
Sudah satu minggu sejak kejadian bunuh dirinya Asih. Rumah kost sudah mulai berjalan seperti biasa. Tak ada masalah apa pun. Kamar tempat Asih bunuh diri pun sudah dibersihkan. Barang-barang Asih sudah dibawa pulang oleh keluarganya. Beberapa kali polisi masih datang untuk melihat TKP.
Belum ada laporan perkembangan polisi. Satu hari sesudah kejadian Yanto langsung pulang ke rumah tentu saja dia mampir ke bengkel lebih dulu. Pak Suradi dan Bu Erlina masih tetap ada di rumah kota sampai saat ini walau sudah seminggu sejak terjadi peristiwa nahas tersebut.
“Bapak, Ibu mohon maaf ini kesimpulan sementara kami,” kata polisi perempuan yang mengepalai penyelidikan kasus bunuh dirinya Asih. Hari ini polisi datang tadi dia sudah menelepon Pak Suradi untuk bertemu.
“Bagaimana kejadiannya Mbak?” kata Bu Erlina pada polisi tersebut yang bernama Herlina Tanjung, nama mereka sangat mirip dan Herlina tidak mau dipanggil Ibu oleh bu Erlina.
“Menurut penyelidikan kami Mbak Asih bunuh diri karena patah hati Bu. Satu bulan sebelumnya dia dipaksa oleh kekasihnya untuk melakukan hubungan dengan alasan sebagai bukti bahwa Mbak Asih memang benar-benar mencintai pacarnya tersebut.” Herlina mencoba memberi sedikit keterangan pada Erlina.
__ADS_1
“Sudah cukup lama Mbak Asih selalu menolak tapi akhirnya satu bulan lalu permintaan itu dikabulkan.
“Memang baru satu kali sejak kejadian itu tapi tetap saja kan Mbak Asih sudah ternoda. Sehari sebelum Mbak Asih bunuh diri pacarnya bilang dia sakit sehingga harus pulang ke kampung. Mbak Asih bingung kok sakit malah pulang ke kampung. Dia tanya sakit apa katanya sakit lambung.”
“Akhirnya Mbak Asih pun tanya kepada teman kantor pacarnya. Ternyata hari itu di kantor semua tahu pacarnya sedang menikah karena ada teman kantor mereka yang telah hamil 2 bulan oleh pacarnya itu.”
“Tidak bisa Bu. Pacarnya tidak bisa dijadikan tersangka karena pacarnya tidak punya kejahatan apa pun dalam tindakan bunuh diri itu. Tapi tetap saja ada beban moral yang harus pacarnya tanggung.”
“Saat ini sengaja keluarga Mbak Asih mendatangi mertuanya si pacar karena sejak kemarin kami sudah memberitahu latar belakang bunuh dirinya mbak Asih. Biar ada beban moral pada pacarnya kalau orang tua Mbak Asih memberitahu kelakuan menantu mereka.”
__ADS_1
“Saya setuju. Biarin saja keluarga itu ribut. Kelakuan laki-laki seperti itu memang harus dibalas,” kata Erlina geram.
“Iya Bu. Biarkan saja istri dari pacarnya tahu bagaimana kelakuan suaminya. Saya yakin bukan cuma Mbak Asih saja tapi ada banyak perempuan yang jadi korbannya,” kata Herlina. Sebagai perempuan dia juga benci kelakuan seperti itu. Dia yang menyarankan ibunya Asih memberitahu mertua pacarnya Asih.
Setelah persoalan selesai tentu saja Suradi bisa pulang pulang ke rumah desa. Tidak ada lagi alasan dia stay di rumah kota. Erlina memang sudah sangat kangen pada rumah desanya.
“Ya ampun nggak nyangka ya Yah,” kata Fitri mendengar cerita tersebut dari Erlina dan Suradi. Memang keluarga Gendis sedang berkumpul di rumah Suradi sekalian tadi mereka bersih-bersih rumah yang satu minggu sudah tidak dihuni tersebut. Walau tetap disapu dipel oleh pembantu rumah Fitri, tapi tetap saja ada banyak kotoran yang harus dibersihkan.
Saat itu Herry dan Timah tidak ada karena tentu saja kedua anak itu masih sekolah
__ADS_1