BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
KAMU SATU TIM DENGAN DIA?


__ADS_3

“Tumben kamu datangnya pagi,” kata Herry saat Tria baru turun dari boncengan motor. Mereka bertemu di parkiran. Saat itu Herry sudah hampir meninggalkan motornya ketika Andre masuk dan parkir di sebelahnya menggunakan motor Tria.


Herry kesal ketika mengetahui hari ini Andre membawa motornya Tria ke sekolah sehingga Tria yang bonceng.


“Eh, iya. Sejak kemarin sore pulang latihan futsal, motor kak Andre rusak. Jadi dia tadi bilang aku bareng dia. Semoga saja nanti siang motornya sudah betul. Tadi pagi sudah kami antar ke bengkel,” kata Tria.


“Aku memang datang lebih pagi takutnya bengkel sudah ramai lalu pekerjaan motor Kak Andre jadi mendapat giliran yang berikutnya,” jelas Tria. Semalam Andre sudah telepon montir langganannya agar menerima motornya sebelum bengkel buka.


“Oke deh ayo aku duluan,” kata Herry. Dia tak menyapa Andre karena memang tak kenal dekat, juga saat itu Andre belum selesai memarkir motornya dan membuka helmnya.


‘Aduh pagi-pagi sudah bad mood saja. Semoga saja aku nggak ngamuk-ngamuk sama teman-teman,’ batin Herry kesal.


‘Eh, tapi apa urusannya aku ngamuk sama orang? Lagi apa urusannya aku kesal?’ kata Herry lagi dalam hatinya.


‘Kan aku juga yang larang dia suka sama aku. Kenapa sekarang jadi aku yang suka sama dia?’ terus saja Herry berpikir galau.


‘Aku suka sama dia?’ tanya Herry saat menyadari kata-kata dalam hatinya barusan.


‘Apa aku suka dia beneran?’ Herry  terus berpikir begitu sampai dia tak sengaja menabrak Melisa teman satu SMP-nya dulu tapi tak pernah satu kelas saat di SMA ini.


“Maaf ya Lis. Maaf banget. Aku nggak lihat,” kata Herry. Untungnya Melisa tidak apa-apa dan tak ada barang yang terjatuh seperti di novel-novel, misalnya bukunya Melisa berantakan lalu Herry membantu. Itu tidak terjadi mereka hanya bertabrakan tidak keras.

__ADS_1


“Nggak apa-apa kok. Aku juga salah.” kata Melisa dengan suara bergetar. Sejak dulu dia menyukai Herry, tapi hanya dia simpan dalam hati saja.


“Aku lagi lihat ponsel, jadi nggak lihat jalan,” jawab Lisa selanjutnya.


“Oke aku langsung ke kelas ya,” kata Herry lagi tanpa basa basi.


“Ya Her, nggak apa-apa kok. Nggak usah dipikirin.”


Herry langsung masuk ke kelasnya. Baru saja mau duduk, Harry datang


“Ngomong-ngomong stock kambing masih banyak nggak?” kata Harry.


“Mau berapa puluh?” tanya Herry.


“Aku 200 rius,” kata Herry.


“Memang kamu butuh buat apa dan kapan?”


“Butuh dua lagi sih buat minggu besok. Kemarin kakak sepupu ngomong tapi dia nggak bilang sama aku. Aku pikir dia mau cari tempat lain sambil nunggu bayinya lahir. Eh semalam dia minta aku belikan di tempatmu,” jawab Harry.


“Ada. 10 ekor juga siap kok. Kalau di atas itu mungkin kami cari ke mitra kami,” balas Herry.

__ADS_1


“Ya sudah nanti aku pulang bareng kamu saja. Kita bicara sama Timah,” kata Harry.


“Pulang sekolah aku mau ke kandang,” balas Herry.


“Kandang? Apa maksudmu”? tanya Harry.


“Ke posko kami. Tempat aku, Tria, Timah dan Satrio ngobrol. Nanti jadwal kami kumpul untuk membahas program. Kamu boleh ikut kok. Kita bicara di sana. Jadi kamu bisa pesan pada Timah langsung. Lagian kamu kan sudah punya nomor Timah kenapa bicara sama aku?” tanya Herry.


“Aku takut orang salah duga kalau bicara langsung ke Timah. Walau ini urusan bisnis.”


“Nggak apa-apa kok. Kamu boleh saja bicara ke aku, ke Tria, Timah atau Satrio. Kami satu team management.”


“Kamu bekerja dalam satu tim dengan Tria?” tanya Harry.


“Iya, ada yang aneh?” tanya Herry.


“Ya aneh saja. Bukannya karena dia kamu jadi bermasalah di pengadilan?”


“Betul. Memang karena dia. Tapi pelakunya bukan dia kan? Bahkan kalau pelakunya dia pun aku masih tetap bisa bekerja sama asal dia minta maaf dan akan benar-benar merubah sikapnya,” ucap Herry.


“Aku salut sama sikapmu. Oke sampai ketemu nanti jam istirahat kedua ya, kita makan bareng,” kata Harry.

__ADS_1


“Siap, aku tunggu nanti kita makan bareng,” jawab Herry sebelum Harry meninggalkan kelasnya.


__ADS_2