tak biasa dia bersikap seperti ini.
“Siapa? dan apa motivasinya?” tanya Fitri. Mereka baru saja selesai salat magrib sehingga berlima masih kumpul. Tadi berenam dengan bu Yati. Tapi sekarang perempuan itu sudah menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Semua masih kumpul di ruang salat begitu pun kedua balita tetap ada di ruang salat.
“Aku selidiki dulu Mas. Makanya aku sedang menyelidiki di Mbah Google bahan apa saja yang digunakan. Kebetulan tadi dari penyuluh peternakan pertanian dan peternakan aku sudah dapat data bahan apa yang digunakan nanti tinggal kita cari siapa yang akhir-akhir ini mencari bahan-bahan tersebut.”
__ADS_1
“Apa kamu mencurigai Pak Raharjo?” tanya Gendis.
“Pak Raharjo nggak salah Bu. Dalam artian dia tidak terlibat langsung dalam masalah ini tapi dia salah memberi informasi tentang tambak aku, juga tentang diriku sehingga berakibat seperti ini. Tapi pada dasarnya dia tidak salah.”
“Mas jadi penasaran. Sudahlah kamu ceritain aja ke kita bagaimana dan apa motivasinya.”
“Rasanya nggak etis Mas. kita menuduh seseorang yang belum ketahuan buktinya,” tolak Herry.
“Ini bukan menuduh, ini asumsi untuk diskusi,” kata Fitri.
“Semua kan harus didiskusikan, jadi kita bisa menetapkan langkah.”
“Aku mencurigai seorang seniorku yang merasa kalah dalam segala hal denganku. Sejujurnya dia sudah kuliah di semester 3 dan dia kuliah juga di fakultas peternakan.”
“Apa hubungannya?” kata Gendis penasaran.
“Ini berhubungan dengan asmara Bu. Buat dia itu mengkhawatirkan tapi buat aku nggak ada urusan,” Herry menegaskan dia tak ada hubungan dengan seorang gadis pun.
__ADS_1
“Maksudmu? Dia kalah saing sama kamu gitu?” kata Fitri.
“Sepertinya begitu Mbak. Jadi ada kakak kelasku yang memang ngejar-ngejar aku. Tapi aku nggak gubris. Ya ampun aku belum berpikir ke sana. langkahku masih sangat jauh. Bukan karena dia lebih tua 1 tahun, tidak! Tapi langkah aku masih terlalu jauh untuk mengenal urusan seperti itu. Aku ingin konsentrasi belajar.”
“Dulu Mas Yanto tidak kuliah, bukan karena tidak mampu atau tidak bisa bayar tapi Mas Yanto tidak mau kuliah karena dia lebih ingin fokus kerja untuk membiayai kami. Jadi sekarang aku yang akan kuliah. Aku akan membuktikan dan aku akan persembahkan ijazah aku buat Mas Yanto. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini terlebih ayah sudah mendukung aku dengan usaha yang aku geluti sekarang.”
“Ternyata kakak seniorku yang sudah alumnus menyukai gadis tersebut tapi tidak direspon jadilah aku yang menjadi tumbal sasaran kekesalannya.”
“Dia membalas penolakan perempuan tersebut kepada aku, menimpakan kesalahan pada aku padahal aku nggak ada urusan apa-apa dengan perempuan itu. Kalau pun nanti aku ingin serius berhubungan, nanti bila aku sudah mau selesai kuliah sehingga tidak terganggu waktu belajar aku.”
“Kalau untuk saat ini aku tidak akan, aku akan menebus semua kesempatan Mas Yanto yang hilang,” kata Herry. Yanto dan Fitri juga Gendis tentu saja trenyuh mendengar niat Herry yang membuat mereka bangga pada pemuda tersebut.
“Kalau kamu butuh bantuan Mas untuk mencari info tentang apa pun untuk mengejar pelaku, kasih tahu Mas aja. Masa urusan cinta jadi bikin orang merugikan orang lain seperti ini. Itu bukan cinta orang dewasa. Kalau cinta orang dewasa itu bertanggung jawab. Ditolak ya tidak seperti ini,” kata Yanto.
“Mungkin karena kita tidak pernah merasakan penolakan itu Mas. Kita sama-sama suka pada orang pertama dan langsung klik. Jadi kita tidak tahu orang yang ditolak itu sakitnya seperti apa,” Fitri berupaya mengerti rasa sakit yang diterima akibat penolakan.
“Mungkin sakit benar. Tapi tidak harus dia kompensasikan kepada orang lain dong,” balas Gendis.
__ADS_1
“Kalau memang dia sakit ya kembalikan kepada perempuan tersebut bukan kepada Herry,” kata Gendis selanjutnya.
“Iya, dia salah sasaran. Seharusnya kalau dia mau marah ya marah pada perempuan itu,” kata Fitri.