
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Ibu kami sudah selesai periksa ya untuk bapak sampai saat ini semua baik. Tapi karena ini baru sadar, maka besok akan ada general check up baik CT Scan maupun yang lainnya. Jadi Bapak akan dibawa keluar oleh petugas. Seperti biasa Ibu tidak boleh ikut karena ibu sedang hamil,” kata dokter yang memeriksa Yanto barusan.
“Ibu tunggu di sini aja ya, tidak boleh ke ruang seperti itu karena itu tidak baik buat kehamilan Ibu.”
“Apa sehabis ini suami saya boleh duduk Dok?” tanya Fitri.
“Saya rasa tidak ada masalah karena tidak ada organ yang patah atau pun rusak Memangnya mau apa kok disuruh duduk?” Tanya Dokter
“Saya ingin ajak ke ruang poli kebidanan untuk melihat saya periksa kehamilan, apa boleh?” tanya Fitri, dia tentu tetap ingin membawa Yanto melihat pemeriksaan seperti keinginannya sejak Yanto masih koma.
“Hari ini Ibu jadwal periksa kehamilan?” Tanya Dokter.
“Iya benar Dok. Saya ingin suami saya melihat kondisi bayi kami karena ini pertama buat dia,” jelas Fitri.
“Boleh Bu, tapi jangan Ibu yang dorong ya. Ibu tidak boleh berat dan ingat Ibu juga tidak boleh terlalu emosi karena Ibu pernah dirawat lama. Ibu juga harus hati-hati kan?” kata dokter lagi. Dokter tentu ingat sebelumnya Fitri adalah pasien di sini.
Tentu saja percakapan itu membuat Yanto terkejut karena Fitri ternyata hamil tapi kondisinya sangat lemah.
“Baik Dok, saya akan bersama ibu saya yang akan mendorong atau sebentar lagi mungkin sopir saya atau sopir bapak saya yang akan mendorong suami saya ke ruang pemeriksaan kehamilan. Saya akan berupaya agar dia bisa melihat kondisi bayi di kandungan saya,” kata Fitri sambil terus menggenggam tangan Yanto. Yanto pun tentu saja tak mau melepaskan tangan istrinya, sesekali dia membawa tangan Fitri untuk dia cium. Dokter melihat itu, melihat cinta keduanya yang sangat besar.
__ADS_1
“Baik Ibu segitu aja yang bisa saya jelaskan. Mulai hari ini saya akan berikan obat melalui mulut juga ya, selain dari obat melalui infus karena selama ini obat hanya diberikan melalui infus.”
“Baik Dokter. Terima kasih, besok jam berapa ya jadwal kontrol Pak Bambang?” kata Fitri.
“Tergantung kesiapan ruangan Bu. Biasanya kita mulai jam 8 pagi,” suster menjawab mewakili dokter.
“Baik besok sebelum dijemput suami saya sudah akan rapi,” ucap Fitri.
“Biasanya memang selalu rapi kan? Ibu selalu merapikan bapak tiap pagi dan malam ketika hendak tidur,” kata suster memuji bagaimana Fitri merawat Yanto saat Yanto tak sadarkan diri.
“Kami permisi Bu, resepnya sudah ada di suster nanti langsung suster berikan apabila sudah ditebus,” dokter pun pamit.
“Baik, terima kasih Dokter,” kata Fitri.
Saat itu Suradi datang, dia langsung mendekati Yanto. Yanto memberi salim pada Suradi.
“Alhamdulillah, kamu sudah sadar,” ucap Suradi melihat kondisi menantunya. Walau terlihat masih pucat dan lemah tapi Yanto terlihat fresh.
“Berapa lama saya tidak sadar?” tanya Yanto.
__ADS_1
“Cukup lama, 32 hari,” jawab Suradi. Yanto kaget mendengar bahwa dia sudah tak sadar selama itu. Yanto memandangi wajah istrinya.
“Sudah enggak usah kamu pikirin semuanya, enggak ada yang perlu kamu tanggung,” kata Suradi. Dia mengerti arti kata-kata menantunya. Lelaki muda itu memikirkan biaya perawatannya.
“Jangan bikin kamu jadi sakit karena memikirkan biaya,” Suradi langsung menegur menantunya yang pasti akan segera minta pulang.
“Inggih Yah,” jawab Yanto lirih.
“Ayah, aku mau bawa Mas Yanto periksa kehamilan, tadi sudah izin dokter. Dokter bilang harus didorong bukan oleh aku. Aku akan minta bantuan suster supaya Mas Yanto duduk di kursi roda, Ayah dan Ibu yang dorong ya, karena aku tidak boleh dorong kata dokter,” kata Fitri. Dia tak malu meminta pertolongan ayahnya mendorong Yanto ke ruang poli kebidanan.
“Ya sudah, Ayah ambil kursi rodanya dulu karena dari tadi seharusnya kamu sudah kontrol kan?” kata Suradi.
“Iya Yah, pas aku mau berangkat kontrol Mas Yanto sadar. Jadi cukup lama juga aku terlambat. Tapi enggak apa-apa atau hari ini masih jadwal dokter tersebut,” balas Fitri sambil mengelap wajah Yanto dengan tissue basah dan menyisir rambutnya.
Suradi dibantu dua orang perawat mendudukkan Yanto di kursi roda lalu Suradi dan Erlina membawa Yanto ke poli kebidanan.
Fitri mengabarkan pada sopirnya bahwa dia dan Yanto berada di poli kandungan, dia takut Gendis mencari mereka di ruangan Yanto.
Fitri juga mengabari Burhan bahwa Yanto baru saja sadar. Kemarin saat Burhan datang menjenguk, Fitri sudah meminta nomor ponsel Burhan dan berjanji akan mengabari bila ada kabar terbaru tentang Bambang atau Yanto.
Burhan tentu saja bukan senang dan mengabari berita tersebut pada rekan-rekannya kalau Bambang telah siuman setelah 32 hari tak sadarkan diri.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok.
__ADS_1