
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Yanto memandangi para pekerja yang sedang mendirikan tenda. Besok akan diadakan pengajian 7 bulanannya kehamilan Fitri dan pengajian besok akan mengundang anak yatim dari dua pondok pesantren.
Memang Suradi mengadakan pengajian besar-besaran sehubungan dengan kondisi Fitri yang bayinya sudah kembali normal
Fitri sudah semakin sulit bergerak, usia kandungannya 7 bulan tapi memang sangat besar karena dia sehat dan bayinya pun sehat.
Sudah sejak semalam Gendis dan anak-anak ada di rumah Suradi. Kebetulan hari Senin akan harpitnas, sehingga anak-anak hari Selasa libur sekolah. Memang Suradi mengambil waktu acara yang anak-anak asuhnya itu bisa lebih lama tinggal di rumahnya. Mereka datang ke rumah Suradi sejak hari Jumat sore.
“Ayah ini bagaimana?” tanya Timah yang sangat dekat dengan ayah asuhnya itu.
“Oh itu kamu harus melakukan hal ini dulu,” Suradi memperlihatkan bagaimana cara membuat prakarya yang bukunya diberikan oleh Suradi.
“Tapi aku kok salah ya, Yah harusnya kan yang hijau ini ke langkah biru dulu?” Timah memperlihatkan panduan karya yang dia buat sesuai step yang ada.
“Mana mungkin yang hijau ke biru ini kan kemerah dulu,” ujar Suradi
Timah memperhatikan langkah-langkah pada buku panduan dan ternyata benar yang diberitahu ayahnya.
Kerajinan yang dibuat Timah adalah membuat bel elektronik manual. memang Suradi membelikan semua bahannya. Ada beberapa paket rangkaian yang Suradi beli.
Entah mengapa sebagai perempuan Timah suka dengan latihan elektronik, Suradi sudah berniat akan menyekolahkan Timah menjadi Insinyur elektro atau bisa jadi dia arahkan ke kedokteran bila Timah mau diarahkan sesuai perkembangan usianya nanti, sekarang Suradi sedang membiarkan Timah terpuaskan hasrat belajar elektronya.
Sedang kalau Herry, Suradi memperhatikan anak lelakinya itu lebih senang ke bentuk bangunan sehingga akan dikuliahkan di bagian arsitektur oleh Suradi. Suradi tak ingin anak-anak asuhnya setengah-setengah pendidikannya. Dia bahkan sudah memberitahu tabungan kuliah keduanya pada istrinya bila dia tak panjang umur.
__ADS_1
“Alhamdulillah,” kata Gendis setelah pengajian serta pemberian santunan buat anak yatim dari 2 Pondok Pesantren terlaksana dengan baik.
Satu pondok pesantren diberikan santunan oleh Fitri dan Yanto satunya diberikan oleh Suradi dengan jumlah santunan tiap amplop sama. Awalnya semua mau diberikan oleh Suradi, tapi Fitri tak mau. Fitri minta harus dia yang memberikan santunan jadi tidak semua keluar dari Suradi. Akhirnya mereka sepakat 1 pondok pesantren ditanggung oleh Fitri.
“Papa, Papa,” Fitri mengguncang lengan Yanto yang baru akan tidur.
“Iya Sayank,” jawab Yanto dengan pelan karena sangat mengantuk.
“Bayinya mau keluar,” desis Fitri sambil menahan sakit.
“Bagaimana mau keluar? Wong baru 7 bulan,” Yanto langsung panik. Siang tadi baru selesai acara pengajian para santri panti asuhan. Sekarang istrinya sudah lapor baby akan keluar.
“Tapi ini ketuban sudah rembes Pa, dia sudah mau keluar,” jawab Fitri sambil meringis. Melihat itu Yanto langsung berlari keluar kamar. Saat itu sudah jam 9 malam.
“Kenapa Nang?” tanya Gendis yang sedang membereskan sisa sayuran yang belum dimasak dan akan dia pilah-pilah untuk disimpan di kulkas. Gendi belum bersiap untuk pulang karena anak-anak masih punya libur dua hari lagi. Hari Selasa malam dia baru akan pulang ke desa.
“Fitri sudah mau melahirkan Bu,” jawab Yanto pada Gendis, Erlina yang ada bersama besannya pun kaget.
“Ya sudah ayo kita berangkat,” ajak Erlina cepat. Dulu Fitri pun lahir saat usia 7 bulan. Di keluarga Erlina sudah tak asing kelahiran dengan usia 7 bulan. Dulu ibunya Diah juga anak keduanya lahir 7 bulan dan kedua anak Diah juga lahir di usia 7 bulan.
“Ya Allah, kuatkan istriku. Aku tak ingin terjadi hal-hal yang tidak yang buruk,” kata Yanto lirih. Dia memeluk Fitri dengan penuh cinta. Yang mengendarai mobil adalah sopir Suradi, mereka di mobil itu ditemani oleh Suradi.
Erlina serta Gendis di mobil satunya, dikendarai Gendis karena Erlina malah tak bisa mengendarai mobil. Dia terbiasa disopiri.
__ADS_1
“Ini sudah pembukaan 6 Bu. Tunggu sabar ya,” kata bidan yang sedang bertugas.
“Saya sudah panggil dokter sejak tadi,” lanjut bidan tersebut karena riwayat pernah sungsang dan segala macam, maka bidan langsung memanggil dokter saat Yanto bicara bahwa sedang menuju rumah sakit memberitahu Fitri akan melahirkan.
“Ibu tunggu di luar ya biar suaminya aja yang di dalam. Ini sudah akan langsung persiapan karena sudah pembukaan 6 jadi ibu diminta semua keluar,” kata bidan pada Erlina dan Gendis.
“Bismillah ya Nduk, kamu kuat,” kata Gendis sambil mencium kening menantunya.
“Doain aku ya Bu,” Fitri mencium tangan Gendis sambil sesekali menahan sakit.
“Ibu pasti doakan yang terbaik buat kamu,” jawab Gendis tulus.
“Ibu maafin aku ya? Doain aku,” kata Fitri pada Erlina.
“Ya Nduk, Ibu di luar ya bersama Bu Gendis. Doa ibu untukmu kok,” balas Erlina dengan berlinang air mata dia memeluk dan mencium putri tunggalnya.
Suradi sejak tadi di luar bersama Timah dan Herry.
Dua jam kemudian Fitri melahirkan secara normal, seorang bayi laki-laki yang sangat besar untuk ukuran bayi pertama beratnya 3,6 kg atau 3600 gram panjangnya 53 cm. Bayi itu lahir setelah pergantian tanggal. Pukul 00.07.
Yanto segera meng-adzani putranya dengan suara lirih dan bergetar. Yanto terharu bisa memiliki momongan. Suatu anugerah yang sangat besar untuknya. Daffa Maulana Putra telah melengkapi kebahagiannya dan Fitri.
“Alhamdulillah,” kata Suradi saat menerima ari-ari dari bidan yang akan ditanam di rumah mereka sesuai dengan adat yang mereka percaya yaitu akan diberi lampu selama 40hari.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok.
__ADS_1