BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
DIAWALI DENGAN CURHAT


__ADS_3

“Ayah sering lembur daripada di rumah cuma dapat omelan dari Ibu,” jelas Suradi, dia lalu mengingat kejadian puluhan tahun lalu.


“Bapak lembur lagi?” tanya seorang pegawai.


“Iya,” jawab Suradi muda.


“Ini tehnya Pak. Saya siapkan lebih dulu.” kata pegawai itu.


“Terima kasih ya,” jawab Suradi.


“Mari Pak saya pulang duluan,” pamit gadis itu.


“Ya silakan,” lalu Suradi menekuni lagi file-file yang harus dia kerjakan. Hampir dua minggu Suradi lembur seperti itu. Ditemani teh sebagai teman kerja. Kadang ada satu potong snack atau tahu goreng atau pisang rebus atau roti tergantung stok yang ada di kantin.


Sudah terbiasa ada teh dan sepotong snack, hari itu Suradi merasa kehilangan karena tidak ada teh.


“Halo, Ningsih ke mana ya? kok hari ini aku nggak dibikinkan teh untuk teman lembur ku?” kata Suradi. dia pun mencari ke kantin.


“Mbak Ningsih pulang Pak. Ibunya sakit,” kata pegawai kantin lainnya.


“Oh begitu, memangnya kampungnya di mana?”

__ADS_1


“dia sih nggak jauh Pak. Masih di sini juga. Maksudnya dia barusan pulang, bukan pulang ke kampung.”


“Saya pikir dia pulang ke kampung. Rupanya dia barusan pulang cepat, begitu maksudnya?”


“Iya Pak, katanya mau bawa ibunya ke rumah sakit, karena ibunya sakit kepala.”


“Bagaimana sakit ibumu?” tanya Suradi keesokan harinya.


“Baik Pak. Sudah membaik. Kemarin memang ibu mengeluh. Jadi saya lari pulang. Saya lupa tidak minta pada pengganti saya untuk menyiapkan teh Bapak.” ucap Ningsih.


“Sampai Bapak tanya ke kantin ya kemarin?”


“Iya, karena sudah terbiasa ada teh saat saya kerja,” jawab Suradi.


“Kenapa sih Bapak kok rajin banget lembur? Memang nggak kasihan ibu di rumah?” kata Ningsih.


“Saya malah bosan di rumah, cuma dimarahin sama istri saya,” kata Suradi mulai mengeluhkan rumah tangganya yang membosankan.


“Kenapa Pak?”kata Ningsih bersimpati.


“Biasalah, dia stres karena bayi kami kemarin keguguran lagi.

__ADS_1


Sore itu hujan. Sudah hampir magrib. Biasanya Suradi  kalau tidak lembur pukul 03.00 pulangnya. Kalau lembur dia pulang jam 06.00.


Suradi melihat di halte depan kantornya Ningsih masih berteduh. Dia bawa payung kecil tapi rupanya tak ada angkot yang bisa dia tumpangi.


“Ayo ikut saya,” ajak Suradi.


“Nggak apa-apa Pak. Saya nanti aja belakangan saja,” jawab Ningsih.


“Saya ada satu jas hujan cadangan kok. Kamu bisa pakai jas hujan itu,” jawab Suradi. dia tentu saja zaman segitu masih pakai motor kecil bukan seperti sekarang.


Akhirnya setelah maju mundur Ningsih mau diantar pulang oleh Suradi.


Sejak itu Suradi rajin antar jemput Ningsih. Ningsih pun tidak menolak sama sekali.


Hubungan mereka sudah jadi rahasia umum di kantor seorang pegawai kantin sekarang sering diantar jemput oleh Pak Suradi bagian administrasi keuangan.


“Sampai suatu ketika ayahnya Ningsih minta pada Ayah untuk memperjelas hubungan kami. Ayah baru tersadar bahwa selama ini Ayah telah salah langkah karena tidak mungkin Ayah menduakan ibumu karena Ayah juga tak ingin anak Ayah nanti diduakan oleh suaminya. Ayah langsung mundur dari kantor itu dan melupakan dia serta memperbaiki rumah tangga Ayah.”


“Sejak itu apa pun yang terjadi Ayah selalu cerita sama Ibu. Kami selalu berupaya untuk menghangatkan pernikahan kami agar jangan terjadi kebosanan juga rasa saling menyalahkan. Seperti saat Ibu depresi dulu.”


“Seharusnya saat Ibu depresi, Ayah membantunya untuk bangkit bukan malah marah-marah dan meninggalkannya. Depresi itu kan nggak bisa ditolak. Kalau tidak dibantu ya dia pasti akan tambah terpuruk. Itu kesalahan Ayah yang sampai sekarang tak bisa Ayah maafkan. Walau Ibu sudah memaafkan,” kata Suradi.

__ADS_1


“Itu makanya Ayah kaget waktu kasus kamu di Bogor. Karena saat itu setahu Ayah kalian baik-baik saja. Ayah nggak tahu kasusnya beda dengan Ayah. Kalau Ayah kan memang Ayah salah bermain dengan orang lain, beda dengan kamu yang waktu itu tidak bermain sama sekali.”


__ADS_2