BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TAK BOLEH ADA RUANG TERTUTUP


__ADS_3

Usia Daffa sekarang sudah 3 tahun sedang Daanish sudah 2 tahun tapi belum ada tanda-tandanya akan punya adik. Padahal Fitri tak mengikuti program KB sama sekali. Daffa sudah mulai masuk PAUD untuk mulai bersosialisasi dengan teman sebaya. Satu minggu hanya 3 hari saja. Biasanya Yanto dan Fitri akan menemani putra sulungnya selama dua jam di sekolah. Yanto tak ingin ketinggalan moment itu, mereka membawa Daanish sekalian anak ke dua mereka bermain dengan mainan sekolah saat kakaknya berada dalam kelas.


“Mau bikin tambah kamar enggak Ma?” tanya Yanto sambil mencoret-coret bagan yang dia buat.


“Enggak usah lah Mas. Cuma kamar yang sekarang ini, kita bikin agak ke belakang aja. Kita geser bisa enggak?”


“Bisa aja. Kamar yang sekarang nanti pun tidak usah dibongkar, itu untuk ruang administrasi saja,” jelas Yanto.


“Kalau untuk administrasi tetap harus dibongkar Mas. Aku enggak mau ruangan tertutup seperti itu buat kantor. Nanti bisa aja dibuat macam-macam. Aku enggak mau terjadi affair di dalam kantor. Kalau itu buat ruang administrasi harus dibuat tembus pandang agar bisa kelihatan dari arah luar dan dalam,” pinta Fitri. Dia banyak tahu banyak bos yang bermain dengan orang lain di dalam kamar kerjanya.


“Ya ampun, enggak sekotor itu juga lah Yank,” jawab Yanto mengerti apa alasan istrinya.


“Terserah apa pun alasannya. Aku enggak mau ada sesuatu yang terjadi. Mungkin bukan Mas yaang melakukan, bisa aja orang lain gunakan ‘kan?”


“Dan kalau kamar kita tidak boleh ada orang luar masuk sama sekali. Tidak ada orang luar boleh masuk walau itu orang laki sekali pun. Hanya kita berdua yang pegang kunci ruang itu.”


“Iya Mas mengerti,” balas Yanto.

__ADS_1


“Kamarnya di bikin agak luas Mas, jadi anak-anak juga bisa membaca atau bermain di sana. Karena makin lama mereka makan makin besar, tentu butuh tempat belajar juga kalau pas kebetulan kita bawa,” usul Fitri.


“Jangan lupa kamar mandinya siapin. Kalau di ruang lama kan di kamarnya belum ada kamar mandi. Masih nyampur dengan kamar mandi buat umum,” Fitri memperhatikan rencana denah yang suaminya buat.


“Kita juga buat bikin ruang istirahat buat para teknisi sekalian tempat salat. Jadi mereka enggak kesusahan kalau ingin istirahat sejenak. Mungkin aja mereka sedang kurang enak badan sehingga ingin istirahat. Kalau ada ruang istirahat kan mereka jadi lebih tenang.”


“Oke,” balas Yanto.


“Tapi ingat Mas kita harus prepare buat sambung ke belakang jadi jangan ditutup akses kebelakang dengan bangunan. Nanti kalau tanah belakang kebeli harus bongkar lagi akan bingung.”


“Iya itu maksud aku. Jangan sampai nanti kamar kita terletak di tengah-tengah sehingga harus bongkar ulang lagi.”


“Enggak lah, Mas tahu itu.”


Fitri dan Yanto memang sedang membuat oret-oretan apa yang akan mereka bangun di bengkel. Sekarang mereka jelas akan membangun sesuai dengan keinginan, tidak seperti dulu. Bangunan dulu adalah sewa atau kontrak sehingga tentu saja mereka tidak berani merenovasi secara permanen. Kalau sekarang karena sudah milik mereka maka tentu saja akan dibuat permanen sesuai kebutuhan.


“Dananya masih cukup enggak Mas buat bangun semua itu?”

__ADS_1


“Buat bangun dan tambah beli dua mobil serta beberapa motor serta biaya operasional seperti gaji karyawan dan semuanya masih cukup kok,” kata Yanto.


“Alhamdulillah kalau masih cukup, tapi itu enggak diganggu dana tabungan sekolah anak-anak kan?”


“Ya enggaklah, kan rekeningnya sudah kita pisah? Sejak awal tabungan pendidikan mereka tiap bulan enggak diganggu dari tabungan usaha. Juga uang rumah tangga sudah kita pisah. Bukannya kamu yang atur semua itu?”


“Memang aku yang atur tapi kan maksud aku kita mau bangun ini kan di luar biaya untuk beli mobil dan motor maka aku tanya cukup enggak?” ta Fitri.


“Cukup. Cukup-cukup aja untuk beli mobil dan motor masih cukup dipotong biaya bangun baru.”


“Ya sudah kalau cukup. Aku cuma takutnya itu mengganggu uang perputaran modal,” jelas Fitri.


“Enggak, enggak akan ganggu. Lebih-lebih semua marketing manager ku yang atur. Pasti enggak akan keganggu. Eh salah, finance manager ya? Bukan marketing manager, kita enggak pakai marketing manager kok,” kata Yanto lagi. Fitri tersenyum mendengar godaan suaminya


\==================================================


__ADS_1


__ADS_2