
“Sampai semarah itu kamu sama Mas? Enggak mau bicara sama sekali?” tanya Yanto lembut.
“Aku enggak marah dan enggak ada yang perlu dibicarakan,” jawab Fitri sambil mengusap-usap punggung Daanish agar cepat terlelap.
Daffa sudah terlelap sejak tadi dan Daffa tadi tidak mau tidur di kamar Fitri, dia tidur bersama dengan Timah dan Gendis.
“Ada Yank, ada yang perlu dibicarakan. Mas mau jelasin apa yang kamu lihat tadi di tata usaha sekolahan,” jawab Yanto.
“Aku enggak lihat apa-apa,” jawab Fitri ketus.
“Kalau kamu enggak lihat apa-apa, kenapa kamu pergi dan kenapa ponsel kamu matikan sepanjang hari?” tembak Yanto langsung ke sasaran.
Fitri tentu saja terjebak dengan kata-katanya tadi.
“Dengerin dulu, dia itu teman SD dan SMP Mas. Kami sangat akrab, namanya anak kecil enggak pernah punya niat apa pun. Mungkin kamu salah tangkap saat melihat kami tertawa,” jelas Yanto.
Fitri tidak mau mendengarkan apa pun. Benar-benar dia tulikan telinganya dan berupaya untuk tidur. Dia kosongkan pikirannya. Tak lama pun dia benar-benar terlelap.
Yanto tak percaya Fitri benar-benar bisa tidur saat dia masih ingin bicara. Biasanya kalau ada persoalan Fitri itu tak bisa tidur.
“Begitu marahnya sehingga kamu mengalahkan semua rasa sakit yang biasa kamu alami ketika kamu marah.”
__ADS_1
“Biasanya kalau kamu ada persoalan kamu tak bisa tidur. Berarti sekarang kamu super sakit, sehingga kamu kalahkan rasa tak bisa tidurnya dengan memaksakan diri untuk tidur. Maafkan Mas yang telah menyakitimu Yank.”
Sejak tadi Yanto sudah mematikan ponselnya. Dia takut Fitri mendengar teleponnya terus berdering dari nomor yang selalu baru karena nomor Tini sudah dia blokir dan tiap ganti nomor selalu diblokir lagi oleh Yanto.
Tini semakin kalang kabut, nomornya sudah di blokir oleh Bambang lalu dia ganti sampai 4 kali nomor, tetap aja semuanya di blokir. Padahal dia ingin minta tolong pada Bambang agar menjelaskan pada Pak Heru bahwa mereka tak ada apa-apa sama sekali. Tini hanya berupaya bersikap akrab seperti ketika mereka SD dulu. Bahkan mereka sering mandi di sungai bersama. Tini tak sadar keakraban anak kecil tak bisa disamakan sesuai dengan perubahan waktu.
Tini takut ancaman Pak Heru tadi. Ketua yayasannya itu akan memecatnya tanpa SP sama sekali bila rumah tangga Bambang bermasalah dengan istrinya.
Tentu saja Tini sangat ketakutan, karena bekerja di yayasan ini sangat sulit. Dapat SP aja sudah sangat menakutkan terlebih kalau langsung dipecat. Di usianya sekarang tentu harus mencari pekerjaan dari 0 sangat menyiksa.
Heru ingat kejadian tadi pagi di sekolah pada saat bertemu dengan Fitri.
“Bagaimana aku bisa melupakan kamu? Kamu adalah penyelamat adikku walaupun akhirnya dia tetap tak selamat juga,” ucap Heru sambil memandang foto tua. Ada tiga anak kecil di foto itu. Dirinya dan kedua adiknya.
Di depan IGD Heru melihat seorang siswi SMA yang seragamnya sama dengan dirinya sedang berada di IGD. Baju seragamnya penuh darah, tapi Heru tak memperhatikan dan mempedulikan siapa siswa tersebut. Dia hanya ingin tahu bagaimana nasib adik bungsunya yang baru kelas 6 SD yang katanya korban tabrak lari.
“Saya ingin tahu keadaan Puji Kusumastuti,” tanya Heru.
“Bisa beritahu ciri-cirinya. Karena nama itu tak ada di data kami.” jawab petugas dengan ramah walau yang bertanya anak SMA.
“Anak perempuan kecil berusia 12 tahun, korban tabrak lari,” jawab Heru.
__ADS_1
“Adik anda sedang di ICU. Harap anda segera mengisi form data pasien. Kami juga butuh darah untuk transfusi adik anda.”
“Baik.”
“Suster saya boleh pulang?” tanya siswi yang bajunya penuh darah saat itu berdiri di sebelahnya Heru
“Sebentar Mbak. nanti kasihan anak kecil yang tadi Mbak tolong kalau keluarganya belum datang.”
“Katanya keluarganya sudah datang Suster. Saya dengar ada kakaknya datang,” kata perempuan berseragam SMA itu.
“Belum Mbak. Ini formnya belum diisi sama sekali kok.”
“Baiklah saya tunggu, kalau keluarganya sudah datang saya pulang ya Mbak ini eh Suster. Ini sudah terlalu sore,” kata gadis itu sambil memperhatikan ponselnya.
“Suster saya bisa isi form atas nama adik saya yang kecelakaan tabrak lari?” tanya Heru pada petugas di sebelah petugas yang gadis tadi tanya.
“Oh form untuk anak itu. Ini formulirnya silakan diisi selengkapnya. Dan Mbak itu yang menolong adik anda membawanya ke sini dengan mobilnya.”
Heru memandang perempuan berseragam SMA yang sama dengannya. Heru menghampiri dan berkenalan. Sejak saat itulah Heru menyayangi Diah Ayu Fitri sebagai adiknya.
Adik Heru tak selamat, dia meninggal setelah 10 hari dirawat di rumah sakit.
__ADS_1