
Begitu tiba di rumah kota bu Erlina mengumpulkan semua penghuni kost. Dia ingin bertanya dan mencari tahu semua warga kost. Dia ingin bertanya dan mencari tahu mengapa anak kost nya itu bunuh diri.
“MbakAsihitu tertutup Bu orangnya. Jadi nggak ada yang tahu apa yang sedang dia pikir atau rasakan. Tak pernah berbagi pada kami semua,” begitu beberapa jawaban yang Erlina terima dari anak kost.
“Padahal dia cukup lama ya di sini, sudah 2 tahun. Dia bekerja di apotek kan?” kata yang lain.
Yanto sibuk menghubungi Pak RT, juga dokter, dan polisi terdekat dengan rumah kost milik mertuanya.
“Tadi siapa yang sudah memegang jenazah saat mengetahui dia sudah meninggal?” tanya Yanto.
“Saya Pak Yanto,” kata seorang perempuan.
“Kamu nanti pasti akan diperiksa, juga sidik jarimu akan di data. Jadi nggak usah takut. Kamu cerita saja yang sebenarnya agar tak ada pemeriksaan lanjutan,” jelas Yanto.
“Baik Pak,” jawab perempuan itu sambil gemetar. Tentu saja dia takut dijadikan saksi atau malah tertuduh.
“Siapa lagi?” kata Yanto. Dia ingin memastikan semua berjalan baik.
“Mungkin ada yang memegang handle pintu atau benda lainnya di kamar TKP?” tanya Yanto.
__ADS_1
“Saya memegang handle pintu,” kata satpam.
“Baik nanti bilang saja kalau sidik jarimu diperiksa, karena seperti ini pasti semua akan diperiksa secara menyeluruh. Tapi Bapak nggak nyentuh barang lain di kamar itu kan?” tanya Yanto.
“Mboten, Pak,” jawab satpam.
“Yo wis sing penting jujur wae kabeh,” kata Yanto.
“Nggih, Pak.”
“Ada apa Pa?” tanya Fitri. Dia penasaran karena Yanto tak ada kabar berita sama sekali sejak tiba di rumah kota.
“Paling nggak, kasih tahu dulu lah ada apa,” desak Fitri. Tak biasanya suaminya menjawab pertanyaannya seperti itu.
“Mbak Asih meninggal bunuh diri,” jawab Yanto. Dia tak ingin istrinya marah karena tak mau cerita.
Fitri terdiam dia hanya mengucap innalillahi di dalam latinnya dia tak percaya perempuan lembut itu bunuh diri.
“Apa nggak ada tamu sebelumnya apa nggak ada kemungkinan dia dibunuh?” tanya Fitri.
__ADS_1
“Belum sampai ke situ. Nunggu sebentar lagi polisi datang. Ini dokter sudah datang sama Pak RT juga sudah ada sejak tadi. Makanya Papa bilang kan cerita selengkapnya besok saja. Papa masih ribet banget di sini,” jawab Yanto.
“Ya Wis Mama tunggu beritanya ya Pa.”
“Iya. Kamu nggak usah nungguin Papa pulang. Karena nggak bakalan pulang cepat. Nggak mungkin kan ninggalin ayah dan ibu dalam kondisi seperti ini.”
“Bilangin Herry untuk menyuruh pegawainya kasih makan ternaknya ayah.”
“Ya Pa. Nanti aku bilang sama Herry,” jawab Fitri.
Gendis dan Timah kaget saat mendengar cerita dari Fitri mengenai alasan Yanto pergi menemani ayahnya.
Mereka beberapa kali pernah bertegur sapa dengan Asih jadi setidaknya mereka tahu sosok mana yang jadi pembicaraan Fitri dan Yanto barusan.
“Ya Mbak aku akan aku akan bilang Pak Harjo buat urus ternaknya ayah. Sepertinya tadi sore ayah baru nyuruh Pak Harjo untuk beli makan ayam lagi deh. Biar besok sekalian pak Harjo urus,” kata Herry saat mendengar pesan Yanto yang Fitri sampaikan.
Karena sirine mobil polisi, maka tentu saja itu menarik perhatian warga sekitar rumah kost. Ramai kasak kusuk tetangga yang ingin tahu, tapi polisi sudah menutup pagar. Satpam juga tidak diperbolehkan membuka pagar. Siapa pun tak boleh masuk kecuali atas izin dari polisi.
Erlina mengeluarkan buku besar data penghuni kost. Dia mencoba mencari nomor yang bisa dihubungi dari datanya Asih. Perempuan tersebut dari Cilacap sama seperti dirinya. Erlina menghubungi nomor keluarganya Asih dan memberitahu soal kondisi yang Asih alami saat ini. tentu saja orang tua Asih kaget mendengar berita duka tersebut.
__ADS_1
Polisi bertanya pada semua orang di rumah itu mereka juga menyelidiki apa motif Asih bunuh diri.