
Satu minggu berlalu dari kasusnya Tini, sudah dua hari Fitri dan Yanto kembali ke rumah desa. Fitri bicara seperlunya dengan Yanto. tidak ada lagi ramah tamah seperti biasa. Dia selalu menjawab dengan manis ketika Yanto bertanya tetapi tidak pernah bicara lebih dulu.
Yanto merasakan hal itu, sehingga dia pun menahan diri tak pernah sekali pun dia minta jatah suami istri. Dia tahu diri, Fitri belum mau memaafkan. Hubungan suami istri itu harus berdasarkan suka sama suka, bukan hanya kebutuhan dirinya sendiri.
Tapi itu membuat kesalahpahaman lebih dalam lagi. Fitri menganggap Yanto tak mau lagi menyentuhnya karena sudah punya yang lain. Hubungan semakin parah karena kecurigaan Fitri seperti itu.
“Aku akan tetap diam, karena aku sudah bukan apa-apanya. Silakan saja dia berbuat apa pun dengan perempuan tersebut. Aku yakin mereka berhubungan sangat intens dan spesial sehingga mas Yanto sama sekali tak mau lagi menyentuhku.”
“Kalau dengan Yani yang sudah sah secara agama saja, dia tidak mau menyentuh, tetapi dia mau menyentuh Tini dengan sangat akrab pasti hal itu sudah biasa mereka lakukan di tempat yang pribadi.”
“Buktinya selama ini dia tetap tak mau menyentuh aku, sudah jelas ‘kan karena dia punya tempat pelampiasan yang lainnya.”
“Padahal biasanya tiap malam dia tak pernah libur kecuali bila aku sedang menstruasi.”
__ADS_1
Sebagai perempuan tentu Fitri juga membutuhkan hal itu. Untungnya dia punya pelampiasan lain yaitu kedua putranya. Fitri menyibukkan diri dengan mengurus kedua putranya.
Herry sudah punya motor sendiri, motor yang lama digunakan Fitri untuk ke warung atau berangkat sekolah. Wlau belum ada SIM tapi Herry boleh mengantar Timah hingga sekolahnya.
Hari ini pagi-pagi saat Yanto sedang sibuk mengurusi Daanish, Fitri langsung melarikan motornya mengantar Daffa.
Tentu saja Daffa senang duduk di motor hanya berdua dengan Fitri. Dia bisa melihat pemandangan lebih jelas dan merasakan angin tidak seperti bila diantar mobil. Daffa senang memakai helm kecil miliknya. Untuk seorang anak itu hal yang lebih menarik daripada duduk di mobil. Seorang anak itu tak mengerti tentang kemewahan.
“Daffa dan Fitri ke mana Bu?” tanya Yanto yang baru selesai mendadani Daanish.
“Astagfirullah, dia enggak nunggu aku? Padahal aku lagi ngurusin Daanish.”
Gendis semakin sedih melihat kehidupan rumah tangga putra sulungnya itu.
__ADS_1
“Ibu pikir kamu tahu,” jawab Gendis.
“Enggak Bu, aku enggak tahu sama sekali,” jawab Yanto. Dia menyerahkan Daanish pada mbok Yati untuk diberi sarapan.
“Dia makin menghindar. Walau kalau aku tanya dia jawab dengan manis, tapi aku merasa kok dia enggak pernah mau bicara dengan aku lebih dulu.” Yanto mengambil piring sarapannya.
“Ibu enggak bisa bicara apa pun karena pada kami semua dia juga masih baik dan sopan seperti biasa. Tak pernah satu kali pun dia membicarakan keburukanmu.”
“Ibu malah takut dengan kondisi seperti itu, dia memendam perasaan yang sangat sakit. Itu akan lebih bahaya buat kesehatan mentalnya.”
“Aku harus bagaimana Bu? Aku sudah bicara baik-baik, aku sudah katakan aku minta maaf. Aku sudah katakan aku tidak ada hubungan apa pun dengan Tini,” keluh Yanto.
“Apa pun yang kamu katakan, itu berbeda dengan yang dia lihat. Jelas-jelas seperti yang kamu ceritakan kemarin. Kamu membiarkan perempuan lain bergelayut di lenganmu dan menyandarkan kepala di lenganmu. Perempuan mana yang akan menerima hal itu dilihat di depan mata kepalanya sendiri? Terlebih kejadian itu di ruang umum. Siapa pun pasti berpikir negatif. Di tempat umum aja berani seperti itu bagaimana bila di tempat khusus?” jawab Gendis.
__ADS_1
“Sampai saat ini, dia tak pernah mau bicara soal Tini. Kalau Ibu tanya, dia langsung pergi. Sepertinya nama Tini itu hantu. Atau Tini itu virus mematikan yang harus dia hindari.”