BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
SALAH MAMAS


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Sayaaaaaaaaaaaaank, Astagfirullaaaaaaaaaaaaah,” Yanto langsung menjerit ketika masuk ruang rawatnya melihat Fitri sedang dibantu dua orang suster dan Gendis untuk berbaring di brankar yang seharusnya ditempati Fitri, bukan brankar buat Yanto.



Kalau tak ingat kondisinya dia ingin langsung berlari menghampiri Fitri. Yanto berjalan tertatih menghampiri brankar Fitri.



Fitri terlihat sudah sangat lemas karena habis muntah-muntah hal ini terjadi sebab Yanto di bawa oleh suster untuk CT Scan dan segala macam pemeriksaan yang ruangannya tidak boleh dimasuki oleh ibu hamil terutama ruang rontgen itu tidak baik buat kesehatan bayi.



“Begini kalau dia jauh dari kamu, mungkin orang bisa aja bilang dia pura-pura tapi Fitri tidak akan pura-pura berbuat begini karena akan berakibat fatal buat janin yang dia kandung,” kata Gendis sambil sedikit menangis dia memang sangat sedih melihat bagaimana kondisi Fitri bila jauh dari Yanto.



“Sayank, ini Mas sayank,” kata Yanto. Fitri membuka mata dan tersenyum. Saat itu suster kembali memasang infus karena dokter barusan memeriksa Fitri. Dokter khawatir Fitri kekurangan cairan buat bayinya. Dokter langsung memberi suntikan untuk penguat kandungan Fitri.



“Ibu berbaring lagi ya. Ibu sekarang pasien lagi,” kata suster dengan sabar. Baju suster penuh muntahan Fitri. Begitu pun lantai yang sekarang sedang di pel oleh petugas kebersihan. Baju Fitri sudah diganti oleh Gendis dan seorang perawat karena penuh muntah.



“Iya,” jawab Fitri dengan lemah.


__ADS_1


“Kamu cuma ditinggal sebentar kok kayak gitu sih?” kata Yanto sambil mengusap-usap kepala istrinya. Yanto dibantu oleh suster untuk duduk di bed yang ada Fitri karena tangan kiri Yanto masih ada infus sehingga agak sulit bergerak. Yanto mencium kening istrinya. Yanto setengah berbaring, dia usap-usap perut Fitri dengan lembut agar Fitri merasa nyaman.



“Ini Papa Dek,” bisik Yanto.



“Papa tadi pergi cuma periksa aja kok, enggak ke mana-mana. Papa enggak pergi jauh dari Dede’ dan mama,” kata Yanto lagi.



Yanto menyadari kemungkinan bayinya merasa takut ditinggal seperti saat dia meninggalkan Fitri dan si bayi untuk  berpaling pada Yani. Saat itu rupanya Fitri sudah hamil sehingga Dede’ merasa tak nyaman papanya mempunyai perempuan lain.



“SayanK ini Papa, jangan ngambek lagi ya,” kata Yanto sambil terus mengusap perut Fitri. Tak lama Fitri mulai tertidur. Mungkin karena lelah juga karena obat yang disuntikkan oleh suster.




“Waktu itu kamu masih koma dan dibawa buat cek tulang punggung.  Saat itu ibu bersama Bu Erlina bingung, kenapa tiba-tiba Fitri mual dan langsung muntah-muntah serta lemas ketika kamu dibawa keluar ruangan. Percaya tidak percaya tapi beginilah kondisi Fitri bila tidak ada kamu.”



“Karena itu sehabis dirawat dulu, kami sepakat dia tidak pulang ke rumah tapi dibiarkan tidur di sini. Waktu itu memang ayahmu mengajak diskusi baik buruknya Fitri dibawa pulang. Kami juga diskusi dengan dokter melihat kondisi Fitri kalau jauh dari kamu,” cerita Gendis pada putranya.



“Mamas yang salah Bu, Fitri dan bayi ini merasa takut bila Mamas seperti kemarin, jauh di dalam lubuk hati Fitri dia ketakutan bila dia hamil sendirian. Itu mungkin yang menyebabkan dia seperti itu. Hamil sendirian suaminya malah berpaling pada perempuan lain.”


__ADS_1


“Ada rasa tak nyaman dalam dirinya sehingga begitu jauh dia merasa seperti tak punya tulang. Seperti tulangnya dilolosi dari badan, sehingga dia lemas. Semua karena  Mamas yang salah,” Yanto menyesali perilakunya mau saja dijebak oleh Yani.



“Kamu waktu itu tidak pikir panjang, sudah berapa kali Ibu bilang tak mungkin bisa sekali jadi. Kamu dijebak begitu aja langsung percaya sama perempuan tak benar itu,” kata Gendis kesal.



“Waktu itu Mamas cuma berpikir bagaimana sakit hatinya Fitri bila mengetahui kabar itu dari mulut perempuan tersebut Bu. Mamas lagi cari waktu agar bisa langsung bicara dengan Fitri dari hati ke hati, tidak mengagetkannya dan membuat dia terluka.”



“Mamas sangat mencintai dia sehingga tak ingin dia sakit hati. Mamas ingin bicara pelan-pelan. Ternyata malah kondisinya seperti itu,” sesal Yanto.



“Dia curiga dari uang tabungan bulanan yang tak pernah kamu tambahkan. Karena biasanya selalu ada uang tabungan selain dari uang gajimu. Itu yang Fitri ceritakan pada Ibu.”



“Iya Bu. Memang uang operasional aku habis, aku pakai buat bayar periksa rumah sakit perempuan sampah itu, juga untuk bayar sewa rumah bulanan. Kalau buat makan aku jarang kasih. Kalau aku datang sesekali aku kasih uang makan. Tapi yang rutin yaitu aku bayar uang periksa juga uang sewa rumah.”



“Tidak setiap ke Bogor aku tidur di rumah itu. Aku lebih sering tetap di mess PO saja daripada di rumah itu.”



“Apa benar kamu tak pernah menyentuh perempuan itu setelah kamu menikah?” tanya Gendis.



Hayo siapa yang sama penasaran dengan bu Gendis? Kasih komen manis ya?

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul REVENGE FOR MY EX HUSBAND yok.



__ADS_2