BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
PERHATIAN MAMA RIANA


__ADS_3

Harry, Satrio, Andre, dan Tria pamit pada ibu Gendis dan Suradi tentu juga pada Herry dan Yanto. Mereka akan pulang.


“Keluar bareng kami saja,” kata Yanto.


“Aku dan ibu juga akan pulang ke rumah kota, mau ambil bajunya ayah serta kalau bisa akan minta Fitri dan ibu pulang ke rumah desa saja. Kasihan anak-anak,” ujar Yanto.


“Oh ayo Mas, kalau mau ke depan bareng,” kata Andre.


“Aku di sini ya. Nggak ikutan keluar,” ucap Herry pada semua. Dia tak mau meninggalkan Suradi sendirian.


“Kamu pulang kapan?” tanya Harry.


“Bisa malam, bisa tengah malam. Aku pasti pulang. Tunggu Mas Yanto saja. Apakah Mas Yanto mengantar Mbak Fitri pulang ke rumah desa dulu atau hanya sopir yang mengantar. Aku takutnya Mbak Fitri enggak mau pulang kalau tidak ditemani atau tidak diantar Mas Yanto,” jelas Herry.


“Kalau sudah tengah malam mending Mas Yanto nggak usah kembali malam ini. Minta saja bawa baju sekolah dan buku pelajaranmu untuk besok. Mas Yanto ke sini habis salat subuh dan kamu langsung berangkat sekolah dari sini,” saran Tria.


“Aku rasa seperti itu lebih baik,” kata Satrio.

__ADS_1


“Boleh. Aku nggak keberatan. Kalau buku nggak usah lah nggak apa-apa. Yang penting baju ganti saja,” jawab Herry.


“Begitu saja Mas. Kalau memang Mas harus antar Mbak Fitri ke rumah desa. Mas ke sininya besok subuh saja. Aku yang malam ini jaga sama ayah,” putus Herry.


“Baiklah. Kita lihat kondisi Mbak Fitri ya. Kalian tahu sendiri kan mbakmu itu sedikit keras kepala. Tapi mas yakin dia pasti juga akan memikirkan anak-anak di rumah kok.” ucap Yanto.


“Iya Mas. Nggak usah memaksakan ke sini,” kata Herry lagi.


“Aku nggak apa-apa kok. Tenang saja.”


‘Nanti malam aku dan Kak Andre ke sini, antar makan buat Mas,’  itu pesan yang Herry terima saat dia menutupi pintu ruang rawat. Herry yakin Tria mengirimnya ketika tiba di tempat parkir motor.


‘Sudah nggak usah ngeyel. Nanti aku yang bawakan makan malammu sama ayah,’ balas Tria selanjutnya.


‘Ya sudah. Terima kasih sebelumnya. Hati-hati ya,’ Herry tak mau berdebat.


‘Ya.’ jawab Tria.

__ADS_1


“Kak nanti malam kita antar makan buat Mas Herry sama ayah Suradi yok. Kasihan dia kalau harus cari makanan. Sementara ayah terlihat apatis seperti itu. Sama sekali no respon.


“‘Boleh. Kita satu motor saja kan?” jawab Andre sambil menaruh helmnya di rak helm. Mereka baru tiba di rumah.


“Iya Kak. Kita satu motor saja. Nanti kita pamit sama mama dulu,” ucap Tria.


“Oke nanti kita yang bawakan makan malam saja,” jawab Andre. Dia sudah mulai terbiasa teposelero seperti Satrio dan Tria.


“Kamu baru pulang kok langsung masak?” tanya Riana yang sore hari itu sudah ada di rumah.


“Aku nanti habis magrib langsung ke rumah sakit ya Ma, sama Kak Andre,” ucap Tria, bukan menjawab mengapa dia masak.


“Ini aku mau bawa makan malam buat mas Herry dan ayah Suradi. Ibu Erlina ada di rumah sakit karena stroke. Aku sama Kak Andre mau bawakan makan malamnya,” jelas Tria.


“Kalian mau bawakan Herry dan pak Suradi makan malam. Kalian sendiri berangkat habis magrib artinya kalian belum makan?” kata Riana.


“Tidak bisa, kalian juga harus bawa makan malam buat kalian atau kalian makan dulu baru berangkat,” jawab Riana. Dia tidak melarang tapi hanya membatasi mereka untuk tidak terlambat makan.

__ADS_1


“Baik Ma, nanti aku tanya Kak Andre mau makan bareng di rumah sakit atau kami berangkat sesudah makan,” kata Tria yang diminta Riana untuk memanggil mama dan papa pada dirinya dalam Gultom.


“Iya Ma nanti jawabannya nunggu Kak Andre ya Ma,”  Tria melanjutkan memasak ayam bumbu nanas yang resepnya sudah dibuat paten oleh Timah sesuai dengan lidah mereka. Bukan sesuai dengan yang di google.


__ADS_2