
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Kita keluar yuk kasihan Daanish kelamaan dengan ayahmu dan Ibu mendengar sepertinya ada suara Yanto sebaiknya kita selesaikan agar tidak berlarut-larut.
“Aku belum siap bicara Bu. Enggak usah, aku bicara nanti aja aku belum mau bicara,” kata Fitri menolak bicara dengan suaminya. Dia masih sangat sakit hati.
“Enggak bisa Nduk. semakin lama kamu menyelesaikan masalah ini hatimu akan semakin sakit. Sebaiknya selesaikan saja jadi tidak ada ganjalan. Kita bisa cari solusi terbaik ayah dan Ibu tidak akan memihak pada kamu atau Yanto. Silakan kalian bicara berdua kami hanya akan mendengarkan ujar,” Erlina bijak.
“Kita bicaranya nanti aja ya Nto, sesudah makan malam juga sesudah salat Isya agar bisa lebih tenang. Kalau kita bicara sekarang terpotong oleh waktu salat magrib, juga waktu makan malam,” kata Suradi.
“Manut Yah, yang penting aku ingin menyelesaikan masalah ini. Jangan sampai dia semakin menduga yang tidak-tidak. Aku tidak mau rumah tanggaku hancur hanya karena salah pengertian seperti ini.”
Erlina menyiapkan makan malam karena habis ini mereka juga harus sholat maghrib berjamaah. Karena ada Daanish maka tentu gantian satu orang sholat belakangan.
“Ibu masak apa?” tanya Fitri.
“Tadi bikin lodeh rebung, karena di warung ada rebung. Lauknya biasalah tempe garit yang tidak pernah boleh lupa. Tapi juga ada ayam ungkep tinggal digoreng,” jawab Erlina.
__ADS_1
“Nasinya cukup enggak Bu? Takutnya nasinya enggak cukup.”
“Kebetulan Ibu baru masak saat kamu datang tadi. Biasanya untuk sampai besok pagi. Berarti sekarang cukup untuk kita berempat.”
“Oh ya sudah, aku takutnya enggak cukup aja,” Fitri mendengar tawa Daanish dan yang digoda oleh Yantodi teras belakang. Sementara Suradi sudah masuk sejak tadi.
“Yank Mas mau bicara. Mas enggak tahu kenapa sejak malam kemarin kamu marah. Mas sudah tanya berkali-kali kamu diam saja. Mas enggak ngerti kesalahan Mas di mana.”
“Lalu barusan sore kamu lari ke sini karena kamu melihat pesan dari Aisy di ponsel Mas. Kamu tahu itu artinya Mas sama sekali belum pernah punya nomor dia. Dia menghubungi Mas di nomor usaha kita karena dia dapatkan nomor itu dari pamannya. Orang yang menjual mobil yang tadi yang Mas datangi tapi belum transaksi karena harganya terlalu tinggi.”
“Itu aja yang Mas ingin katakan, bahwa Mas sama sekali tidak ada hubungan dengan orang lain termasuk Aisy. Dia ada foto di sebelah Mas karena saat itu dia habis menaruh minuman lalu duduk di situ. Kami juga tidak berdekatan dan habis itu Mas pulang tidak bicara apa pun.
“Astagfirullah jadi itu yang bikin kamu curiga dan cemburu sama Mas? Karena Mas senyum-senyum saat melihat kamu masak?” Kalau tak takut Fitri tambah marah, ingin rasanya Yanto tertawa terbahak-bahak. Gara-gara dia senyam senyum dunianya sejak kemarin langsung kelabu.
“Kamu tahu kenapa Mas senyum-senyum sore kemarin? Mas ingat masa indah kita saat kamu memaksa nyuapin salad. Kamu tahu bagaimana Mas tidak suka makanan sehat itu awalnya. Tapi dengan telaten kamu selalu nyuapin tiap hari saat kita berdua di Jogja dulu. Itu kenangan manis yang Mas ingat-ingat sehingga membuat Mas tersenyum.”
“Tapi buktinya kamu sepanjang malam malah chat, enggak mungkin kan kalau kamu enggak tahu nomor dia?” Fitri masih saja tetap ngotot.
“Makanya kalau apa-apa ditanya dulu Yank.”
“Sepanjang malam itu kamu acuhin Mas. Mas ngomong enggak pernah digubris. Bikin Mas enggak bisa tidur. Karena Mas enggak bisa tidur Mas akhirnya cari-cari barang dagangan.”
__ADS_1
“Kamu ingat enggak handphone mana yang Mas pegang malam itu enggak mungkin kan pakai handphone dagang karena di situ kualitasnya lebih jelek malam itu Mas search di handphone pribadi.”
“Dan Mas hubungi nomor tersebut pakai nomor usaha, ini saat Mas telepon Bapak tersebut minta alamat rumahnya. Enggak ada makan siang atau apa pun walau Mas enggak disediain makan siang sama istri Mas. Mas pulang juga belum makan siang.”
‘Astaghfirullah aku sangat berdosa, membuat suamiku tidak makan siang,’ sesal Fitri dalam hatinya.
“Saat Mas lagi ngecek mesin Aisy datang, dia mengantarkan pesanan ibunya buat adik ipar ibunya yaitu istri penjual mobil yang Mas datangi. Jadi dia keponakan orang tersebut. Mas tidak pernah janjian dengan Aisy, itu kejadian yang sebenarnya.”
“Kalau Mas salah, Mas minta maaf,” ucap Yanto tulus. Erlina dan Suradi walau tak mendengar jelas tapi karena tak mendengar bentakan, isak, atau teriakan dari anak dan menantunya merasa lega.
“Aku yang minta maaf kalau memang kejadiannya seperti itu. Ternyata kecurigaanku yang berlebihan,” tak malu Fitri mengakui kesalahannya. Sambil memeluk suaminya dia pun mengambil ponsel yang buat usaha.
Nah lhoooooooo, mau apa ya mbak Fitri?
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok.
__ADS_1