
“Besok pulang sekolah sebelum ke kandang kita beli buah dulu yuk,” ajak Andre pada Tria yang berhasil dibujuk Satrio untuk makan malam romantis di kebun belakang.
“Aku nggak sempat Kak. Aku besok ada jadwal pendalaman materi sebelum ujian. Jadi aku ke kandang juga hanya sebentar saja atau mungkin nggak ke kandang karena besok jadwalku padat buat pendalaman materi,” kata Tria.
“Oh kita beda jadwal ya. Kalau Kakak hari Rabu dan hari Kamis pendalamannya. Dan sebalnyyang hari Kamis bentrok sama jadwal latihan taekwondo Kakak,” ujar Andre.
“Iya sih Kak. Kan memang gurunya juga beda-beda. Bahkan yang sesama IPS juga ada beberapa rekan yang nggak sama waktu pendalaman materinya,” kata Tria.
Sebenarnya Andre hanya ingin memecahkan keheningan sebab sejak tadi Tria maupun Satrio sepertinya tak mau bicara. Satrio tentu terluka kakaknya sedih.
“Besok aku kayanya agak bebas, biar aku saja yang beli. Kalian catatkan saja apa yang hendak kalian pilih untuk buah minggu ini,” kata Satrio.
“Aku sih nggak ada buah yang dituju. Tapi yang aku ingin selalu ada juice strawberry,” jawab Tria. Dia memang kebalikan sama keluarga Timah yang tak suka strawberry. Dia sangat suka strawberry, tinggal ditambah banyak gula jadi asam-asam manis.
“Ternyata kiwi itu kalau buat juice aku rasanya kurang pas ya. Tidak ada keistimewaan untuk jus,” kata Andre.
“Iya Kak. Lebih enak jus sawo loh. Pernah kita beli sawo sedikit karena kata Timah enak. Kita coba sawo tekstur rasa sawonya lebih kerasa daripada kiwi. Kalau menurut kita, tapi menurut orang lain kan belum tentu sama,” ujar Satrio.
__ADS_1
“Ya, sawo tapi kan musiman juga,” kata Andre.
“Iya sih sawo musiman. Tapi daripada pear, nggak ada rasa sama sekali. Cuma manisnya memang kalau pear sepertinya tambah gulanya hanya sedikit,” jawab Satrio.
“Kalau gitu beneran Kak, kita harus beli duren,” usul Tria.
“Nah itu. Ayo kita beli yuk. Walaupun tidak bagus tapi kalau untuk jus lumayan loh. Jadi beli durian yang murah saja untuk jus nggak perlu yang mahal atau manis,” jawab Andre.
“Nah bener itu, kita beli saja duren yang murah untuk jus tapi yang bagus yang mahal untuk kita makan,” kata Satrio setuju.
“Kenapa milih makan di belakang?” tanya Andra yang tiba-tiba datang ke belakang.
“Kami tidak satu level dengan teman-teman Abang. Jadi biar kami makan di sini saja,” jawab Andre ketus.
Andra tak berani melawan kalau Andre sudah ketus seperti itu. Sejak kecil walaupun beda usia mereka 4 tahun tetap saja Andra tak berani pada Andre. Karena sejak kecil Andre memang lebih beringas dari dirinya dan kalau dalam ilmu bela diri Andre jauh lebih tinggi. Karena Andra sama sekali tak menggeluti bela diri.
“Tria, Abang minta maaf ya. Tadi teman Abang bicara seperti itu. Sejujurnya Andri itu baik, dia sebenarnya yang niat bertemu denganmu untuk berkenalan. Tapi tadi kamu bertemu dengan Luhut dan Binsar, sehingga mereka ikut ke sini. Tapi serius kami tak ada niat untuk merendahkan kamu seperti Eka,” ucap Andra.
__ADS_1
“Nggak apa-apa kok Bang. Memang nasib aku yang seperti ini. Tak punya orang tua tapi punya nama jelek kakak seperti Eka. Itu sudah nasib yang harus aku terima,” ucap Tria berupaya tak menangis lagi.
“Kamu nggak seperti itu!” tegas Andre.
“Kamu punya mama dan papa di sini. Mereka orang tuamu. Kami tak pernah membedakan. Kamu itu anak mama dan papa Gultom. Kamu anak Gultom!” kata Andre lagi.
“Dan Abang ini, Abangmu. Bukan hanya Abangnya Andre,” kata Andra menegaskan.
“Terima kasih Bang,” jawab Satrio cepat.
“Sudah nggak usah diperpanjang Bang. Saya juga nggak butuh teman-teman seperti mereka,” kata Tria.
Tentu saja Andra semakin sedih mendengar adiknya bicara seperti itu. Dia mendekati Tria dan mengecup puncak kepala adik kecilnya itu.
“Maafin Abang ya. Abang nggak pernah niat nyakitin kamu. Kamu adik Abang,” kata Andra.
“Iya Bang nggak apa-apa kok,” jawab Tria.
__ADS_1