
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sesuai saran Burhan, akhirnya Bambang tidak menikahi Yani esok harinya. Dia selalu mundur dan tak mau waktunya diatur Yani. Karena takut akan dibuat pesta atau selametan.
Bambang dan Burhan mencari ustad sendiri, agar tak masuk jebakan Yani. Akhirnya setelah satu bulan kemudian baru dia menikahi Yani jadi saat itu Yani sudah hamil 2 bulan baru dia nikah. Tapi sejak menikah pun dia tidak pernah menggauli Yani.
Sebagai tanggung jawab terhadap istri sirinya, Bambang mengontrak petakan untuk istrinya dan kalau berada di Bogor dia tidur di sana tapi tak pernah menggauli. Dia hanya bicara bila perlu saja.
Bambang tak memberi nafkah belanja yakni seperti nafkah pada istri yang sepatutnya. Sesekali dia memberikan dari uang makan atau uang tips dari penumpang yang memberi uang saat barang bawaannya banyak. Tapi tidak dari gajinya.
Bambang tetap menabung untuk membuka usaha yang tak ingin dia gagalkan. Yani juga sudah menerima kalau habis melahirkan dia akan dicerai.
Yani tak pernah komplain tak pernah digauli. Yang penting setiap Bambang datang ke rumah petakan mereka dia diberi uang belanja. Yani tahu dompet Bambang selalu kosong karena di sana tak ada uang lebih atau kartu ATM. Yani sering memeriksa dompet Bambang bila suaminya tidur, dan di dompet itu ada foto pernikahan Bambang dengan perempuan lain. Yani memandang itu dengan senyum mengejek.
__ADS_1
Yanto sekarang tiap bulan harus mengeluarkan uang buat sewa rumah petak yang ditinggali Yani karena dia tak ingin tinggal di rumah petak ibu mertuanya. Rumah petak Yani dan ibunya tak jauh. Yanto sengaja amabil petakan dekat agar kalau dia tak ada, Yani bisa minta bantuan ibunya. Walau tak cinta dan malas berkomunikasi, tapi sikap welas asih terhadap sesama masih ada dalam diri Yanto. Itu sebabnya dia mencari kemudahan buat Yani.
Itu awal Bambang ke jebak Yani yang nama lengkapnya Handayani. Bambang pun barutahu saat akan akad nikah di rumah ustad yang dia dan Burhan cari. Hanya Burhan yang tahu persoalan ini dari awal. Untungnya Burhan selalu setia dan bisa menutup mulut.
Sejak mengetahui Yanto tak menabung uang operasional Fitri mulai curiga, sekarang masuk bulan ketiga dan kembali Bambang tak menambah tabungan ari uang operasional, hanya uang gaji saja.
“Mas, kalau uang operasionalmu kurang, kamu bisa koq pakai uang gajimu buat kamu pakai sehari-hari,” pesan Fitri malam ini.
“Enggak Ma. Cukup koq, hanya enggak ada sisa buat tambahan tabungan aja. Tapi enggak akan ambil uang tabungan rutin kita,” sahut Yanto. Saat itu ponsel Bambang berdering. Nadanya beda dengan panggilan lain. Yanto agak pucat dan gugup mendengar dering itu.
“Dari kantor Ma,” Yanto memperlihatkan siapa yang menghubunginya. Fitri membaca nama terminal dua, dia pun tak curiga.
“Ada apa ya telepon malam-malam?” tanya Yanto datar tanpa salam, tentu ini diluar kebiasaan Yanto dan Fitri memperhatikan soal itu.
“Saya masih jadwal turun. Mungkin besok siang saya meluncur dari Giwangan,” sahut Yanto. Fitri hanya mendengar sekilas. Dia keluar kamar untuk mengambil air putih yang memang selalu ada di kamarnya saat malam.
Paginya saat Yanto sedang di kamar mandi kembali ada dering telepon dari terminal dua. Merasa itu soal pekerjaan suaminya, Fitri pun berinisiatif mengangkat.
__ADS_1
“Assalamu;alaykum,” sapa Fitri.
Tapi dari seberang langsung dimatikan. Fitri langsung curiga.
“Pa, terminal dua itu siapa?” tanya Fitri begitu Yanto keluar kamar mandi.
“Ya kantor Ma,” jawab Yanto.
“Aneh ya, telepon pagi-pagi sebelum jam buka kantor kan pasti penting, aku angkat koq malah dimatikan. Papa bisa telepon dia dengan dispeaker?” pancing Fitri.
“Apa sih Ma? Udah ayok sarapan, nanti Mama kesiangan,” ajak Yanto lembut.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok
__ADS_1