
“Kita ke rumah ayah dulu ya biar Mas bisa lihat peternakan ayam petelur aku juga ayam negeri yang kami rawat secara liar dalam kandang tentunya, jadi kami biarkan dia berkeliaran seperti ayam kampung, dagingnya nanti terasa lebih keras dan enak seperti ayam kampung,” ujar Timah. Untuk ayam yang di liarkan pakannya bukan seperti ayam petelur, melainkan hanya di beri sisa dapur saja. Selain itu juga remah konsentrat yang jatuh dari kandang ayam petelur.
“Oke nggak apa-apa,” kata Satrio ketika Timah mengarahkan motor mereka ke arah rumah Suradi.
Suradi tentu senang karena sudah tahu tentang Tria. Sambutan dari Erlina juga sopan dan lembut. Satrio semakin senang dengan sambutan tuan rumah itu.
Timah menjelaskan semua yang ingin Satrio tanyakan.
“Semua sampah dapur diiris halus lalu dibuang ke kandang?”
“Iya. Nanti sampah yang tak mereka makan dan sudah bercampur kotoran akan di kumpulkan untuk campuran media di pot tanaman,” ucap Timah.
“Kalian belum pulang ke rumah?” Tanya Erlina, karena dia melihat Timah masih menggunakan seragam sekolah. Dia mengeluarkan ubi rebus.
“Belum Bu. Aku dari sekolah langsung ke sini. Belum pulang ke rumah ,” jawab Timah sambil memperhatikan telur ayam negeri yang terjadi karena kasus pembuahan. Telur ayam seperti ini tentu bisa dierami karena ada benihnya. Beda dengan telur yang dihasilkan ayam petelur.
__ADS_1
Timah juga menjelaskan tentang beberapa sayuran yang ada di sana yaitu hasil tanamnya Fitri dan ibu Gendis karena Bu Erlina tidak terlalu suka menanam. Dia hanya merawat saja. Kadang menyiram tapi kalau untuk menanam dan segala macamnya biasanya Gendis yang menangani.
“Ini hasil telurnya banyak?” tanya Satrio.
“Cukuplah untuk konsumsi tiga rumah,” jawab Timah tersenyum
“Belum pernah jual ke warung atau pasar. Warga sekitar yang mau beli tinggal datang ke sini. Kami jual selisih dua ribu dari harga umum. Karena jumlahnya tak banyak, warung juga tak protes.”
“Kok tiga rumah?” tanya Satrio.
“Pokoknya ayah atau ibu minimal dua kali sebulan berada di rumah kota. Saat itulah mereka bawa semua hasil dari sini. Baik ayam, ikan mau pun telur. Jadi di sana tinggal beli sayuran. Di sana pun yang makan juga hanya pembantu saja. Tak ada penghuni lain.”
“Kenapa kamu nggak tinggal di sana saja? Kan lebih dekat ke sekolahmu,” tanya Satrio.
“Tidak boleh sama ayah, ibu dan ibuku. Karena ayah dan ibu lebih banyak di sini. Begitu pun ibu kandungku nggak ngasih kalau tidak ada orang tua di sana. Walau ayah dan ibu satu bulan dua kali ke sana tapi hari-hari kan lebih banyak aku sendirian. Jadi nggak boleh,” jelas Timah sambil cuci tangan.
__ADS_1
“Kirain karena takut ternakmu terbengkalai,” ucap Satrio.
“Kalau ternak nggak akan terbengkalai, karena kami semua pasti akan merawat siapa pun pemiliknya. Tidak harus pemilik yang merawat.”
“Oh begitu.”
“Iyalah, kami kan satu keluarga. Ya harus saling menunjang dan saling melengkapi.”
“Masih ada yang ingin Mas tanya atau Mas kurang jelas?” tanya Timah sambil menyodorkan ubi pada Satrio setelah selesai cuci tangan.
“Cukuplah. Nanti kalau mau mendalami aku baru tanya kamu lagi. Yang penting aku gambarannya sudah dapat,” kata Satrio.
“Oke nanti sambil perjalanan ke rumah kita lewat ke tambaknya Mas Herry. Kita mampir untuk melihat ya,” kata Timah.
“Siap Bu,” goda Satrio.
__ADS_1