BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
HARUS SEGERA PUNYA BISNIS


__ADS_3

“Bisa janjian ke kandangku nggak Dek?” kata Tria pada Timah.


“Besok pulang sekolah ya Mbak,” kata Timah. Dia juga tak menolak bila harus ke kandang peternakannnya Tria.


“Ya udah nanti biar kamu dijemput Satrio ya. Aku nunggu di kandang aja,” kata Tria.


“Ya Mbak. Nggak apa-apa aku berangkat sendiri aja. Nggak usah dijemput Mas Iyok,” kata Timah.


“Nggak, biar nanti aku yang bilang sama dia suruh jemput kamu. Pasti dia mau.”


“Oke kalau begitu,” jawab Timah. Dia bertekad besok membawakan Satrio burger.


Kemarin Yanto habis beli roti burger ukuran kecil-kecil dalam jumlah banyak sehingga Herry mau pun Timah bisa bawa lebih dari satu selain tentunya bahwa bekal nasi untuk makan siang.


Isi burger sudah dibuat oleh Yanto saat mendapat kiriman ayam potong dari ibu Erlina. Mereka sengaja bikin burgernya isi ayam, sehingga tak perlu beli daging giling.


Timah sudah berniat besok irisan timun dan tomat tentu tidak langsung dicampur di roti agar tidak lembek rotinya nanti.


“Kamu sudah keluar lama?” tanya Satrio saat baru datang ke sekolah ternyata Timah sudah ada di depan sekolah.


“Belum kok Mas. Aku baru aja keluar pas lihat Mas berhentikan motor di depan,” kata Timah.

__ADS_1


“Duduk sebentar ya. Aku bawain Mas burger. Mau pakai sambel atau enggak?” kata Timah.


“Kok tahu aku belum makan? Barusan aku mau ngajak kamu makan loh.”


“Aku sudah makan. Ini ganjel burger kecil-kecil saja ya? Isinya pakai ayam. Aku bawain irisan tomat sama timun juga daun selada terserah Mas mau pakai sambal nggak.”


“Banyakin sambelnya deh,” jawab Satrio.


Timah membuat semua burger diisi dengan banyak sambel. Dia membawa lima keping roti burger ukuran kecil.


“Sudah aku racikkan tinggal Mas makan nih,” Timah menyodorkan burger bikinannya.


“Ini aku makan satu,” jawab Timah. Mereka pun makan bersama sebelum berangkat ke kandang kelincinya Tria.


“Mas, nanti beli mie ayam bakso ya di tempat langgananku.” pinta Timah sebelum mereka jalan.


“Kita makan mie sama Mbak Tria.”


“Oke siap,” kata Satrio. Mereka pun akhirnya jalan setelah Satrio menghabiskan dua roti dan Timah memakan satu. Masih ada dua keping roti yang belum mereka.


“Tadi kamu bawa nasi dan lauk?” tanya Satrio saat mereka sedang menunggu mie ayam yang Timah pesan.

__ADS_1


“Iya Mas, tadi aku bawa nasi dan lauk. Tapi karena ingat ada Mas aku langsung bawain burger.”


“Nanti Mas makan lagi burger tadi ya atau ini mie ayamnya juga aku belikan buat Mas koq,” kata Timah.


“Ini Mbak,  mie ayam dan bakso yang dipisah,” kata penjual sambil menyerahkan tas kresek.


“Semua jadi berapa?”


“Sudah dibayar Mas-nya kok,” jawab penjual.


“Lho Mas, kenapa Mas yang bayar? Kan aku yang pesan,” protes Timah.


“Kan nanti yang makan aku sama Mbak Tria juga kan? Ya nggak apa-apa kalau Mas yang bayar,” kata Satrio.


“Besok-besok lagi jangan ya Mas. Bukan nolak dibayarin Mas, tapi Mas belum berpenghasilan. Jadi lebih baik uang Mas di tabung aja,” kata Timah dengan bijaksana.


“Ya ampun, jadi aku setiap pergi sama kamu nggak boleh traktir kamu?” kata Satrio.


“Kalau kita mau makan bareng ya kita bayar sendiri-sendiri aja, kalau Mas nggak mau aku bayarin,” jawab Timah dengan tegas.


‘Wow kalau kayak gini memang aku harus punya bisnis secepatnya. Karena dia nggak mau aku bayarin pakai uang orang tuaku. Ini anak benar-benar beda deh,’ kata Satrio dalam hatinya. Dia benar-benar tak percaya ada anak kecil yang tidak mau di jajanin. Padahal biasanya siapa pun pasti suka dijajanin orang lain.

__ADS_1


__ADS_2